My Hot Woman

My Hot Woman
BERKUNJUNG


__ADS_3

🌹🌹HAPPY READING 🌹🌹


.


.


.


.


.


"Uncle?" Zen dan Zoya kebetulan bertemu dengan Dony di loby rumah sakit.


"Hei sayang.. apa kalian hanya berdua saja..?"


Keduanya kompak menganggukkan kepala.


"Ayo ikut Uncle!" Dony membawa Zen dan Zoya ke kamar Isabelle. Zen dan Zoya masih menggunakan seragam sekolah saat tiba di rumah sakit. Sepertinya mereka berdua langsung ke rumah sakit begitu jam pelajaran selesai.


"Uncle, adik bayi zoya laki-laki atau perempuan..?"


"Adik bayi nya laki-laki sayang." Dony menggandeng tangan mungil Zoya yang berjalan di samping nya.


"Hem.. begitu kah..?" Zoya terlihat lesu.


"Ada apa sayang..?"


"Zoya salah membeli hadiah Uncle. Zoya pikir adik bayi yang lahir adalah perempuan, jadi Zoya membeli Boneka ini." Zoya mengeluarkan isi tas yang di pegang nya sejak tadi. Tedy bear berwarna putih dengan pita merah muda.


Dony merasa terharu melihat perhatian keponakan-keponakan kecilnya itu.


"Tidak apa-apa sayang. Boneka cantik ini bisa menemani adik bayi saat tidur." Dony mengelus rambut coklat Zoya. Wajah gadis kecil itu langsung bersemangat mendengar perkataan uncle Dony.


"Benarkah uncle..?"


"Tentu saja sayang. Adik bayi akan sangat suka dengan boneka cantik ini, karena yang memberikan nya adalah tuan putri yang sangat manis..!" kata Dony gemas lalu membawa tubuh mungil itu dalam gendongannya.


Dony juga sangat menyayangi Zoya.


Bukan hanya karena Zoya anak dari sahabatnya, Tapi karena gadis kecil itu memang sangat mudah untuk disukai siapa saja. Jika anaknya perempuan, Dony akan sangat bahagia jika putrinya seperti Zoya.


Zoya memiliki semua yang di miliki oleh Julie mommy nya.


"Apa kalian ingin makan sayang..?" Dony menanyakan keduanya sambil terus berjalan menuju kamar istrinya.


"Kami sudah makan Uncle, terima kasih." Zen tersenyum. Keduanya memang sudah makan sebelum pergi ke rumah sakit. Zen mengatakan pada Zoya, jika mereka harus makan terlebih dahulu, jadi mereka tidak akan merepotkan uncle Dony nantinya.


Oleh sebab itulah zoya menuruti kata kakaknya untuk makan sebelum ke rumah sakit, setelahnya barulah mereka pergi mencari hadiah untuk adik bayi.


Pada saat membeli hadiah mereka juga sempat berdebat. Pasalnya Zoya memilih Boneka yang menurutnya sangat cantik dan adik bayi pasti akan suka, sedangkan Zen memilih musik Box, mengingat mereka belum tau apa jenis kelamin anak Uncle Dony.


Namun Pada akhirnya Zen tetaplah mengalah pada keinginan Zoya. Jadilah mereka membeli boneka tersebut sebagai hadiah.

__ADS_1


"Baiklah, kita sudah sampai." Dony membuka pintu kamar Isabelle. Mempersilahkan kedua keponakan kesayangan nya untuk masuk kedalam.


"Aunty..." Zoya setengah berlari menyongsong Isabelle yang tersenyum melihat kedatangan mereka.


"Halo Beauty Full princess. Bagaimana sekolah hari ini sayang..?" Isabelle merekah saat melihat kunjungan dari anak sahabatnya.


"Seperti biasa aunty. Semuanya baik-baik saja. Bagaimana kabar aunty..? Dimana adik bayi..? Zoya membawa hadiah untuk adik bayi." katanya bersemangat.


Dony dan Zen hanya tertawa kecil melihat wajah gembira Zoya.


"Adik bayi di ruangan nya sayang, sebentar lagi suster akan membawanya kemari." jelas Isabelle.


Isabelle juga menerima kado yang Zoya siapkan. "Terima kasih untuk hadiahnya, adik bayi akan sangat senang memiliki kakak yang baik seperti dirimu."


Isabelle tersenyum bahagia melihat Zoya. Ingin sekali rasanya ia mencubit serta mencium gemas gadis kecil itu jika saja dirinya sudah pulih seperti biasa. Julie beruntung memilikinya sebagai putri.


Tak lama setelahnya, terdengar suara ketukan dan pintu kamar terbuka. Dari sana terlihat box bayi sedang di dorong masuk ke dalam.


"Itu dia, adik bayi." kata Isabelle membuat Zoya langsung berdiri tidak sabar ingin melihat bayi mungil tersebut.


