Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 36 - Permintaan


__ADS_3

"Jadi, bagaimana kemarin?" tanya Alex yang baru saja masuk kelas di pagi hari ini. Ia duduk di sebelah Lucius sambil menata buku-buku miliknya.


"Bagaimana apanya? Kau.... Kau yakin tak menipu ku bukan?" tanya Lucius kesal.


"Menipu? Apanya?" tanya Alex bingung.


"Kau.... Kau tahu berapa harga pedang kemarin?! 1.627 koin emas! Dibayar cicilan 48 bulan! Bunga 25%! Per bulan 45 koin emas! Kau pikir aku mesin uang hah?!" teriak Lucius kesal.


"Ahahaha.... Soal itu? Yaah, Albert adalah orang terbaikku. Dia pasti menekanmu untuk membuat pedang terbaik.... Hahaha...."


"Kau tertawa?!" teriak Lucius sekali lagi.


Tak berselang lama, Max datang melihat kehebohan di pagi hari ini.


"Yoo, ada apa ini? Pagi-pagi sudah heboh?"


"Lucius, membeli pedang.... 1.627 koin emas...." ujar Emily dengan suara lirihnya.


"Buahahahhahaha! Kau?! Membeli pedang di tempat Alex?! Pantas saja! Buahahaha!!!"


"Sudah ku duga kau menipuku...." keluh Lucius, kini menatap tajam ke arah Alex.


Setelah Max, Sophia datang ke kelas ini. Ia juga sedikit terkejut melihat kehebohan di pagi hari ini.


"Ada apa ini?" tanya Sophia penasaran.


"Dengarkan aku, Sophia! Alex sialan ini, dia menipuku dengan menjual pedang seharga 1.627 koin emas! Bisakah keluargamu mengadilinya?!"


"Sudah ku bilang, Albert memberikan saran pedang terbaik. Aku juga memintanya untuk memberikan harga diskon." balas Alex sambil menghela nafasnya.


"Diskon apanya?! Bukannya kau membuatku terlilit hutang hingga 4 tahun kedepan?!"


Setelah merapikan barang dan buku-bukunya, Sophia kembali bertanya.


"Memangnya apa bahannya?"


"Infernal Steel atau apalah, sialan.... Seharusnya aku mencari pedang besi biasa dan...."


"Eeeeh?!" teriak Sophia terkejut.


"Hah? Kenapa?" tanya Lucius ikut terkejut.


Dengan badan yang gemetar, Sophia mulai mengarahkan tangannya pada Alex. Berusaha untuk mencekiknya.


"Benar kan? Sophia, berikan hukuman padanya untukku lalu...."


"Hanya dengan 1.600 koin emas bisa mendapatkan bahan infernal Steel?! Bi-bisakah kau menjualnya padaku?!" tanya Sophia histeris.


"Hah?!"


Lucius yang awalnya berpikir Sophia akan memihaknya, kini justru berpaling dan memihak pada Alex. Atau lebih tepatnya.... Harga di tokonya.


...........


"Ya-yang benar saja...." ucap Lucius dengan badan yang lemas setelah mengetahui kebenaran dari pesanannya.

__ADS_1


Wajahnya nampak pucat. Keringat dingin bahkan bercucuran di sekujur tubuhnya. Sedangkan kedua tangannya nampak memukul mejanya sendiri karena tak mampu mempercayai apa yang baru saja didengarnya.


"Lucius, aku tahu kau berasal dari desa tapi.... Setidaknya kau tahu tentang infernal Steel bukan?" keluh Sophia kesal.


Alex sendiri nampak tersenyum sambil tertawa ringan di sudut kelas.


Sedangkan yang lainnya terlihat memandangi sosok Lucius dengan wajah kesal, atau lebih tepatnya kecewa.


"Kupikir tadi Lucius membeli pedang biasa. Kalau infernal Steel.... Jujur, aku iri padamu karena mendapat harga semurah itu." ujar Max sedikit marah.


Infernal Steel. Salah satu dari banyak logam elemental. Logam yang sangat langka ini hanya bisa diperoleh dari lingkungan yang sangat ekstrim sebelum diproses lebih lanjut oleh pengrajin yang sangat terlatih.


Sebagai contohnya, infernal Steel hanya bisa diperoleh di kawah gunung berapi yang masih aktif. Atau lebih tepatnya, terbentuk di sekitar magma yang panas di gunung berapi itu.


Penambang harus mempertaruhkan nyawa mereka untuk memperoleh secuil logam Infernal Steel yang masih belum dimurnikan itu. Sebelum nantinya diproses lebih lanjut agar bisa menjadi logam siap tempa.


Kecocokannya terhadap elemen api dikatakan sangatlah tinggi, bahkan sihir api dari seorang anak kecil bisa menjadi kobaran api yang sangat kuat di bilah infernal Steel.


Sebuah sihir yang seharusnya hanya sebesar api dari lilin, bisa menjadi sebesar api dari tungku penempaan yang sangat panas.


Sekuat itu lah infernal Steel. Atau lebih tepatnya, logam elemental.


