Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 32 - Jarak


__ADS_3

Setelah menerima serangan kuat dari Ironclad, Lucius hanya bisa berdiri dalam diam. Seluruh kehidupannya seakan-akan terlintas di kepalanya.


Mulai dari saat Ia masih kecil, hingga saat bertemu dengan Carmilla pertama kali.


Seakan-akan....


Ini akan menjadi akhir dari hidupnya.


'Bagaimana, Lucius? Sekarang kau paham kenapa aku melarangmu bergantung pada sihir iblis?' tanya Carmilla dengan nada yang begitu bahagia.


Saat ini, waktu seakan berjalan begitu lambat bagi Lucius. Bahkan satu detik saja terasa seperti beberapa menit baginya.


Memungkinkannya untuk memahami dan menjawab pertanyaan Carmilla dengan begitu cepat.


"Ya, aku mengerti."


Apa yang dimengerti olehnya?


Yaitu sebuah kenyataan bahwa sihir iblis sekalipun takkan mampu untuk memperpendek jarak kekuatan antara Lucius dengan Ironclad yang begitu jauh ini.


Jika diibaratkan, menggunakan sihir Iblis untuk menghadapi Ironclad....


Sama seperti menggunakan sebuah tangga kayu untuk menyeberangi lembah yang besar.


Tak peduli seberapa banyaknya tangga yang dikumpulkan oleh Lucius, semuanya hanya akan jatuh ke dalam jurang yang tak terlihat dasarnya itu.


Secara perlahan, Lucius mulai melepaskan pegangannya pada pedang yang telah patah itu. Lalu mengarahkan tangannya pada dadanya.


Tanpa Lucius sadari, Ia mulai menggertakkan giginya karena kesal.


Ini adalah kali kedua Lucius merasakan hal ini.


Sebuah perasaan yang dipenuhi oleh keputusasaan.


'Klaaaaanggg!!!'


Di kejauhan, Ironclad terlihat melemparkan pedang besarnya ke tanah sembari mengepalkan kedua tangannya.


Ia berdiri dengan posisi dua tinjunya kedepan, siap untuk melanjutkan pertarungan.


"Bocah! Jangan katakan, bahkan setelah aku membuang senjataku kau masih tak bisa melawanku?" tanya Ironclad dengan senyuman yang lebar di wajahnya.


'Berisik.'


"Ironclad, kurasa itu sudah cukup." ujar Sera sambil menarik busurnya. Bersiap untuk mengarahkannya pada rekannya itu sendiri.


Sebuah upaya untuk menghentikan serangan Ironclad terhadap Lucius.


'Berisik....'


"Jangan ganggu duel antar pria. Tenang saja, sebelum sesuatu yang buruk terjadi, aku akan menghentikannya." ucap Drakon dengan bangga.


Ia terlihat memukul dadanya beberapa kali dengan sarung tangan besi hitam itu.


'Berisik!'


"Ya-yah.... Selama masih hidup, ku rasa aku bisa menyembuhkannya?" ucap Lyra sambil menggenggam erat tongkat sihirnya.


Cahaya kehijauan terlihat mulai muncul memenuhi kristal di ujung tongkatnya itu.


Tapi....


..."BERISIIIIIIK!!!"...


Teriakan Lucius yang begitu keras membuat seluruh anggota kelompok Ironclad terdiam.


Tatapan mata mereka semuanya tertuju pada sosok Lucius.


Sosok seorang bocah laki-laki yang bahkan masih belum menginjak usia 17 tahun itu, kini terlihat seperti seekor monster yang siap memburu mangsanya.


Mulai dari sorot matanya yang begitu tajam, nafasnya yang begitu cepat dan berat, serta posisinya yang siap untuk bertarung kapan saja.


"Hah.... Hah.... Hah.... Semuanya.... Semuanya berbakat kecuali aku? Kenapa?! Kenapa?! Bukan hanya para bangsawan di akademi, tapi di tengah hutan seperti ini juga?! Sementara itu aku?! Kenapa?! KENAPA?!!!" teriak Lucius keras.


Ironclad yang mendengar dan melihat sikap Lucius mulai menurunkan kewaspadaannya. Dalam hatinya timbul sedikit rasa bersalah karena menyerang bocah itu.


'Sreeett!'


Segera setelah menurunkan kedua lengannya, Ironclad berniat untuk meminta maaf.

__ADS_1


"Aaah, maaf. Aku tak bermaksud untuk...."


'BRAAAAAAAAAAKKKK!!!'


Tanpa satu detik pun kesempatan untuk bereaksi, pukulan Lucius mengenai tepat di dada Ironclad.


