
🌹🌹HAPPY READING 🌹🌹
.
.
.
.
.
Suasana cukup tegang di dalam ruangan tersebut. Saat ini semua nya sedang berkumpul di Penthouse milik Aldi. Di ruangan itu sudah duduk Rehan, Julie dan juga Zen besama dengan Aldi dan juga Margaret.
Meskipun Aldi berusaha mencairkan suasana dengan obrolan-obrolan ringan nya, tapi tetap saja, mereka semua sama-sama merasa gelisah dan tidak nyaman.
"Mr. Rehan, Mrs.Julie, silahkan diminum teh nya,- Margaret menyajikan cangkir-cangkir di hadapan tamu-tamunya.
"Dan ini untuk mu sayang, maafkan aku jika kau tidak menyukainya, aku belum tau apa saja yang kau sukai dan tidak kau sukai.'' Margaret tersenyum hangat pada Zen.
''Zen bukanlah anak yang cerewet dalam urusan makanan,'' sela Julie merasa perlu menginformasikan hal itu pada Margaret sebagai ibu sambung Zen.
"Ahh.. benarkah. Baguslah jika begitu," Margaret tersenyum senang. "Ku harap kau menyukainya..'' katanya lembut pada Zen.
''Terima kasih mom ?'' Zen menggantungkan ucapannya. Tanpa sengaja kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Zen.
Margaret tertawa kecil.
''Aku akan senang jika kau tidak keberatan memanggilku Mommy mu sayang,'' katanya sambil menyentuh pelan kepala Zen.
''Baik Mom, terima kasih atas teh nya."
Aldi begitu senang melihat sikap Zen yang menerima kehadiran Margaret sebagai mommy barunya. Rehan pun demikian, ia sangat bangga melihat Sikap Zen yang sangat dewasa.
Berbeda dengan Julie. Ia sangat tidak nyaman dengan hal itu. Kedekatan Zen dengan Margaret membuatnya sedikit merasa iri.
Baru saja Zen mengenalnya, tapi putra nya itu sudah bisa memanggil Margaret sebagai Mommy. Rasa nya dada Julie semakin sesak. Perutnya terasa mual. Ini tidak bisa. Tidak boleh.
Ia tidak boleh seperti ini. Ia tidak ingin mempunyai penyakit hati. Ia tidak ingin menjadi sosok ibu yang egois bagi anak-anaknya. Tidak. Ia tidak boleh melakukan itu.
"Jadi, maksud ku mengajak kalian berkumpul di tempat ini adalah tidak lain ada hubungan nya dengan Zen." Jelas Aldi.
"Seperti yang kalian tau, terutama kau Julie. Atas pembicaraan kita sebelumnya. Cukup lama Aldi terdiam.
"Seperti yang kalian juga tau, kami sangat merasa bersyukur selama ini kalian benar-benar merawat dan membesarkan Zen seperti anak kalian sendiri, dan aku rasa dengan apapun aku tidak akan bisa membalas semua yang sudah kalian lakukan untuk Zen."
Margaret menggenggam tangan Aldi. "Dan Julie, aku sangat tau kau begitu mencintai Zen, aku sangat tau betapa besar kasih sayang mu untuknya. Tapi kali ini, aku juga ingin menjalankan tanggung jawab ku sebagai seorang Ayah. Aku ingin merawat dan membesarkan darah daging ku."
"Hingga jika saatnya nanti aku bertemu lagi dengan Sarah, dia tidak akan membenciku karena tidak bisa menjaga sesuatu yang berharga yang dia titipkan padaku. Aku tidak mau merasa berdosa pada Sarah. Sungguh Julie, maafkan aku. Aku tau ini akan sangat berat bagimu. Terlebih karena kau sangat mencintai Zen."
__ADS_1
Semua yang ada di ruangan itu menjadi begitu serius larut dalam pembicaraan tersebut. Rehan dan Julie hanya mendengarkan tanpa menyela, sementara Zen juga larut dalam pemikiran nya sendiri.
"Aku sudah bicara pada Zen sebelumnya." Lanjut Aldi.
"Seperti janji ku sebelumnya Julie." Aldi menatap dalam mata Julie yang saat ini sudah hampir berkaca-kaca.
"Aku menyerahkan semua keputusan di tangan Zen. Aku akan mengikuti apa yang juga Zen kehendaki. Ini murni keputusan nya."
"Jadi Zen,, bagaimana keputusan mu..?" Aldi mengalihkan perhatian pada Zen yang duduk tak jauh dari nya.
''Maaf,, aku permisi sebentar.." Julie segera bangkit dari tempat duduknya. Ia butuh udara segar. Butuh ruang untuk bernafas. Ini begitu menyesakan, ia tidak sanggup jika harus berada di sana, dan mendengar kata perpisahan Zen padanya. Tidak ia tidak bisa.
Setelah bertanya pada pelayan di rumah tersebut, Julie pun memilih untuk pergi ke taman yang tersedia di sebelah barat Penthouse tersebut.
