
🌹🌹HAPPY READING 🌹🌹
.
.
.
.
.
Aldi dan juga yang lain nya sedang harap-harap cemas menunggu di depan pintu. Pasalnya, hanya Rehan yang di perbolehkan untuk tinggal bersama dengan Julie selama pemeriksaan.
"Bagaimana Mollie bisa pingsan Zen, katakan pada Didiie..!" Aldi menanyai Zen yang saat ini juga sangat merasa cemas dan bersalah.
"Aku tidak tau Didiie. Sebelumnya Mollie terlihat baik-baik saja, bahkan dia sempat tersenyum padaku." Zen mengulang kembali ingatan nya. "Apa mollie sakit karena aku Didiie..? Apa aku yang membuat mollie seperti ini..?" Rasa bersalah tiba-tiba merundungi Zen.
"Kakak,, Mommy akan baik-baik saja." Zoya menggenggam tangan Zen.
"Tapi Zo'e,, kalau bukan karena kakak,.. mollie tidak akan seperti ini. Kalau saja kakak."
"Kak, jangan menyalahkan diri kakak mommy akan baik-baik saja." Zoya memeluk pinggang Zen.
"Adik mu benar sayang, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menyalahkan diri sendiri. Saat ini yang perlu kita lakukan adalah berdoa, agar mommy kalian baik-baik saja." tambah Margaret sambil mengelus punggung Zen.
Di dalam kamar..
"Bagaimana kondisi istri saya dok..?" tanya Rehan setelah dokter Dave dan asisten nya melakukan beberapa tes pemeriksaan pada Julie.
"Tidak usah khawatir Mr.Rehan. Istri anda baik-baik saja. Mrs.Julie hanya kelelahan, dan juga stres yang berlebihan. Oleh sebab itulah tubuhnya tidak mampu menanggung beban tersebut."
"Apa istri saya tidak mengalami penyakit lainnya dok..?"
"Tidak Mr.Rehan. Istri anda sangat sehat. Seperti yang saya katakan sebelumnya, Mrs.Julie hanya kelelahan dan stress yang berlebihan sehingga memicu turun nya kesadaran."
"Berikan vitamin-vitamin ini untuk istri anda saat dia sadar nanti, dan jaga juga pola makan serta kesehatan psikisnya, usahakan jangan terlalu banyak berpikir. Hal itu dapat menimbulkan gangguan cemas, dan juga hal itu akan mempengaruhi kesehatan janin nya." Jelas dokter Dave.
"Baik dok, akan saya katakan,-" Rehan terperangah, "dokter bilang apa tadi,,..? apa saya tidak salah dengar..?" Rehan meyakinkan dirinya sekali lagi.
"Apa dokter tadi mengatakan kalau istri saya sedang hamil..?"
"Itu benar Mr.Rehan. Istri anda sedang hamil. Usia kandungan nya sudah memasuki minggu ke lima."
"Ya Tuhan benarkah..?" wajah Rehan terlihat cemas.
"Ada apa Mr.Rehan..? anda terlihat gelisah. Bukan kah ini kabar menggembirakan..?" tanya dokter Dave yang merasa heran melihat ekspresi wajah Rehan.
"Bukan nya saya tidak senang dengan kabar baik ini dok, hanya saja," Rehan menimbang-nimbang perkataan nya.
"Istri saya pernah mengalami tidur berkepanjangan setelah melahirkan anak pertama kami. Saya hanya khawatir jika hal tersebut terulang kembali." Kecemasan pun meliputi perasaan Rehan. Ia tidak ingin hal yang sama terulang kembali ada istrinya.
"Begitu kah..? Kalau anda mengijinkan saya akan menganalisa langsung penyebab terjadinya hibernasi pada Mrs.Julie." anjur dokter Dave.
"Saya sangat berterima kasih jika dokter mau melakukan itu untuk istri saya." turut Rehan, merasa sedikit lega.
__ADS_1
"Baiklah, besok bawa istri anda ke rumah sakit tempat saya bekerja, saya akan melakukan beberapa tes pada Mrs.Julie. Jangan lupa saat Mrs.Julie sadar nanti, segera berikan vitamin untuknya. Saya permisi." pamit dokter Dave.
"Terima kasih dok."
Ceklek..
Setelah keluar dari kamar dokter Dave langsung dihadang oleh Aldi dan yang lain nya. Mereka juga ingin tau apa yang terjadi pada Julie.
Dokter Dave hanya tersenyum melihat kekhawatiran pada wajah mereka.
"Bagaimana dok..? Apa Julie baik-baik saja..?" tanya Aldi cepat begitu dokter menampakan diri di depan pintu.
