
🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹
.
.
.
.
"Bagaimana menurutmu, apa kita harus pergi ke negara asal ku..?" tanya Aldi pada calon istri nya Margarhet.
Margarheta Axcelional Devite berprofesi sebagai seorang Dosen muda di salah satu universitas Seni ternama di UK.
Berasal dari Garis keturunan berdarah biru, tak lantas membuat margarhet menjadi sosok yang tak terjangkau.
Pertemuan pertama kedua nya terjadi begitu saja di salah satu Galeri seni, dimana saat itu Aldi sedang menikmati karya seni dan Margarhet sedang melakukan study tour bersama rombongan mahasiswa nya.
Sampai akhirnya takdir membawa kedua nya pada pertemuan lain dan membuat kedua nya memutuskan untuk berlanjut pada tahap saling mengenal.
Mengingat Margarhet berasal dari keluarga Bangsawan, Awal nya Aldi kira ia adalah sosok wanita manja dan juga suka berhura-hura, namun ternyata Margarhet bertolak belakang dengan status kebangsawanan nya.
Margarhet adalah sosok wanita yang mandiri dan juga menyenangkan. Sisi nya yang feminim namun terkesan cuek merupakan salah satu daya tarik tersendiri yang membuat Aldi jatuh hati pada Margarhet.
Mengingatkan nya pada sosok Julie. Ah.. Lupakan, jangan mengungkit cerita lama.
Wanita berusia 28 tahun itu adalah sosok wanita yang sangat dewasa, pintar dan juga memiliki loyalitas yang tinggi. Sisi lembut dan juga pengertian nya lah yang membuat Aldi Jatuh hati pada Margarhet.
Aldi merasa bahwa Margarhet mampu memberinya apa yang selama ini ia butuhkan dan juga mampu menerima apa adanya Aldi dan juga putra nya Zen.
Berbicara tentang Zen.
Sebelum Aldi dan Mergarhet menjalin hubungan, Aldi telah lebih dulu terbuka jika ia adalah seorang single parents, dan kabar baiknya, Margarhet tidak mempermasalahkan hal itu.
Setelah menjalin hubungan 1 tahun terakhir, Aldi dan Margarhet memutuskan untuk menikah.
Karna Margarhet merupakan putri salah seorang bangsawan Inggris, untuk menghormati tradisi keluarga nya maka pernikahan resmi Aldi dan Margarhet akan di langsungkan di UK.
"Itu terserah pada mu Al. Kau yang memutuskan." jawab Margarhet lembut seperti biasa.
Kedua nya saat ini tengah berada di salah satu restoran yang tidak jauh dari universitas tempat Margarhet mengajar.
"Sebenarnya aku cukup merindukan putra ku. Selama 6 bulan terakhir aku bahkan belum pernah menemui Zen.'' lirih Aldi.
"Kalau begitu, pergilah. Masih ada waktu sebelum pernikahan kita. Bawa Zen kesini, aku juga sangat ingin bertemu dengan nya.''
Margarhet menepuk pelan tangan Aldi yang berada di atas tangan lainnya.
__ADS_1
"Tapi aku ingin kau ikut bersama ku..?"
"Untuk saat ini, aku harus segera menyelesaikan semua pekerjaan ku sebelum aku mengambil cuti untuk pernikahan kita. Bisakah kali ini hanya kau yang pergi..? Atau jika kau mau, aku saran kan bagaimana jika setelah kita menikah kitalah yang akan merawat Zen. Bukan kah dia sudah terlalu lama berpisah dengan mu, Al..?
"Kau benar sayang. Seharusnya aku lah yang merawat dan membesarkan nya. Tapi apa yang aku lakukan? aku malah membebani keluarga sahabatku sendiri." sesal Aldi.
"Al, seorang anak bukanlah beban. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Bukan kah kau bilang sahabat mu lah yang ingin membesarkan Zen saat itu..? Aku pikir hal itu karna mereka sangat mencintai Zen. Begitu juga dirimu.."
Begini lah Margarhet, Sikapnya yang begitu pengertian membuat Aldi merasa nyaman dan dapat menjadi diri sendiri saat di dekatnya.
_____________________________
heeemm... Eemm... Na.. Naa.. naa.. Naaa..
Seorang wanita berusia pertengahan bersenandung sambil mematut gambar nya di depan cermin. Dengan menggunakan stelan kemeja berwarna cream dengan rok span berwarna lebih gelap, Julie memandangi pantulan dirinya.
Ia juga membiarkan rambut pirang sedikit bergelombang miliknya terurai begitu saja.
"Aku rasa ini tidak berlebihan. Perfect.!"
