
Michelle memberikan tur singkat pada Lucius. Di rumah mewah dengan 6 buah lantai itu, terdapat 27 penghuni.
4 diantaranya tentunya adalah keluarga Lucius itu sendiri ditambah satu orang lagi yaitu Carmilla. Sedangkan sisa 22 diantarnya yaitu pekerja dalam villa ini yaitu 8 orang penjaga dan 14 orang pelayan.
Lantai pertama dari villa ini merupakan ruang tamu sekaligus aula utama untuk mengadakan pertemuan atau kebutuhan lainnya.
Kemudian lantai kedua merupakan gudang suplai bahan-bahan sekaligus dapur. Termasuk juga ruang makan untuk seluruh keluarga Lucius dan juga pekerja yang tinggal di villa ini.
Lantai ketiga dan lantai keempat merupakan tempat tinggal bagi para pekerja di villa ini. Pada kedua lantai itu terdapat tepat 16 buah kamar, sehingga para pekerja harus berbagi kamar untuk 2 orang.
Lantai kelima merupakan tempat tinggal bagi keluarga Lucius. Di lantai ini terdapat 4 buah kamar mewah yang berukuran besar.
Empat buah kamar itu sudah pas untuk keluarga Lucius ditambah dengan Carmilla, dimana masing-masing memiliki kamar mereka sendiri kecuali Ayah dan Ibu Lucius yang tinggal sekamar.
Terakhir lantai keenam....
Adalah tempat kerja sekaligus tempat berlatih. Di lantai ini terdapat banyak fasilitas latihan seperti boneka kayu, berbagai peralatan sihir, juga perpustakaan kecil.
Terdapat pula sebuah ruangan yang biasanya digunakan oleh Ayah Lucius bekerja. Lengkap dengan meja yang besar dan beberapa lemari untuk menyimpan berbagai berkas yang dibutuhkannya.
Saat selesai memberikan tur singkat itu....
"Jadi, siapa sebenarnya wanita ini?" tanya Michelle dengan tatapan yang tajam. Sedari tadi Ia terus mengabaikan keberadaannya. Tapi karena wanita itu terus mengikuti langkah kaki Lucius, membuat Michelle sedikit penasaran.
"Perkenalkan. Guru ku, Carmilla." balas Lucius sambil mengarahkan kedua tangannya pada Carmilla.
Carmilla membalasnya dengan sedikit membungkukkan badannya sembari sedikit mengangkat roknya dengan kedua tangannya.
"Salam kenal, Michelle."
"Kakanda, kau yakin dia adalah guru mu? Tampangnya sangat tidak meyakinkan...." bisik Michelle pada Lucius.
"Ku dengar dari Lucius kau berbakat dalam sihir air. Bagaimana jika kau coba melawanku?" tanya Carmilla dengan senyuman lebar di wajahnya.
"Eh? Apa yang kau katakan?!" teriak Lucius panik.
"Boleh saja. Aku juga tak berniat membiarkan kakak ku diajari guru tak jelas seperti mu." balas Michelle dengan tatapan yang tajam.
Segera setelah itu, Michelle mulai mengenakan sarung tangan hitam dengan alur yang cukup rumit di bagian punggung tangannya. Sebelum akhirnya berjalan ke tengah tempat latihan kecil di lantai 6 ini.
"Aku mulai suka dengan tempat ini, jadi tolong jangan merusaknya." ucap Michelle sambil melambaikan tangannya ke arah Carmilla. Memintanya untuk segera bersiap.
"Aaah, soal itu? Tenang saja, aku juga suka tempat ini. Lagipula.... Aku tak perlu menggunakan sihir penyerangan untuk mengalahkanmu." balas Carmilla dengan angkuh seperti biasanya.
"Apa kau bilang? Meski begini, setidaknya aku setara dengan penyihir tingkat B. Aku tak yakin itu adalah pilihan yang bijak."