"Kkuuughhhh!!!"


'BLAAAARRR!!! BRAAAAKKK!!!'


Pukulannya dengan cepat melemparkan tubuh Ironclad sejauh puluhan meter. Menubruk dan menghancurkan beberapa pohon yang dilaluinya.


Melihat pemandangan itu, ketiga rekan Ironclad terlihat begitu terkejut. Bahkan Sera mulai menurunkan busurnya. Menghapus niatnya untuk menyerang Ironclad itu sendiri.


"A-apa apaan itu?!" tanya Lyra panik.


Tentu saja. Siapapun yang melihat tubuh ramping Lucius takkan menduga Ia memiliki kekuatan sebesar itu.


Tapi bagi petarung jarak dekat seperti Drakon, Ia bisa melihat kenyataannya.


"Sihir, ya?" ujar Drakon.


Di kejauhan, Ironclad terlihat mulai bangkit dari tumpukan kayu dan dedaunan. Tubuhnya nampak terluka cukup parah, namun tak ada luka fatal yang membahayakan nyawanya.


Karena itulah....


"Buahahaha!!! Bocah! Apa-apaan itu barusan?! Sudah ku duga kau bukan orang biasa karena mampu melawan kelompok serigala sendirian! Tapi tak ku sangka akan sejauh ini!" teriak Ironclad sambil tertawa puas.


Situasi saat ini sangat lah berbeda dengan semua yang pernah dialami oleh Lucius.


Bahkan saat melawan Troll beberapa waktu yang lalu, Lucius tahu bahwa dirinya pasti akan menang jika menggunakan sihir iblis.


Tapi ini?


Jika Lucius berniat menggunakan sihir iblis melawan Ironclad, tangannya akan terpotong sesaat sebelum sihirnya berhasil diaktifkan.


Atau lebih buruk lagi, kepalanya mungkin hancur oleh serangan cepat dari Ironclad.


'Tak hanya kuat, tapi dia juga cepat. Jauh melebihi dirimu. Saat seperti itu, apa yang terjadi?' tanya Carmilla dengan nada yang begitu bahagia.


Bahkan tanpa wujud fisik sekalipun, Lucius seakan-akan dapat melihat sosok Carmilla yang tersenyum sembari mengatakan hal barusan.


Meski begitu, kedua matanya masih terus terpaku pada sosok Ironclad di kejauhan. Tak sedikit pun melewatkan gerakan yang dibuat olehnya.


'Itu benar. Lalu, apa yang harus dilakukan? Apakah Mana yang kau miliki tak lagi berguna?' tanya Carmilla sekali lagi, kini dengan nada yang terdengar semakin bahagia.


Lucius terdiam sejenak sambil mengepalkan tangan kanannya sebelum menjawab.


"Menukar tubuh fisik dengan kekuatan sesaat."


^^^'Sekalipun itu menyakitkan?'^^^


"Sekalipun tubuh ku hancur."


^^^'Kenapa?'^^^


"Karena aku ingin tetap hidup."


^^^'Meskipun hanya untuk beberapa saat saja?''^^^


"Meskipun hanya untuk satu detik saja."


Mendengar seluruh jawaban dari Lucius, Carmilla tersenyum puas. Melihat bahwa orang yang dipilihnya, pada akhirnya telah memahami apa yang harus dilakukannya.


Untuk menghadapi dunia yang kejam ini....


Untuk menghadapi mereka yang diberkahi oleh langit....


Dan untuk menghadapi takdir sekalipun....


Apa yang harus dilakukannya hanya satu.


Yaitu untuk terus mempertaruhkan nyawa di tiap detiknya.


Hanya dengan itu lah, dirinya yang sama sekali tak berbakat bisa memiliki sedikit peluang untuk melawan mereka yang diberkahi oleh langit.


^^^'Kerja bagus, Lucius. Kau lulus.''^^^


'Swuuuuuussshh!!! Blaaarrr!!!'

__ADS_1


Ironclad terlihat melompat dengan sangat kuat, menghentakkan tanah di sekitarnya hingga remuk.


Tujuannya hanya satu, yaitu menyerang bocah yang ada di hadapannya.


"Bocaaaaaaah!!!" teriak Ironclad sambil mengarahkan pukulannya tepat di wajah Lucius.


Bukannya menghindar, Lucius berniat untuk menghadapi Ironclad dalam permainannya sendiri.


Dengan cepat, Lucius juga melayangkan tinju dengan tangan kanannya. Tapi targetnya adalah pukulan dari Ironclad itu sendiri.


...'BLAAAAAAAAAAARRRRRR!!!'...