Julie mencoba menenangkan dirinya. Air mata sudah jatuh tanpa permisi melewati pipi mulus diwajahnya yang rupawan.
Sementara itu...
"Zen, apa kau sudah memikirkan nya jagoan..?" Rehan bertanya pada Zen. "Dady harap kau memikirkan semuanya dengan baik. Dady tau kau begitu menyayangi Mollie dan juga adikmu, tapi kau juga harus memikirkan dari sisi Didiie mu. Dan Dady harap, apapun yang kamu putuskan, itu akan membuat mu bahagia.." Rehan memberikan sedikit pencerahan pada putra nya.
"Itu benar Son, yang terpenting adalah kebahagiaan mu. Didiie harap apapun keputusan mu, kebahagiaan mu lah yang utama." timpal Aldi lagi.
"Aku sudah memikirkan nya dengan baik Dad, Didie Dan pilihan ku adalah,-
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Ia tidak peduli lagi bagaimana wajahnya saat ini.
Matanya terasa perih, kepala nya semakin berdengung.
"Mollie....?" Suara Zen sayup terdengar di telinga nya.
"Hem..? Julie membalik tubuhnya menatap putra kesayangannya itu. "Mollie.. aku sudah memberikan keputusan ku." Zen duduk di samping Julie. Kepala Julie terasa semakin berat, semuanya terlihat berputar dan ia tidak sanggup menahan nya.
Satu-satu nya yang bisa Julie lakukan hanyalah menggenggam erat tangan Zen.
"Mollie, aku memilih untuk..-
Belum lagi Zen menyampaikan keputusan nya, Julie sudah lebih dulujatuh tidak sadarkan diri di samping Zen.
Zen pun panik, "Mollie! Mollie apa yang terjadi, Mollie jawab aku Mollie..?" Zen berusaha membangunkan mollie, tapi usahanya sia-sia.
Zen kembali berlari ke dalam ruangan dimana mereka berkumpul sebelumnya.
"DADDY! Daddy.. Mollie...Mollie Dad...!"
Zen berteriak, mengalihkan perhatian orang tuanya.
Mendengar suara Zen, Rehan bangun dari tempat duduk nya dan menghampiri Zen yang juga berlari ke arahnya. Mereka semua pun menjadi panik dan bertanya-tanya.
__ADS_1
"Ada apa Zen, kenapa kamu berteriak?" Rehan pun ikut terlihat panik.
Dengan wajah memerah, Zen kembali bersuara, "Mollie Dad, Mollie pingsan di taman!" ucap Zen sambil mengatur nafasnya yang terdengar ngos-ngosan.
Sedetik kemudian Rehan sudah berlari ketempat yang Zen sebutkan.
Sesampainya di taman, Julie memang sudah tidak sadarkan diri, "Moo, Sayang? hei-sadarlah!" Rehan menggoncang-goncang kan tubuh Julie.
"Ada apa, apa yang terjadi pada Julie?" ujar Aldi yang sebelumnya ikut berlari mengejar Rehan disusul oleh Margaret.
"Aku tidak tau Al, Julie pingsan." Rehan menggendong tubuh Julie.
"Bawa dia ke kamar. Aku akan memanggil dokter keluarga kami." saran Margaret.
Rehan langsung membopong tubuh istrinya, dan membawanya kembali ke kamar tidur. Sementara menunggu kedatangan dokter, Rehan sudah memberikan wangi-wangian untuk menyadarkan Julie, namun istrinya itu masih juga tak sadarkan diri.
Di sana sudah berdiri Zen, Aldi dan juga Margaret. Mereka juga sangat mencemaskan kondisi Julie.
"Ya Tuhan,, ada apa ini, ku mohon jangan lagi..!" Rehan harap-harap cemas.
Ketakutan terbesar Rehan adalah, dimana Julie kembali ke masa ia koma sebelumnya. Dengan hilang nya kesadaran penuh seperti ini, Rehan takut jika kali ini Julie juga akan mengalami hal yang sama.
Ketakutan dimasa silam kembali menggerogoti Rehan.
"Dady, ada apa dengan Mommy?" Zoya menghampiri Rehan saat melihat mommy nya terbaring di atas tempat tidur.
"Mommy baik-baik saja sayang, sebentar lagi dokter akan datang untuk memeriksa nya. Jangan khawatir. Hem..?"
Tok..tok..
"Permisi tuan, nyonya dr.Dave sudah berada disini." seorang pelayan memberitahukan majikan nya.
"Bawa segera dokter Dave kemari!" perintah Margaret.
Tak lama kemudian, dokter tersebut masuk ke kamar bersama seorang asisten nya.
"Dimana pasien nya..?" tanya Dokter paruh baya tersebut.
"Disini dok.. " Rehan bersuara.
.
.
.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Like and Comment Kuy... ♥♥
__ADS_1