Michelle merasa sedikit marah setelah diremehkan seperti itu.
__ADS_1
Sementara itu Lucius hanya bisa melangkah pergi. Menonton pertarungan ini dari samping tempat latihan itu.
"Begitu kah? Kalau begitu, buktikan saja."
'Srrruuuuggg!!!'
Carmilla terlihat menyeret sebuah kursi kayu ke tengah tempat latihan itu, lalu duduk dengan santai di atasnya.
"Coba buat aku terjatuh dari kursi ini. Aku hanya akan duduk diam di sini jadi berjuanglah sesuka hati mu." ucap Carmilla dengan tatapan yang terkesan sangat meremehkan gadis kecil itu.
"Jangan salahkan aku jika kau terluka."
Dengan cepat, Michelle segera mengaktifkan sihirnya. Pada punggung sarung tangannya itu, sebuah formasi sihir mulai terbentuk dan menimbulkan cahaya biru yang indah.
Dalam sepersekian detik, Michelle berhasil menembakkan sebuah bola air tepat ke wajah Carmilla.
'Bluuuukkkk!!!'
Bola air itu menyelimuti kepala Carmilla seutuhnya. Meskipun tak memberikan luka yang tak seberapa, tapi siapapun pasti akan mati dalam 3 menit setelah menerima serangan itu karena tak lagi bisa bernafas.
'Menempelkan formasi sihir di sarung tangan?! Bukankah itu sama seperti membuat Arcana? Michelle kau....' teriak Lucius terkejut dalam hatinya setelah melihat kemampuan adiknya.
Karena Michelle belum cukup umur kala itu, orangtuanya hanya mampu untuk mendatangkan guru sihir paruh waktu setiap harinya. Semuanya untuk melatih dan mengasah bakat Michelle yang jauh melampaui dirinya itu.
Tapi Lucius sama sekali tak menyangka bahwa bakat Michelle telah sebesar ini.
"Menyerah lah atau kau akan mati." ucap Michelle dengan penuh percaya diri. Tangan kanannya masih mengarah kedepan dengan formasi sihir yang masih aktif dan bercahaya di sarung tangannya itu.
"Hmm? Kupikir aku meminta mu untuk membuatku terjatuh dari kursi ini? Kalau terlalu sulit, buat saja aku berdiri dari kursi ini." balas Carmilla masih dengan wajah santainya.
"A-apa?!" teriak Michelle panik.
Yang membuatnya terkejut bukanlah sikap santai dari Carmilla. Siapapun yang menerima sihir ini selalu bisa bersikap santai selama satu menit sebelum akhirnya memohon agar sihir itu dilepas.
Tapi masalahnya....
Suara Carmilla yang terdengar cukup jelas, bahkan bisa berbicara sekalipun sudah merupakan keanehan dalam situasi ini.
Saat Michelle melihatnya dengan lebih jeli lagi, Ia dapat melihatnya. Sebuah lapisan sihir udara yang melindungi keseluruhan kepala Carmilla. Membuatnya sama sekali tak terpengaruh oleh sihir Michelle itu.
'Menciptakan pelindung dengan sihir udara? Dalam waktu sesingkat itu? Tunggu! Jika seperti itu maka....'
Sebelum Michelle sempat menyelesaikan apa yang ada di pikirannya, Carmilla kembali berbicara seakan-akan bisa membaca pikirannya.
"Lagipula, sarung tangan mu itu terlalu jelas. Kau sebaiknya menutupinya dengan sesuatu untuk menyembunyikan formasi sihir sesederhana itu. Tentu saja siapapun bisa melihatnya dan mengetahui bahwa itu bentuk lanjut dari sihir bola air." jelas Carmilla panjang lebar.
'Deg! Deg!!'
__ADS_1
Jantungnya mulai berdebar dengan sangat kencang. Hanya dalam sekejap, Carmilla bisa mengetahui sihir apa yang akan digunakannya untuk menangkis sihir miliknya.