"Ini putra nya pak, bu, saatnya memberikan Asi." kata perawat tersebut.


"Terima kasih Sus..,'' Dony langsung mengambil putra kecilnya dari dalam Box lalu memberikan nya pada Isabelle agar segera di berikan Asi. Sementara Zoya langsung mengambil tempat duduk disisi kanan Isabelle.


"Adik bayinya sangat tampan." puji Zoya sungguh-sungguh. "Sangat mirip uncle kan, uncle juga sangat tampan." kata Dony menambahi.


"Ya, uncle benar." Dony semakin bangga akan dirinya.


"Adik bayi sangat tampan, tapi lebih mirip aunty. Hidung nya, mata nya, bahkan bentuk wajahnya."' kata Zoya mengamati.


Zoya yang tidak menyadari perkataannya menjadi heran melihat kakak dan aunty nya tertawa sementara wajah uncle nya berubah muram.


"Apa ada yang salah uncle..?" tanya Zoya menunjukan wajahnya yang polos.


"Tidak ada. Apa tidak ada sedikitpun kemiripannya dengan uncle sayang..?" kata Dony sekali lagi. Entah kenapa ia harus merasa peduli dengan pendapat anak kecil seperti Zoya.


"Tentu saja ada uncle.." jawab zoya membuat Dony kembali bersemangat.


"Benarkah..? apa yang mirip dengan uncle sayang..?"


"'Adik bayi sama-sama laki-laki seperti uncle!"


Doeng!


HA-HA-HA...


Cukup lama Zoya dan Zen berada di rumah sakit. Keduanya benar-benar senang berada di sana. Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul enam petang.


"Zen, Zoya,, Ini sudah hampir malam sayang, bagaimana kalau uncle antar kalian pulang. Kalian harus beristirahat, besok kalian akan pergi ke sekolah lagi." kata Dony mengingat keduanya masih menggunakan seragam sekolah.


"Uncle benar, kami juga sudah sangat lama disini. Kami akan segera pulang. Uncle tidak perlu mengantarkan kami, ada pak supir yang menunggu kami dibawah.'' kata Zen.


"Zo'e ayo kita pulang." ajaknya, dengan wajah memelas Zoya ingin tinggal sebentar lagi, namun Zen menggelengkan kepalanya, mau tak mau Zoya mengikuti kata-kata Zen.

__ADS_1


"Besok kalian boleh datang lagi sayang, adik bayi sangat senang jika kakak nya yang cantik dan tampan ini mau bermain bersama nya," kata Isabelle yang mengerti keengganan Zoya.


""Baiklah Aunty." katanya menerima saran tersebut.-' Zoya akan pulang, dan akan kembali lagi besok." Isabelle menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Uncle Zoya pamit ya.."


Setelah berpamitan dan mencium adik bayi. Keduanya langsung pulang, Dony hanya mengantarkan mereka sampai ke parkiran dimana supir mereka sudah menunggu.


"Hati-hati dijalan sayang.." Dony mencium pucuk kepala Zoya. "Baik uncle. Bye uncle.. besok Zoya akan datang lagi..!" seru Zoya masih bersemangat.


"Kami pamit uncle, terima kasih sudah mengijinkan kami untuk datang lagi." Zen bersuara.


"Jaga adik mu jagoan,, jangan lupa telpon uncle saat kalian tiba di rumah nanti." Dony melambaikan tangan.


Setelahnya mobil Zen dan zoya melaju meninggalkan halaman parkir rumah sakit membelah padatnya jalanan ibu kota.


Zoya dan Zen sama-sama terdiam selama perjalanan kembali ke rumah. Tidak ada satu topik pun yang mereka bicarakan. Zoya pun memilih untuk diam dan melihat keramaian ibu kota, sementara Zen juga tidak ada yang ingin ia katakan.


40 menit kemudian mereka sudah tiba di rumah. Zen membawakan tas sekolah Zoya masuk kedalam, sementara gadis kecil itu hanya mengikuti Zen.


"Apa kamu marah pada kakak..?"


"Tidak."


"Lalu..?"


"Tidak ada. Zoya hanya lelah." Zoya terlihat lesu dan mendiamkan Zen.


"Baiklah, kalau begitu naiklah ke kamarmu, jangan lupa mandi air hangat, setelahnya langsung tidur." Zen memberi perintah.


"Baiklah kak, Zoya naik dulu." ia mengambil tas ransel yang dibawa oleh Zen Sebelumnya, kemudian menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.


''Zo'e.. !" panggil Zen lagi.


Zoya pun berpaling dengan cepat, "Ya...?"


"Dengarkan kataku. Setelah mandi langsung tidur. Aku akan melihat mu nanti."


Zen tidak ingin malam ini adik kecilnya itu kembali larut dalam kesedihan yang dipendamnya sendiri.


"Baiklah kak, aku akan langsung tidur."


.


.


.


.


.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


LIKE AND COMENT.. ♥


__ADS_2