Julie sudah siap untuk pergi ke kantor bersama suaminya. bye the way.. Ini adalah hari pertama Julie kembali bekerja setelah kurang lebih 8 tahun.
Semalam Julie sudah bicara pada kedua buah hatinya tentang rencana dirinya yang akan bekerja membantu Dady di kantor sementara Dady mereka menemukan seorang sekretaris baru, Dan Julie sangat senang karna tidak ada protes dari Zen dan Zoya.
Malah sebaliknya, keduanya begitu senang saat tau kedua orang tua nya akan bekerja di tempat yang sama. Ha ha ha.. entah apa yang kedua nya bayangkan.
pukul 6.30
"Morning Mollie.. Cup.. "
Ternyata Zen lah yang lebih dulu turun dan bergabung di meja makan.
"Bagaimana penampilan Mollie sayang..? Apa ini bagus..?" Julie menanyakan tentang pemilihan busana yang di kenakan nya.
Entah jawaban apa yang ia harapkan. Yang pasti ia tidak akan keberatan dengan apapun jawaban jujur dari putra nya itu.
"Mollie tidak perlu bertanya. Mollie akan selalu terlihat cantik dengan memakai apapun." Jawab Zen.
Jawaban Zen membuat Julie memicingkan mata pada putra sulung nya itu.
"Katakan Pada Mollie. Apa Dady mu yang mengajarkan mu bicara seperti ini.. hem..??" Julie mencubit gemas pipi Zen.
"Aww..aww.. Tidak Mollie.. Suer ✌️Mollie memang cantik dengan baju apapun." tambah Zen lagi.
"Aahh... putra kesayangan bunda sudah besar sekarang, sepertinya dia sudah pandai merayu para gadis..!" Julie memeluk sayang Zen dan kedua nya pun tertawa lepas.
EEe.. Ee...Do.. doo.ee.
__ADS_1
Drama manis di pagi hari.
"Mollie....sudah cukup Ok,, nanti rambut ku rusak!" protes Zen dengan perlakuan Julie pada nya.
Ya. Zen saat ini bukan lagi seorang anak kecil yang dulu selalu minta di pangku. Zen sudah tumbuh menjadi remaja putra yang sangat tampan dan juga menawan. Jika berbicara ukuran tubuh. Zen tergolong memiliki pertumbuhan yang sangat baik.
Lihat saja dirinya yang saat ini sudah memiliki tinggi badan yang sama dengan Mollie nya.
14 Tahun dengan tinggi 160cm. Wow.. Sepertinya Rehan akan tersaingi oleh Zen.
Maksud Author tersaingi tampan dan juga tinggi badan nya.
Sementara Zoya dan Rehan yang turun bersamaan dari lantai atas, keduanya sempat berhenti dipertengahan tangga melihat kedekatan antara Mollie dan juga Zen.
"Dady.. apa kak Zen memang bukan anak mommy..??" tanya Zoya penasaran.
"Sstttt.. jangan berkata seperti itu sayang. Walau bagaimana pun, Momy dan Dady tetap mencintai kak Zen seperti kami juga mencintaimu Sweety.."
Di dalam keluarga kecilnya, Julie selalu mengajarkan tentang kejujuran dan ketulusan. Oleh sebab itulah tidak ada hal yang di rahasiakan dalam keluarga ini.
Sejak anak-anak mereka mulai mengerti berkomunikasi, Rehan dan Julie sudah menceritakan tentang apa saja pada kedua anak nya, termasuk tentang Zen agar sometimes tidak ada hal yang tidak di inginkan terjadi hanya karena menutup-nutupi suatu kenyataan.
Pembelajaran itulah yang selalu Julie dan Rehan terapkan dalam keluarga kecil mereka.
Mereka ingin anak-anak mereka tumbuh dengan cinta kasih yang jujur dan tulus, tidak ada kepura-puraan dan begitu pun dengan anak-anak nya kelak, supaya mereka dapat menghargai dan mencintai orang lain dengan ketulusan. Harapan orang tua.
"Selamat pagi sayang.. " Sela Rehan yang juga bergabung di meja makan bersama Zoya.
"Selamat pagi Boo..
"Morning Dad..
"Waw.. lihat siapa yang sudah begitu cantik di pagi hari,..? Muuaacchh...selamat pagi malaikat kecil Mommy." Julie memeluk dan mencium putri nya.
"Morning Momm.."
"Ayo kita sarapan..." ajak Rehan pada kelurga kecilnya.
Selalu harmonis dan Sweet begitulah keluarga Rehan dan Julie.
.
.
.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Like and Coment.. 😉🖤
HAPPY WEEKEND 🖤🖤