My Hot Woman

My Hot Woman
ZOYA Part 2


__ADS_3

🌹🌹HAPPY READING 🌹🌹


.


.


.


.


Sepanjang Jalan Julie dan Rehan terus di landa kekhawatiran atas putri mereka Zoya.


"Sayang, jangan menangis. Putri kita akan baik-baik saja, Hem.." Rehan terus menenangkan istrinya yang sejak tadi begitu panik memikirkan Zoya.


"Ini salah ku Boo. Seharus nya aku bisa menjaga nya dengan baik. Putri kita. Seharusnya aku lebih memperhatikan anak-anak kita. Bagaimana,, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Zoya ..?? Ini salah ku Boo.. salah ku..!!" Julie menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada putri mereka.


"Ini bukan salah mu sayang. Kamu sudah menjadi ibu yang sempurna bagi anak-anak kita, mungkin saja Zoya hanya kelelahan. Putri kita pasti baik-baik saja. Jangan pernah menyalahkan dirimu..!" ucap Rehan dengan tenang. Ia tidak ingin Julie semakin tertekan.


Hiks.. Hiks.. Hiks..


"Tapi bagaimana jika.. jika.."


Ssstttttt.... "Sayang, jangan berpikiran yang macam-macam. Zoya adalah putri kita. Dia selalu kuat..!"


"Tapi Zoya masih sangat kecil Rey.. Bagaimana bisa dia sampai pingsan dan menahan kesakitan saat aku sebagai ibu nya tidak ada di sisi nya..? dia pasti sangat ketakutan.. Zoya ku.." Hiks.. Hiks..


Rehan semakin menancapkan gas mobilnya. Tapi mau bagaimanapun laju nya mobil mereka, tetap saja kemacetan ibu kota menahan mereka untuk segera menemui Zoya.


_______________________________


Sudah hampir 1 jam Zoya tertidur di ruang kesehatan.


Zen pun sejak tadi terus menemani Zoya.


Sebentar ia memeriksa suhu tubuh Zoya. Sebentar ia memeriksa keluar ruangan, menunggu mollie dan Dady nya tiba.


Sejak tadi Zen pun begitu khawatir pada Zoya. Entah apa yang terjadi pada gadis kecilnya itu.


Menurut Suster yang merawat adik nya. Zoya hanya kelelahan akibat terlalu banyak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Tubuh kecilnya masih belum mampu beradaptasi dengan kegiatan yang cukup menguras tenaga dan konsentrasi tersebut.


Hal itulah yang membuat tubuh Zoya tumbang.


"Kakk...


Kak Zen...?" rintih Zoya mencari keberadaan kakak nya.


"Ya Zo'e.. kakak disini.."


Zen menggenggam tangan Zoya.


"Kak Zoya mau minum susu coklat.." pinta nya masih dengan suara yang begitu lemah.


"Sebentar, kakak ambilkan. Tadi sudah kakak beli di kantin sekolah." Kata Zen sambil membuka plastik belanjaan nya.


Zen sudah hafal dengan Zoya. Saat sedang tidak sehat, merajuk dan Badmood Zoya pasti akan meminum susu coklat. Seperti Mollie. Oleh sebab itulah, saat Zoya tertidur Zen menyempatkan diri untuk pergi membeli susu Coklat untuk Zoya.

__ADS_1


"Zo'e bangun lah." Zen memapah tubuh Julie agar bisa bersandar di senderan ranjang UKS.


"Minum susu coklat mu..!" Zen memegang kotak susu kemasan agar mempermudah Zoya meminum susu coklatnya.


"Terima kasih kak Zen..,


,-Dimana mommy, apa masih belum datang?" tanya Zoya dengan raut wajah sedih.


"Mungkin mollie terkena macet Zo'e. Kamu tau sendiri, kita tinggal di ibu kota yang sangat padat." Jelas Zen pada Zoya.


"Apa kamu masih merasa sakit..??"


"Aku baik-baik saja kak. Maaf membuat kakak cemas!" ucap Zoya lemah.


"Apa yang kamu katakan..? Aku kakak mu, sudah seharus nya aku mencemaskan mu. Siapa lagi yang akan mencemaskan mu kalau bukan aku?? jangan berkata yang tidak-tidak!" tegur Zen pada Zoya.


"Terima kasih kak Zen. Zoya sangat senang punya kakak seperti kak Zen.


,-Kak Zen harus janji akan selalu sama-sama dengan Zoya. Janji..??" Zoya mengacungkan jari kelingking nya pada Zen.


