
🌹🌹HAPPY READING 🌹🌹
.
.
.
.
Rehan dan Julie berdiri mengikuti antrian yang diarahkan di depan ruangan VIP. Julie memperhatikan orang-orang yang lebih dahulu masuk ke dalam.
Seketika Perasaan nya menjadi sangat cemas, saat melihat orang-orang yang keluar dari ruangan tersebut dengan ekspresi wajah yang tidak dapat ia artikan dan ada juga sebagian dari mereka yang menangis.
Julie menggenggam erat tangan Rehan untuk menguatkan dan menenangkan dirinya sendiri.
Ku mohon, jangan sampai terjadi apa-apa, ku mohon.
''Dengan keluarga penumpang atas nama Aldi Pratama..?" Panggil seorang wanita bernama Secilia dengan bertuliskan As Assisten Manager di tanda pengenalnya.
"Ya. Kami.." Julie mengangkat tangan dan maju menemui wanita tersebut dengan Rehan di samping nya. "Ibu dan Bapak silahkan masuk ke dalam, Manager kami sudah menunggu anda."
Keduanya pun masuk mengikuti instruksi assisten manager yang sebelumnya mengarahkan mereka.
Di dalam ruangan dengan meja yang panjang nya kira-kira 2 meter tersebut, sudah duduk seorang perempuan paruh baya usia sekitar 40-50 tahun namun masih terlihat menawan dan berkarisma di dampingi seorang pria yang juga bertugas sebagai Assisten.
Ia tersenyum ramah melihat kedatangan Rehan dan juga Julie. "Mari silahkan duduk, saya Windia. Manager disini." wanita itu mengulurkan tangan nya.
"Terima kasih." balas Julie sambil menduduki kursi yang sudah di sediakan.
"Maaf sudah membuat anda sekalian merasa tidak nyaman, namun hal ini harus kami beritahukan kepada keluarga penumpang dengan jalur penerbangan UK-Indonesia.''
Wanita itu membuka layar Tablet canggih yang ada di tangan nya dan menunjukkan nya pada Rehan dan juga Julie.
"15 menit yang lalu, pihak pusat menara mendapatkan konfirmasi dari pesawat dengan nomor Akses EZ007DO mengalami kegagalan teknis.
DEG..
"Lalu..?" lidah Juli seketika kelu menanyakan kelanjutan kabar yang akan ia dengarkan.
"Oleh sebab itu pilot harus melakukan pendaratan darurat, di pulau Panbo, salah satu pulau tak berpenghuni. Menurut informasi terakhir, pendaratan dilakukan dengan aman dan tidak ada korban jiwa.
Dan tim evakuasi sudah di terbangkan menuju pusat titik terakhir sinyal diberikan. Oleh sebab itulah kami menyampaikan informasi ini agar ibu dan bapak sekalian tidak perlu khawatir karena keterlambatan penumpang tiba di bandara.
__ADS_1
Pihak kami akan memastikan dan mengusahakan yang terbaik bagi keselamatan penumpang kami." jelas wanita itu panjang lebar.
"Apa anda yakin semuanya baik-baik saja..?" tanya Julie dengan perasaan bercampur aduk.
"kami yakin dengan informasi yang kami dapatkan. Karena itu mohon kerja sama nya untuk meninggalkan nomor kontak yang dapat kami hubungi untuk memberikan perkembangan kabar selanjutnya." pinta wanita itu lagi sambil tersenyum. Senyum yang Julie yakini adalah senyuman yang penuh dengan ketidakpastian.
Setelahnya, Rehan pun langsung melakukan apa yang manager tersebut inginkan. "Terima kasih untuk kerja sama nya. Kami akan segera menyampaikan kabar baik bagi ibu dan bapak sekalian."
"Kami menunggu.." Jawab Rehan dengan nada tenang.
Keduanya langsung keluar kembali diantar oleh staff lain nya, kemudian nama lain juga di panggil setelahnya.
"Boo... aku takut. Katakan padaku kalau semuanya akan baik-baik saja." Julie memeluk dirinya, bingung dan juga cemas.
"Moo, Aldi akan baik-baik saja!' Rehan juga memeluk istrinya.
Setelahnya Rehan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi orang-orang yang bekerja dibawah komando nya.
"Pergilah ke pulau panbo, temukan pesawat yang melakukan pendaratan darurat di sana malam ini. Bawa penumpang dengan nama Aldi pratama kembali secepatnya!" perintah Rehan. Yang sudah pasti akan langsung dikerjakan oleh orang yang ia perintahkan.
Beruntung Rehan mempunyai banyak koneksi yang dapat ia gunakan dalam situasi seperti ini, terutama ia juga memiliki helikopter pribadi dan juga seorang pilot pribadi. Ia juga akan mengerahkan segala usaha untuk membawa Aldi kembali dengan selamat.