'Sreeeettt!!!'
Dalam amarah, Michelle segera mengepalkan tangan kanannya sembari terus mengalirkan Mana ke arah formasi sihir di sarung tangan itu.
"Oooh, kau membuatnya lebih ketat? Sedikit lebih kuat lagi mungkin aku akan merasa nyaman dalam pijatan air ini." balas Carmilla sambil tertawa ringan.
'Kenapa?! Apakah karena aku kelelahan?! Kenapa sihir ku tak bisa seperti biasanya?!'
Saat Michelle memperkuat sihirnya sambil seakan-akan meremas kepala lawannya, sihir airnya akan menjadi jauh lebih mematikan dengan pusaran air yang kencang. Memaksa banyak air itu masuk ke dalam paru-paru dan organ dalam lawannya.
Tapi ini?
Yang terlihat hanyalah air yang seakan-akan bergerak secara perlahan memijat kepala Carmilla itu.
Bahkan Carmilla terlihat mulai menikmatinya.
"Kau ingin tahu kenapa sihir mu melemah? Bodoh, lihat ada apa di bawah kaki mu." ucap Carmilla sambil terus tertawa.
Saat Michelle menengok ke bawah, Ia melihat sebuah formasi sihir yang menyerupai sebuah pusaran angin yang berpusat pada dirinya sendiri.
Lucius yang sedari tadi telah menyadarinya juga terkejut. Apalagi setelah melihat efeknya dengan menggunakan mata sihirnya itu.
"A-apa ini?" tanya Michelle dengan suara lirih. Tubuhnya terasa begitu lemas tak lama kemudian. Setelah itu, sihir bola air miliknya pecah begitu saja. Melepaskan Carmilla yang tak pernah sedikit pun terancam oleh sihir itu.
Di mata Lucius, terlihat dengan sangat jelas bahwa Mana milik Michelle terdorong keluar terus menerus secara perlahan. Sedikit demi sedikit....
Mana Michelle terus terkuras. Membuat sihirnya sendiri melemah sepenuhnya.
'Sihir sekuat ini.... Kenapa Carmilla tak pernah mengajarkannya padaku?' pikir Lucius kebingungan.
"Mana Syphoon. Sihir tak berguna yang hanya bisa digunakan jika lawan tidak bergerak untuk waktu yang cukup lama. Itulah kenapa aku tak pernah mengajarkanmu sihir ini, Lucius." ucap Carmilla sambil melirik ke arah Lucius yang masih dalam syok itu.
"Eh? Tak berguna? Darimana nya?"
"Tentu saja karena lawan harus diam di tempat, apalagi? Lagipula areanya terlalu kecil dan efeknya terlalu lambat. Memvisualisasikan formasinya juga merepotkan. Akan lebih mudah jika menghancurkan kepala lawan dengan sihir lainnya." balas Carmilla yang segera menghapuskan formasi sihir itu.
Ia bangkit dan berjalan secara perlahan ke arah Michelle. Mengulurkan tangan kanannya, membantu gadis kecil itu untuk berdiri.
"Dengan ini, kau mengerti bahwa aku guru yang layak bukan? Jika kau minta maaf, aku akan menjadikanmu sebagai muridku juga." ucap Carmilla dengan senyuman ramah di wajahnya.
Michelle yang baru saja tertampar oleh betapa luasnya dunia ini, dengan rendah hati....
"Maaf.... Aku tak tahu sihir seperti itu bahkan ada di dunia ini...."
"Tidak apa. Pilihanmu untuk menggunakan sihir barusan juga cukup logis. Efektif dalam mengalahkan lawan tapi juga sangat hemat dalam hal penggunaan Mana."
__ADS_1
Setelah menjabat tangan Carmilla, Michelle segera menyadari atas seberapa besar Mana yang dimiliki oleh wanita itu.
Sosok wanita yang sebelumnya diremehkannya.