
🌹🌹HAPPY READING 🌹🌹
.
.
.
.
.
Tiga minggu kemudian...
Satu bulan sudah lamanya Zen dan Zoya tinggal di indonesia tanpa keberadaan Rehan dan Julie disisi mereka. Bahkan saat ini, Aldi dan Margaret juga sudah kembali ke U.K dua minggu yang lalu.
Dibilang sudah terbiasa, mereka memang harus terbiasa. Zen dan Zoya melakukan semua rutinitas mereka seperti biasa.
Saat ini mereka sudah cukup beradaptasi tanpa kehadiran mommy dan Daddy. Seiring berjalannya waktu, Zoya pun tumbuh menjadi gadis kecil yang begitu baik dan manis.
Ia selalu tepat waktu saat pergi ke sekolah, mengikuti setiap ekstrakurikuler nya dengan baik, bahkan saat weekend yang Zen dan Zoya kerjakan hanyalah mengerjakan tugas sekolah, dan melakukan beberapa kegiatan yang menurut mereka menyenangkan.
Zen selalu menjaga adiknya dengan baik, bahkan ia selalu memastikan Zoya mendapatkan apa yang ia inginkan.
Berbicara mengenai rindu dan merindukan. Mereka memang sangat merindukan mommy dan Dady nya. Bagaimanapun mereka tetaplah seorang anak kecil yang masih sangat membutuhkan perhatian kedua orang tua mereka.
Untuk melepas rindu, setiap hari mereka selalu menyempatkan untuk melakukan panggilan suara maupun video pada orang tua mereka. Dengan begitu meskipun terpisah jarak dan waktu, mereka masih dapat saling memberikan perhatian dan cinta.
Itupun sudah cukup. Itulah yang Zen pikirkan sebelumnya.
Bagi dirinya, ia menganggap hal seperti ini tidak terlalu memberatkan baginya. Lagipula akan datang saat dimana mereka akan berkumpul kembali, dan itu tidak akan lama lagi. Namun berbeda bagi Zoya.
Ia tau gadis itu selalu menjadi gadis kecil yang manja dan juga keras kepala. Zen pikir gadis kecilnya memang berusaha keras untuk menjadi gadis yang baik seperti janjinya pada Dady. Dan itu sangat baik, setidaknya adik kecilnya sudah berusaha melakukan yang terbaik.
Sebelumnya, ya itu sebelum ia tau semua kebenaran tentang gadis kecilnya.
Setiap hari ia selalu melihat zoya yang sama. yang selalu ceria, Yang selalu tersenyum manis, selalu berdebat dengan nya, zoya yang tidak ingin kalah dalam hal apapun.
Namun sosok yang itu adalah sosok yang selalu Zen kenali, berbeda dengan Zoya yang Zen lihat setiap malam selama 2 minggu terakhir.
Zoya yang ia lihat saat malam hari adalah zoya yang begitu rapuh, begitu sedih, bahkan begitu memilukan hati Zen. Setiap malam Zen selalu mendapati gadis kecil itu menyembunyikan dirinya di luar balkon dan menangis di sana.
Saat di sana ia selalu memainkan melodi yang sedih dengan biola kesayangan nya. Suara yang begitu memilukan hati siapapun yang mendengarkan nya.
Semua itu tidak luput dari perhatian Zen. Apa yang Zoya simpan bagi dirinya sendiri, Zen tau semuanya. Bahkan Ia ikut menangis bersama gadis kecilnya.
__ADS_1
Zen selalu memperhatikan Zoya setiap malam.
Saat itu Zen tau, kalau gadis kecilnya selalu menyimpan semua perasaannya sendiri. Semua tidak sama seperti yang ia tunjukan saat di depan Zen.
Tapi biarlah, mungkin inilah saat keduanya mulai bertumbuh. Menjadi sosok yang lebih kuat, lebih baik, dan lebih bijak melalui setiap apa yang mereka rasakan. Perjuangan untuk melawan rindu yang selalu menyiksa.
meskipun Mommy dan Dady tidak disini, Tapi Zen ada. Itulah yang ingin Zen katakan pada gadis kecilnya.
Ia ingin zoya tau bahwa ia akan selalu menjadi sosok yang selalu ada untuknya. Selalu menemaninya, selalu disisinya saat ia menangis dan tertawa. Setidaknya itulah harapan Zen. Doanya.
Dan jika bisa.. itulah masa depan yang ia inginkan.
Seperti biasa, setelah Zoya melepaskan setiap kesedihan dan juga kerinduannya. Zoya akan kembali menjadi gadis yang ceria dan juga nampak bahagia. Nampaknya..
Meskipun Zen selalu berharap, Zoya mau menunjukan sosok kerapuhan dirinya, tapi entah belajar dari mana, dan sejak kapan,,Zoya mulai terbiasa membangun tembok yang membatasi sisi lain dirinya.
