My Hot Woman

My Hot Woman
FIX ZEN MAHENDRA


__ADS_3

🌹🌹HAPPY READING 🌹🌹


.


.


.


Melihat Aldi yang sudah lebih tenang, Membuat Julie menghembuskan nafasnya lega. "Al,, apa kamu sudah merasa lebih baik.?" Aldi menatap Julie. Ia sangat bersyukur bertemu dengan Julie dan menjaga wanita itu selama ini. Julie membuatnya kembali melihat sosok Sarah, namun kali ini bukan sosok yang bisa ia cintai seperti Sarah.


"Terima kasih karna mau bersama ku saat ini Julie, terima kasih karna tidak menghakimiku atas apa yang sudah aku lakukan sebelumnya. Seharusnya kamu membenciku seperti Rehan" Aldi memalingkan wajahnya.


Julie kembali menatap pada Aldi, dan kembali bicara pada laki-laki itu, "bukan kah saat itu kalian masih muda..?? saat kita masih muda, kita bisa melakukan kesalahan, tapi dari sanalah kita akan belajar, jadi aku tidak akan ikut campur untuk masalalu kalian Al,".


Setelah bicara pada Aldi, Julie kembali ke ruangan nya dan Aldi pun demikian. Ia berharap semuanya akan baik-baik saja dan Julie bisa kembali seperti sebelumnya.


Namun ternyata tetap saja Julie kembali memikirkan cerita Aldi, cerita itu terus saja berputar-putar dalam pikiran nya. Rumit bagi Julie untuk dapat menarik benang merah dari semua ini. Masih banyak yang menjadi pertanyaan besar bagi Julie, namun biarlah itu menjadi rahasia yang hanya Tuhan dan Sarah yang tau.


Anna melihat Julie yang sejak kembali ke mejanya terus saja melamun, Julie tidak terlihat seperti biasa nya. Wanita itu lebih diam saat ini.


"Julie.. apa kau baik-baik saja..??" Suara teguran Anna tidak juga membuyarkan lamunan Julie, membuat Anna sekali lagi menegurnya.


"Hei.. Julie apa kau baik-baik saja..?" Suara Anna disertai dengan ketukan di meja wanita itu membuat perhatian Julie teralihkan.


,-Ya Ann, apa kau bicara padaku..?" Julie tidak mendengar apa yang Anna katakan pada nya.


Membuat Anna tersenyum sambil menggelengkan kepala nya. "Aku bertanya apa kau baik-baik saja, kau terlihat pucat saat ini..!"


,-Ah, aku tidak apa-apa, hanya saja..." Julie menggantungkan ucapan nya. "Tidak. Lupakan.., maaf jika aku membuat mu khawatir.." Julie menggelengkan kepala nya.


***


Rehan pergi menemui Mahendra, ia ingin menanyakan kembali tentang Sarah, terutama tentang Zen. Masih banyak yang ingin ia ketahui, masih banyak yang harus diluruskan diantara ketiga nya. Rehan tidak ingin selalu terikat dengan masalalu Yang selama ini terus saja menghantui nya. Ia harus memutuskan rantai kebencian yang ada sekarang dan juga di masalalu.


Saat sampai dirumah Mahendra Seorang Pria pelayan paruh baya mengantarkan Rehan untuk menemui Mahendra. "Silahkan den, tuan Mahendra ada di ruang baca nya.." ucap nya memberikan privasi bagi tuan dan tamu nya tersebut.


Ceklek..


Rehan melihat Mahendra yang sedang duduk termenung sambil memegang sebuah figura di dekat jendela.

__ADS_1


Wajah nya sudah terlihat sangat menua dari terakhir mereka bertemu enam tahun yang lalu.


Rehan berdiri di hadapan Mahendra "Om,.. masih ingat padaku..??" Mahendra mendongak kan kepala melihat kehadiran Rehan di depan nya. "Nak Rehan..."


Melihat kehadiran Rehan, Mahendra mengajak Rehan untuk duduk dan memulai perbincangan di antara mereka.


Ada begitu banyak yang mereka bicarakan, mulai dari mengenang masalalu, menceritakan tentang Sarah yang berjuang melawan penyakitnya, hingga kelahiran Zen dan kepergian Sarah untuk selamanya.


Pembicaraan kedua nya berlangsung kurang lebih tiga jam. Dari sana Rehan mengetahui banyak hal yang seharusnya ia ketahui beberapa tahun silam. Namun lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.