"Janji." Zen mengaitkan kelingking nya sambil tersenyum.


"Hanya mencemaskan Zoya..??


"Hanya mencemaskan mu Zo'e. Kakak Janji!"


Ceklek...


"Zoyaaaa.....!"


Julie berlari menghampiri putri kecilnya masih terisak.


"Maafkan mommy sayang. Maafkan mommy. Mommy tidak menjaga mu dengan baik. Maaf...!!" Julie masih terus menangis sambil memeluk Zoya putri nya.


Tak lama kemudian Rehan pun masuk menyusul ke ruang kesehatan.


Julie berlari meninggalkan dirinya saat ia hendak memarkirkan mobil.


"Zoya.." Gurat kekhawatiran juga terpatri nyata di wajah Rehan.


"Dady...


"Zoya,, kamu kenapa sayang..??" Rehan mengambil posisi di sebelah Zen.


"Zen, ada apa dengan adik mu..?" tanya Rehan cemas.


"Suster bilang, Zo'e hanya kelelahan Dady, Mollie. Zoya hanya perlu istirahat." Zen mengulang informasi yang suster sampaikan sebelumnya.


"Baiklah, kalau begitu Dady akan menemui guru Zoya. Setelahnya kita akan kerumah sakit. - Moo, kamu bawa anak-anak ke mobil!" perintah Rehan.


"Mollie, Dady. Zen akan tetap di sekolah. Masih ada beberapa mata pelajaran yang harus aku ikuti hari ini." ucap Zen.


"Baiklah sayang. Terima kasih sudah menjaga adikmu. Terima kasih." Julie berbalik merangkul Zen dan mencium putra nya itu.


"Nanti Dady akan menjemputmu setelah kembali dari rumah Sakit." kata Rehan.

__ADS_1


"Baik Dady.


Setelah Rehan keluar ruangan untuk menemui wali kelas Zoya, Zen mengantarkan Mollie dan Zoya menuju tempat mobil mereka terparkir. Setelah nya Zen kembali ke kelas untuk mengikuti jadwalnya hari ini.


________________________________________


"Bagaimana dengan hasil pemeriksaan putri kami dokter..?" Tanya Rehan pada dr.Anne.


Saat ini Rehan dan Julie sedang berada di RS.Bunda untuk memastikan kondisi kesehatan Zoya.


"Nak Zoya baik-baik saja pak Rehan. Hanya terlalu lelah saja. Dengan cukup Istirahat, Nak Zoya pasti akan segera sembuh." Jelas dr.Anne.


Mendengar hal itu, Julie dan Rehan merasa sedikit lega. Setidak nya tidak ada hal buruk yang terjadi pada Zoya.


"Terima kasih dokter, kalau begitu kami permisi."


Rehan menggendong tubuh Zoya dalam rengkuhan nya.


Setelah keluar dari rumah sakit, Rehan mengantar istri dan anak nya kembali kerumah agar dapat beristirahat sesuai dengan anjuran yang dokter berikan.


30 menit kemudian..


"Zoya sayang.. sekarang kamu istirahat. Ingat pesan dokter mu. Mommy akan menemani mu, Dady akan kembali ke kantor dan menjemput kakak mu di sekolah."


"Yes Dady, Thank you so much. I love You.."


"We love you more, my little angel.."


Setelah menyelimuti Zoya, Rehan bicara pada Julie yang saat itu tengah membawa bubur di tangan nya.


"Sayang aku akan kembali ke kantor, setelah nya menjemput putra kita." pamit Rehan.


"Ya Boo.. hati-hati di jalan."


"Jangan lupa telpon aku jika Zoya kembali merasa tidak sehat." kata Rehat pada istrinya.


"Hem.


Rehan mencium kening Julie, kemudian pergi kembali ke kantor.


Jantung Rehan masih terus berdegup cepat. Jika saja dapat terlihat, semua orang akan tau jika jantung Rehan hampir saja melompat keluar saat Julie mengatakan tentang putri mereka.


Rehan lah yang paling khawatir. Namun ia harus mampu terlihat tenang, agar keadaan tetap kondusif. Ia juga tidak ingin membuat Julie semakin panik jika ia ikut menunjukan kecemasan nya.


Sebagai seorang ayah. Rehan juga merasakan setiap ketakutan dan kecemasan yang Istrinya rasakan.


-Untunglah Zoya kecil nya baik-baik saja-


.


.


.


.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Jangan lupa Like and Coment 🖤🖤


__ADS_2