Membuat tameng pelindung bagi hatinya.
Selamat malam Zo'e,, mimpilah yang indah..
Zen menutup pelan kamar Zoya lalu kembali ke kamarnya sendiri. Ia merenungi dirinya sendiri, Ia harus menjadi pria yang bisa gadis itu andalkan suatu hari nanti.
Yang bisa gadis itu percaya sebagai tempat sandaran dan juga sebagai tameng pertahanannya. "Aku harus menyiapkan semuanya dengan baik. Tunggu aku Zo'e, aku akan melakukan semuanya untukmu!"
____________________________________________
Zoya dan Zen sudah pergi ke sekolah diantarkan oleh supir. Uncle Dony sudah menghubungi pagi tadi jika sore nanti mereka tidak bisa menjemput dari sekolah karena Aunty Belle akan segera melahirkan dan saat ini sudah berada dirumah sakit.
Zen dan Zoya akan segera mendapatkan seorang adik baru.
Mereka sangat senang mendapatkan kabar tersebut.
"Kak,, apa nanti kita bisa melihat aunty saat adik bayi sudah lahir..?"
"Tentu saja Zo'e. Kakak akan minta pada supir untuk mengantar kita ke sana, tapi sebelumnya kakak akan menghubungi Uncle Don. Jangan sampai kedatangan kita malah mengganggu mereka." Jelas Zen yang langsung di angguki tenang oleh Zoya.
_____________________________________
Dony sedang harap-harap cemas saat ini.
Tak lama lagi ia akan menjadi seorang ayah. Mereka akan seger bertemu dengan buah cinta mereka.
Saat ini Isabelle sedang berada didalam ruang operasi, dan Dony hanya menunggu diluar karena Istrinya tidak ingin ia masuk ke dalam ruangan tersebut. Jadilah Dony hanya menunggu diluar bersama dengan ayah mertua dan juga orang tuanya.
"Don, duduk dulu nak. Sejak tadi kamu sudah seperti itu. Bikin mama ikutan cemas saja!"
__ADS_1
"Iya ma,, nanti saja. Dony mau seperti ini sebentar."
Dony sangat gugup bercampur khawatir. Sudah satu jam operasi berlangsung, namun masih belum juga terdengar tanda-tanda kelahiran bayi mereka. Ia hanya bisa berjalan mondar-mandir untuk mengurangi rasa cemasnya.
20 menit kemudian terlihat seorang perawat berlari dan memasuki ruangan tersebut sambil membawa box. Dony semakin cemas dibuatnya.
"Ya Tuhan. Tolong jaga istri dan juga anak ku."
Disaat seperti ini, Dony hanya bisa menyerahkan semuanya pada yang kuasa. Dan mempercayakan semua tindakan pada dokter yang menangani istrinya.
Cukup lama setelah perawat tadi masuk ke dalam ruangan.
Dan tak lama waktu berselang, suara tangisan bayi terdengar sampai keluar ruangan. Dony jatuh tersimpuh bersyukur. Ia benar-benar merasa lega dan tentram saat suara tangisan bayinya terdengar. Yang ditunggu akhirnya...
"Suami dari pasien..?" seorang perawat keluar masih dengan pakaian sterilnya.
"Saya sus..!'' Dony berdiri dan menghampiri perawat tersebut. Sementara yang lain juga berbondong-bondong mengikuti di belakang Dony.
"Bayi anda lahir dengan selamat, bayi berjenis kelamin laki-laki. Anda sudah boleh masuk ke dalam."
"Bagaimana dengan putri saya suster..?" Handoko ayah Isabelle masih nampak cemas. "Ny.Isabelle baik-baik saja tuan. Sekarang ia sedang bersama dengan bayi nya.
"Mari, silahkan masuk.." perawat tersebut mengajak Dony untuk masuk ke dalam bertemu dengan istri dan juga bayi mereka.
Ayah dan ibu Dony serta mertuanya saling memberikan selamat karena sudah menjadi seorang kakek dan Nenek.
"Sayang...,?" Dony menghampiri Isabelle dan mengecup kening istrinya itu. Air mata Isabelle mengalir begitu saja. Ia sangat bahagia bisa melewati semuanya dan melahirkan buah cinta mereka.
"Terima kasih sudah melahirkan anak ku sayang. Anak kita. Terima kasih."
Dony menghampiri perawat yang mengendong bayinya, dan membawa bayi itu dalam gendongannya untuk membacakan ayat Alquran ditelinga putra mungilnya.
Berharap anak mereka kelak menjadi anak yang sholeh baik dalam iman dan juga perilakunya.
.
.
.
.
.
🌹🌹🌹🌹 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
LIKE AND COMMENT YA.. 😉♥