Kedua pukulan yang saling berhadapan itu menimbulkan hentakan yang sangat kuat. Tekanan angin mulai menghempaskan apapun yang ada di sekitarnya.


Bahkan batang-batang kayu yang berserakan di sekitar pun mulai terhempas menjauhi kedua orang itu.


Lyra terlihat sigap dalam membuat perisai yang melindungi tak hanya dirinya, tapi juga Sera dan Drakon.


Meski begitu, mereka bertiga masih tak bisa mempercayai atas apa yang dilihatnya.


Sosok Ironclad yang mereka kenal bukanlah orang yang lemah. Bahkan bisa disebut sebagai salah satu orang terkuat di kota ini jika mengesampingkan para bangsawan.


Dan sosok Ironclad yang seperti itu, kini terdesak hanya karena seorang bocah?


'Braaaaaaakkk!!! Sruuuuuuuugggg!!!'


Tak berselang lama, tubrukan antara keduanya akhirnya berhenti.


Lyra adalah yang terakhir untuk melihat sosok mereka di balik kabut debu itu.


Terlihat dengan jelas sosok seorang pria yang berjalan ke arahnya sembari membawa seorang bocah dengan kedua tangannya.


"Bocah gila. Lyra, rawat lukanya." ujar Ironclad sambil tertawa ringan. Ia meletakkan tubuh Lucius yang terluka parah itu di tanah secara perlahan.


Pada sekujur tubuhnya terlihat luka yang menyerupai sayatan, dimana darah terus mengalir dengan cukup deras.


Tapi yang paling parah adalah di tangan kanannya.


Saat ini, tangan kanan Lucius hancur tak karuan. Seluruh tulangnya patah. Semua ototnya robek. Dan kulitnya terlihat mulai menghitam.


Dari tubuh bocah laki-laki itu, yang tersisa hanya lah nafas yang terdengar lirih seakan-akan dirinya telah berdiri di depan jurang kematian.


"Seperti yang ku duga. Bocah ini menggunakan sihir untuk memperkuat tubuhnya sendiri." ujar Drakon setelah melihat luka di tubuh Lucius.


Di saat Lyra sibuk untuk menggunakan sihir penyembuhan, Sera bertanya penasaran.


"Itu buruk? Bukannya kita juga sering melakukannya? Lihat, biasanya aku menggunakan sihir angin untuk mempercepat langkah ku dan...."


Sebelum menyelesaikan ucapannya, Ironclad menggelengkan kepalanya.


"Ini berbeda jauh dengan yang biasa kita lakukan. Melihat lukanya, ini hampir serupa dengan sihir yang dimiliki oleh ras Dragonewt.


Sebuah sihir untuk memaksa otot bekerja 2 hingga 3 kali lipat dari yang seharusnya selama beberapa saat. Tapi sebagai gantinya, tubuhnya akan mengalami kerusakan yang cukup parah setelah sihir itu selesai." jelas Ironclad sambil memasang wajah yang khawatir.


Sejak awal, Ia memang tak berniat untuk membunuh Lucius. Ia hanya ingin bertarung dengan lawan yang kuat.


Tapi kini, melihat apa yang terjadi setelahnya....


"Meski begitu, bukankah mereka biasanya akan mati beberapa saat setelah efek sihir ini selesai?" tanya Drakon penasaran.


"Kau benar. Yang paling parah bukanlah luka di otot pergerakan, melainkan jantung mereka sendiri. Karena itu.... Bocah ini...."


Tak ada satu pun yang menyadarinya.


Bahwa apa yang digunakan oleh Lucius, bukanlah sebuah sihir untuk memperkuat tubuh sementara waktu.


Melainkan bentuk murni dari sihir itu sendiri.


Sebuah kemampuan yang diciptakan oleh ras iblis, ribuan tahun sebelum sihir yang dimiliki ras Dragonewt itu lahir.


Overflow.


Sebuah seni dimana iblis mengalirkan Mana mereka yang terlampau banyak di sekujur tubuh mereka. Secara langsung meningkatkan kemampuan fisik mereka tanpa batasan atau pun efek samping.


Meskipun terdengar sederhana, tapi penggunaannya jauh lebih rumit. Itu lah kenapa banyak ras lain yang berusaha meniru kemampuan ini.


Termasuk ras Dragonewt.


Itulah kenapa, luka di sekujur tubuh Lucius bukanlah efek samping dari sihir.

__ADS_1


Melainkan sebuah pertanda bahwa fisiknya masih belum mampu untuk menangani Mana yang dialirkan sebanyak dan secepat itu.


__ADS_2