Dan Lucius yang sama sekali tak mengetahui soal itu....


"Jujur, sekarang aku sedikit paham kenapa Edward membully dirimu." ujar Oliver.


"Eh? Sejak kapan kau disini?!"


"Lucius.... Terlalu kampungan...."


"Emily?! Kenapa?!"


"Sophia?!"


Meski mengatakan hal seperti itu, semuanya nampak menertawakan Lucius dengan ringan. Mereka sadar kesempatan untuk menjahili Lucius tak datang setiap harinya. Karena itulah....


"Baiklah semuanya. Mari kita mulai kelas pagi hari ini." sapa Pak Anderson yang baru saja memasuki kelas itu.


Pada akhirnya, Lucius harus mengikuti kelas dengan rasa malu yang tertanam di dalam hatinya.


............


Pada malam harinya....


'Kreeeeek!'


Lucius membuka pintu besar dari Guild Petualang ini. Dibaliknya, Ia melihat banyak sekali petualang yang sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Banyak yang sedang bersantai di meja menikmati makanan dan minuman yang mereka pesan. Sedangkan sebagian lain nampak berbaris di depan papan pengumuman untuk memilih Quest.


Di tengah lautan manusia itu, mata Lucius hanya fokus terhadap satu hal.


Yaitu mencari kelompok Ironclad.


Setelah sekitar 2 menit mencari di sekelilingnya....

__ADS_1


"Ah, disana." bisik Lucius pada dirinya sendiri sambil berjalan.


Di tengah-tengah lantai pertama Guild ini, terlihat sekelompok petualang yang sedang tertawa keras sambil menikmati minuman mereka.


Sosok Ironclad yang menarik perhatian membuat Lucius mudah menemukannya. Begitu juga dengan penampilan Drakon yang mudah diingat itu.


'Tap! Tap! Tap!'


Tanpa ragu, Lucius berjalan ke arah mereka.


Pada meja besar dengan dua buah kursi panjang itu, terlihat masih ada cukup ruang untuk dua orang lagi.


Jadi takkan masalah bagi Lucius untuk bergabung bukan? Itu lah yang ada di dalam pikirannya.


Setibanya disana....


"Oooh? Bukankah ini bocah sialan yang berani menantangku untuk pertandingan ulang?" tanya Ironclad sambil meletakkan gelas kayu berisi bir itu di meja.


"Lucius, bagaimana kabarmu? Sehat?" tanya Lyra khawatir. Bahkan di tengah keramaian ini, Lyra masih mempertahankan tudung dari jubah hitamnya itu.


"Syukur lah kau baik-baik saja, Lucius." sapa Drakon sambil meneguk habis bir di gelas kayu yang besar itu.


'Tap! Tap!'


Sera terlihat menepuk ringan di kursi sebelahnya. Mengisyaratkan agar Lucius duduk di sampingnya.


"Kemari lah. Kami akan mentraktirmu. Meskipun kami takkan membiarkanmu untuk minum." ucap Sera ramah.


"Hah? Dia bangsawan kan? Memangnya butuh uang dari kita?" tanya Ironclad.


"Bodoh. Lihatlah pakaiannya." balas Drakon bahkan tanpa merubah pandangannya.


Saat ini, Lucius mengenakan kaos hitam tipis dengan mantel kain coklat di atasnya. Celana panjangnya saja terlihat sudah robek di beberapa bagian.


Sementara itu sepatunya merupakan sepatu khusus untuk semua kegiatan diluar akademi. Dengan kata lain cukup lusuh karena jarang memiliki kesempatan untuk dicuci.


"Oi, kau bangsawan kan?" tanya Ironclad penasaran.


"Be-begitulah...." balas Lucius singkat sambil duduk di samping Sera.


'Srrruuuugg!!!'


Tanpa ragu, Sera langsung merangkul tubuh Lucius dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya masih sibuk untuk mengangkat gelas kayu berisi bir itu.


"Jadi, kenapa kau kemari? Bukankah terlalu cepat untuk menantang otak otot itu lagi?" tanya Sera dengan nada yang sedikit menggoda. Bahkan wajahnya saja sangat dekat dengan wajah Lucius.


"Hah?! Siapa yang kau bilang otak otot?!" teriak Ironclad kesal.


Dengan muka yang sedikit memerah, Lucius pun membalas.


"Bi-bisakah kalian membawaku dalam misi perburuan bersama kalian? Aku akan bekerja keras, dan hanya ingin meminta sebagian kecil upahnya saja. Ba-bagaimana?"


Keempat orang anggota kelompok Ironclad itu pun terdiam. Memandangi sosok Lucius dengan begitu serius sebelum kembali bertanya.


"Kau.... Benar-benar bangsawan bukan?"

__ADS_1


Wajar saja mereka ragu. Bangsawan mana yang memiliki kesulitan ekonomi sampai harus bekerja sebagai petualang?


Parahnya lagi, menumpang di kelompok orang lain dan mengharapkan imbalan kecil?


__ADS_2