
Saat Lucius masih sibuk memikirkan bagaimana caranya menghadapi iblis itu, secara tiba-tiba iblis itu terlempar cukup jauh.
Pada pandangan Lucius, sosok iblis itu terlihat tertusuk oleh beberapa tombak es berwarna keunguan yang cukup besar.
Tak berselang lama, suara langkah kaki dapat terdengar di telinga Lucius.
"Kau telah berjuang, Lucius. Maaf aku baru bisa menemukan dirimu." ucap seorang wanita dengan rambut perak panjang yang terurai dengan begitu indah.
Ia mengenakan pakaian rapi di balik jubah putih dengan lambang cahaya keemasan itu.
Sedangkan pada tangan kanannya, terdapat sebuah tongkat sihir dengan kristal yang indah di ujungnya.
Meskipun tak pernah melihatnya secara langsung, Lucius bisa mengetahui sosok wanita di sampingnya itu. Mulai dari postur tubuh, pakaian, hingga perlengkapannya.
Semuanya sesuai dengan sosok pahlawan penyihir yang saat ini di Kerajaan Manusia.
"No-Nona Alora Skyweaver?! Yang asli?!" teriak Lucius dengan senyuman yang begitu lebar di wajahnya.
Bagi bocah itu, Alora adalah sosok yang sangat diidolakan olehnya. Tak hanya itu, berkat buku tulisannya lah yang membuat Lucius bisa memahami konsep dari sihir ruang.
Memanfaatkannya untuk kabur dari penjara dimensi itu.
"Tentu saja." balasnya dengan senyuman yang ramah.
Kecantikannya benar-benar tiada bandingannya. Mungkin bagi Lucius, wanita di hadapannya hanya kalah menawan dengan sosok Carmilla yang terpantul pada cermin.
Tapi selain kecantikannya, mata sihir Lucius dapat melihat bagaimana sosok di hadapannya itu bisa memperoleh gelar pahlawan dan diberkahi oleh Dewi Cahaya.
'Jumlah Mana yang luarbiasa besar, ini kah kekuatan seorang pahlawan yang terpilih oleh Dewi Cahaya Lunaria?!' pikir Lucius dalam hatinya dengan penuh kegirangan.
"Ngomong-ngomong, Lucius. Monster barusan itu, apa?" tanya Alora dengan wajah yang sedikit kebingungan.
"Aaah itu.... Itu, bagaimana menjelaskannya? Dulunya adalah seorang pria misterius yang mengurungku dalam penjara dimensi, lalu Ia menyuntikkan sesuatu pada lehernya dan berubah menjadi seperti itu." jelas Lucius.
"Menyuntikkan sesuatu? Penjara? Apa yang dia lakukan padamu?" tanya Alora kembali.
"Dia membuat obat untuk menciptakan iblis. Sedangkan aku hanya terkurung di penjara dimensi, dimana katanya dia ingin menyuntikkannya padaku, merubahku menjadi iblis."
Balasan Lucius membuat Alora kembali menyatukan berbagai informasi yang dimilikinya selama ini.
'Tubuh Zephyrith memang lemah, begitu juga Mana miliknya. Jadi itu lah kenapa dia berencana untuk menggunakan Lucius sebagai bahan uji coba?' pikir Alora dalam hatinya sambil terus memandangi sosok Lucius itu.
Tapi dalam hati Alora, Ia masih bertanya-tanya. Bagaimana bisa sosok Zephyrith yang bahkan tak memiliki begitu banyak Mana bisa menggunakan sihir ruang semudah itu?
__ADS_1
Pasalnya, sihir ruang termasuk salah satu sihir yang paling boros Mana. Dengan bakat Zephyrith dalam sihir yang cukup rendah, seharusnya tak mungkin dia bisa melakukannya.
"Hmm.... Begitu ya? Baiklah. Karena semuanya sudah beres aku akan mengantarmu kembali dan...."
...'BLAAAAAAAAAAAARRRRR!!!'...
Dari kejauhan, sebuah ledakan yang sangat besar dapat terlihat menerangi kegelapan malam ini. Layaknya seperti cahaya terbitnya sang mentari.
'Swwuuuussshhh!!!'
Kekuatan dari ledakan itu benar-benar sangat besar hingga membuat angin yang kencang sedikit menerbangkan tubuh Lucius dan Alora ke belakang.
Bebatuan dan pasir berterbangan kesana kemari akibat angin itu. Begitu pula dengan pepohonan di sekitar gunung berapi ini yang berjuang keras agar tak roboh, namun pada akhirnya juga tak mampu.
Dari lereng gunung itu, terlihat kobaran api yang mulai menjalar ke segala arah. Sedangkan di tengah-tengah kobaran api itu....
Terlihat sosok iblis Zephyrith yang masih berdiri, dengan luka di tubuhnya yang pulih dengan cepat.