________________________________________
01.25 Am.
"Boo.. kamu naik aja duluan, aku ingin ke kamar anak-anak." kata Juli.
"Apa yang ingin kamu lakukan Moo..?"
"Tidak ada."
Rehan masih mencekal tangan Julie.
Sementara Julie sedang tidak bertenaga untuk melakukan percakapan. ia sedang tidak ingin bicara apapun, yang ia perlukan saat ini adalah melihat anak-anak nya.
"Apa kau ingin ke kamar Zen, membangunkan nya dan mengatakan kalau Didiie nya sedang dalam masalah, begitu kah..?"
'Tidak Boo.'' jawab Julie lelah.
"Lalu untuk apa..? aku tau kamu sedih, dan kita belum mendapatkan kabar apapun, Tapi jangan lakukan hal konyol!!" ucapnya lagi dengan nada suara yang lebih dalam.
"Ya Tuhan Boo...!! apa yang kamu pikirkan? AKu seorang ibu, apakah salah jika saat ini aku ingin melihat anak-anak ku..?" Julie meninggikan suaranya tak percaya.
__ADS_1
"dan Apa..? kau bilang bertingkah konyol? apa memang nya yang aku lakukan..? sejak tadi aku tidak melakukan apapun! Demi Tuhan Rey apa aku terlihat seperti seorang ibu-ibu yang haus perhatian yang akan melakukan HAL KONYOL seperti yang kamu tuduhkan barusan..? Ada apa dengan mu.?"
Julie menyentakkan tangannya marah, lalu naik ke tangga atas menuju kamar buah hatinya dan meninggalkan Rehan yang diam mematung begitu saja.
Apa yang salah dengan nya..? Wajar jika ia merasa cemas, wajar jika ia mengkhawatirkan Aldi yang sudah seperti seorang kakak baginya. Lalu apa masalahnya? Lagipula apa yang akan Julie lakukan?
~Bikin emosi aja bang Rey...
Setelah sampai di depan kamar Zen, Julie membuka pela pintu kamar anak nya itu. Di sana tubuh remaja Zen terbaring pulas di tempat tidurnya. Julie masuk perlahan tak ingin membuat suara, kemudian duduk di tepian ranjang Zen.
''Semuanya akan baik-baik saja Zen. Mollie janji padamu. Didiie tidak akan pergi seperti mommy Sarah. Didiie tidak akan kemana-mana!" air mata menetes di pipinya. Julie menangis dalam diam, sejak tadi ia sudah menahan kecamuk perasaan dalam hatinya.
~Tuhan.. ku mohon jaga Aldi. Jaga dia untuk kami, untuk Zen, dan untuk calon ibu dari anak-anak nya nanti, ku mohon~
Setelah dari kamar Zen dan menenangkan dirinya, Julie juga datang ke kamar Zoya putrinya. Melihat Wajah polos malaikat kecilnya yang sedang terlarut kenyamanan tidurnya membuat Julie semakin merasa tenang. Setelah menyelimuti Zoya, Julie berbaring di samping putri kecilnya itu.
Mengingat kembali perlakukan Rehan tadi padanya, Julie enggan untuk kembali ke kamarnya sendiri.
Bukan karena ia marah. Tapi ia terlalu lelah jika Rehan harus memulai perdebatan dengan dirinya.
Sementara itu..
Rehan berjalan mondar-mandir di kamarnya sambil melihat ke arah pintu. Ia menunggu Julie kembali ke kamar mereka.
Ia merasa bersalah pada istrinya. Katakanlah ia berlebihan. Tapi apa salahnya, ia hanya tidak ingin Julie terlalu larut dalam perasaan menyangkut tentang Aldi.
Ia tau pasti Julie pasti akan begitu cemas. Julie adalah orang yang terlalu jujur dengan berbagai hal dalam apapun yang ia rasakan dan alami.
Oleh sebab itulah, ia tidak ingin jika Julie sampai mengatakan tentang Aldi pada Zen. Rehan hanya tidak ingin anak-anak nya merasakan kecemasan yang sama seperti yang ia dan Julie rasakan.
Cukuplah mereka sebagai orang dewasa yang merasakan was-was, jangan sampai anak-anaknya juga.
Lagipula manager tadi mengatakan jika semua penumpang baik-baik saja. Jadi yang harus mereka lakukan hanya perlu menunggu kabar selanjutnya. Baik dari pihak penerbangan ataupun dari anak buah yang sudah ia perintahkan sebelumnya.
"Kenapa Julie belum kembali..? sudah hampir pukul tiga pagi. Apa saat ini dia sedang marah pada ku..?"
.
.
.
.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Don't forget for Like and Coment 😉♥