Tidak lupa Mahendra juga mengembalikan Saham perusahaan Rehan yang dulu diminta nya untuk memuluskan sandiwara nya bersama Sarah, karna sandiwara itu telah berakhir, maka Mahendra mengembalikan Saham tersebut pada pemilik sah nya, yaitu Rehan Wijaya.


***************


Drrrtttt..... Drrrrttttttt.....


Julie melihat ponselnya yang sejak tadi selalu bergetar, ternyata Rehan yang terus menghubungi nya.


'Ya.. Boo..?"


(...............)


"Baiklah, aku juga merasa lelah, kamu bisa menjemput ku nanti.."


(...............)


Julie mendatangi ruangan Aldi, ia ingin melihat apakah Zen sudah bangun dari tidurnya.


Tok..tok..


Setelah mendengar sahutan Aldi, barulah Julie masuk ke dalam. Meskipun Aldi adalah sahabatnya, tapi etika tetaplah etika, Aldi tetaplah Atasan nya.


"Aku ingin melihat apakah Zen sudah bangun..". "Ya, kau boleh melihatnya.."


Julie masuk ke ruangan Zen, anak laki-laki itu masih tertidur pulas. Julie menghampiri Zen perlahan, dan membelai lembut kepala Zen.


Terdengar suara dengkuran halus dari bibir mungilnya.


Julie tersenyum melihat wajah teduh Zen, wajah polos yang masih belum mengerti akan perputaran takdir di dunia ini.

__ADS_1


Julie bangkit dari posisinya ingin kembali keruangan, ia tidak ingin mengganggu tidur nyenyak Zen kecil, namun ada yang mencegahnya. Tangan kecil Zen memegang tangan nya cukup erat "Mollie.., apa Mollie akan meninggalkan Zen lagi..?" Zen menatap Julie dengan wajah yang masih mengatuk.


"Mollie tidak akan meninggalkan Zen, Mollie hanya ingin kembali keruangan Mollie," Julie mengusap lembut kepala Zen.


"Apa mollie mengganggu tidur mu sayang..?"


Zen tersenyum kemudian bangun langsung memeluk Julie, "mollie tidak mengganggu Zen, sangat senang Mollie ada saat Zen bangun".


Tok..tok..


Seorang wanita paruh baya memasuki ruangan Zen. "Titiiee....." Seru Zen kecil melihat sosok itu.


Wanita paruh baya itu tersenyum dan menyambut tubuh Zen yang berlari pada nya.


"Tuan muda,, Titiee sangat merindukan tuan muda. Apa tuan muda sehat..? sudah makan siang..? Sudah minum susu..??" Semua pertanyaan pengasuh itu selalu mendapat anggukan semangat dari Zen, terlihat keakraban diantara kedua nya dan itu membuktikan jika mereka memang dekat.


"Titiee,, Zen sudah menemukan Didii dan juga Mollie.." Zen tersenyum pada Julie.


"Terima kasih sudah menjaga tuan muda, Nona.." Pengasuh itu menunduk kan kepala nya pada Julie, membuat Julie merasa sedikit canggung mendapat perlakuan tersebut.


Amira. Itu Adalah nama pengasuh yang di sapa Zen dengan Titiie. Wanita paruh baya itu sangat ramah, dan Aldi lah yang meminta nya datang untuk mengurus Zen selama Zen bersama dengan Aldi.


,-Tuan muda, kita akan kembali ke rumah tuan besar, tuan besar sangat merindukan tuan muda". Ucap nya perlahan.


Aldi masuk bertepatan setelah Amira menyelesaikan ucapa nya, membuat Julie dan Zen menoleh ke arah Aldi bersamaan.


"Titiie.. Zen akan tinggal bersama ku, aku yang akan bicara langsung dengan pak Mahendra.." Mendengar ucapan Aldi, raut wajah Zen tidak jauh berbeda dari sebelumnya. "Tapi Zen ingin bersama Mollie Didiie.."


Julie mengerti bagaimana perasaan Aldi, tapi ia juga tidak ingin mengabaikan perasaan Zen kecil saat ini. "Al,, kalau boleh biarkan Zen bersama ku selama beberapa hari, Titiie juga boleh ikut bersama kami agar kau tidak perlu cemas".


Aldi hanya menghela nafas nya. Ia memang akan mengambil hak asuh atas Zen nanti, tapi saat ini Zen hanya ingin bersama dengan Julie. Ia harus apa jika demikian. Pilihan terakhir hanyalah membiarkan nya bersama dengan Julie jika wanita itu tidak keberatan untuk tinggal bersama Zen beberapa hari ke depan.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Like and Coment Ya.. ❤️❤️


__ADS_2