"Yang benar saja?! Barusan sihir es tingkat tinggi bukan?!" teriak Lucius setelah menyadari hal itu.
Tombak es pada tingkat setinggi itu harusnya bisa membekukan seluruh organ tubuh targetnya ketika tersentuh. Membunuh mereka seketika karena hawa yang sangat dingin itu.
Tapi Iblis itu berhasil bertahan hidup.
Hanya saja....
Terdapat dua hal yang mencegah Lucius untuk pergi dari tempat ini.
Pertama adalah agar Carmilla bisa memastikan bahwa kekuatan iblis yang terdapat pada tubuh Zephyrith itu benar-benar berasal dari kekuatan Carmilla itu sendiri.
Jika benar, maka akan terdapat banyak sekali masalah ke depannya.
Kemudian yang kedua....
Alora memang sangat kuat. Pantas jika disebut sebagai seorang pahlawan penyihir. Tapi itu lah dirinya.
Seorang penyihir.
Bukan pendekar pedang maupun ahli bela diri.
Mengingat gerakan iblis Zephyrith yang begitu cepat dan kemampuan fisik yang begitu mengerikan, membuat Alora akan sangat kesulitan melancarkan serangannya.
Entah secerdas apapun seseorang, berapa banyak bakat yang dimilikinya, bahkan sekalipun orang itu diberkati oleh Dewi Cahaya, menggunakan sihir tingkat tinggi selalu membutuhkan waktu perapalan yang lama.
__ADS_1
Itu lah kenapa Lucius menciptakan Arcana, untuk mengatasi kelemahan ini.
Karena itu lah....
"Aku akan tetap di sini." balas Lucius, menolak untuk pergi.
"Kau gila?! Monster itu bisa meregenerasi bahkan setelah kehilangan seluruh organ tubuhnya! Kau...."
"Dengan segala hormat, Nona Alora. Biarkan aku menjadi pengalih perhatian untuk mu. Lalu gunakan sihir terkuat mu untuk membunuh iblis itu, tanpa memberikannya kesempatan beregenerasi."
Tentu saja, tawaran dari Lucius adalah apa yang sangat di harapkan oleh Alora.
Melihat kondisi yang seperti ini, Alora sangat membutuhkan seseorang yang cukup kuat untuk menjadi pengalih perhatian.
Tapi....
"Beberapa Ksatria Suci dari Gereja akan segera tiba. Butuh waktu lama karena aku kurang terbiasa membuat portal yang besar, tapi mereka akan tiba. Jadi tak perlu bagimu untuk...."
...'BLAAAAAAAAAAAARRRR!!!'...
Dengan menggunakan sihir api yang sederhana, Iblis Zephyrith itu mampu menciptakan apa yang menyerupai sihir api tingkat tinggi, Meteor Strike, di wilayah ini.
Puluhan bola api raksasa ditembakkannya ke udara, sebelum akhirnya kembali terjatuh ke tanah pada arah yang benar-benar acak.
Menghujani wilayah ini dengan bola api raksasa yang meledakkan dan melelehkan apapun yang disentuhnya.
"Nona Alora, kita tak bisa membiarkannya mengamuk lebih lama lagi. Tenang saja, aku memiliki ini." balas Lucius singkat sambil memamerkan Arcana miliknya yang telah rusak cukup parah itu.
Dalam sekilas, Alora dapat memahami struktur dan formasi sihir yang tertanam di dalam Arcana itu. Senyuman yang tipis dapat terlihat menghiasi wajahnya.
"Area Anti-Sihir ya? Menarik. Baiklah. Kalau begitu bantu aku melemparkannya ke tempat lain. Kita tak bisa membiarkannya mengamuk di sini." balas Alora.
"Dimengerti! Aku hanya perlu mendorongnya ke portal yang kau buat kan?" tanya Lucius yang segera mempersiapkan kuda-kudanya untuk berlari menuruni gunung ini.
"Bagus jika kau paham. Ayo!"
Keduanya segera bergegas menuju ke arah iblis yang sedang mengamuk itu.
Lucius memanfaatkan sihir angin untuk meningkatkan kecepatan larinya. Sedangkan Alora sendiri terlihat duduk di gagang tongkat sihirnya, lalu menggunakan sihir angin untuk terbang begitu saja.
'Seperti yang diharapkan dari pahlawan, mereka kuat. Bahkan lebih kuat dari generasi pahlawan di jaman ku.' ujar Carmilla setelah pertemuan barusan itu.
"Begitu kah? Kalau begitu, setidaknya dia bisa menandingi iblis dengan Mana 10 kali lipat lebih besar dari miliknya kan?" balas Lucius dengan suara lirih.
__ADS_1
'Iblis itu tak sempurna. Tak berakal. Dengan kekuatannya, dia bisa membunuhnya dengan mudah. Selama memiliki kesempatan untuk merapalkan sihirnya tentunya.'