"Mrs.Julie baik-baik saja. Hanya butuh istirahat. Stres berlebihan tidak baik untuk kesehatan nya dan juga bayi yang di dalam kandungan nya." Jelas dokter Dave lagi pada semuanya.
Zoya lah yang lebih dulu menanggapi, "Kak, Janin itu apa..?" ujarnya heran.
"Janin itu adik bayi Zo'e.." Zen tersenyum sambil berbisik-bisik.
"A Baby..? seriously..??" Zoya nampak bahagia mendengar kabar tersebut.
"Kakak, apa dokter tadi bilang di dalam perut mommy ada adik bayi..?" tanya nya lagi sedikit memelankan suara.
"Kakak rasa begitu Zo'e. Kakak juga mendengar hal yang sama." timpal Zen.
"Berarti, Zoya sebentar lagi akan jadi kakak? Waahh...." wajah Zoya berbinar bahagia.
Semua yang ada disitu turut senang mendengar kabar bahagia tersebut. Syukurlah jika Julie baik-baik saja. Mereka semua sangat mencemaskan kondisi Julie, sekaligus juga merasa bersalah pada wanita itu, karena sudah memberinya beban pikiran diluar kemampuan nya.
Setelah dokter Dave dan asisten nya berlalu di antar kan oleh Aldi dan juga Margaret, Zoya dan Zen langsung masuk menyerbu kamar Mommy nya.
Ssssttttt.... "Pelankan sedikit suara mu sweet heart, mommy sedang istirahat." Rehan memperingati putri nya yang saat ini sedang bersemangat.
"Baik, Daddy.." Zoya mengurangi volume suaranya.
''Dad.. benarkah yang dokter katakan, kalau di dalam perut mommy ada adik bayi..?" tanya Zoya kembali memastikan.
Rehan mengelus sayang rambut putrinya.
"Benar sayang, tidak lama lagi gadis kecilnya Dady ini akan menjadi seorang kakak." kata Rehan sambil mencubit pipi Zoya.
''Yeeee........!" Zen juga merasa lega mendengar kondisi Mollie nya yang baik-baik saja.
____________________
2.15 GMT.
Julie mengerjap-ngerjap kan matanya.
Kepalanya masih terasa berat. Tubuhnya bahkan terasa tidak bertenaga.
Ia melihat ke sekitar kamar, namun ia hanya seorang diri di dalam kamar tersebut.
Julie memegang kepalanya yang terasa sakit kemudian mengusap pelan wajahnya.
Tak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka.
__ADS_1
Rehan. Ya suaminya berdiri dari balik pintu sambil memegang nampan ditangan nya.
"Moo, kamu sudah sadar sayang...?" Rehan berjalan cepat kearah Julie, kemudian meletakan nampan yang ia bawa keatas nakas.
"Hem. Aku baru saja bangun Boo.. kepala ku masih terasa sakit." katanya sambil memijat pelan pangkal hidung nya.
"Istirahat saja sayang. Sini berbaringlah disini!" Rehan menyenderkan satu bantal di belakang Julie.
"Aku minta pelayan membuatkan untuk mu bubur sumsum. Ini baik untuk memulihkan stamina mu." Rehan mengaduk-ngaduk bubur yang ia bawa dan meniupnya sebelum menyuapkan nya pada Julie.
"Dimana Zen Boo..?" tanya Julie dengan raut wajah sedih.
"Zen sedang istirahat bersama Zoya sayang. Kamu harus lebih banyak istirahat. Jangan terlalu banyak pikiran. Lagipula anak-anak kita semua akan kembali bersama kita ke indonesia." Jelas Rehan sambil menenangkan Julie.
"Apa Boo..? A.. apa Zen juga akan pulang bersama kita...?"
Rehan tersenyum sambil mengusap pelan wajah Julie. "Tidak kah kamu mendengar kata-kataku barusan Moo..? Aku bilang, anak-anak kita semua akan kembali ke indonesia. Yang artinya, Zen akan tetap tinggal bersama kita." jelas Rehan lagi.
"Benarkah..? sungguh, tidak bohong..?" Julie memeluk suaminya. "Terima kasih Tuhan. Terima kasih." tanpa terasa air mata Julie kembali mengalir.
"Sudah, sudah jangan menangis lagi. Kamu harus pikirkan kesehatan mu. Sekarang makan makanan mu." Rehan kembali menyuapi Julie.
Setelah menghabiskan semua buburnya. Rehan memberikan vitamin yang di berikan dokter Dave untuk Julie.
"Obat nya banyak sekali Boo...?" protes Julie sambil mengernyitkan dahinya sedikit ngeri melihat butiran obat di atas piring kecil tersebut.
"Ya begitulah. Sebagian besar dari obat-obatan ini hanya vitamin sayang. Semua ini untuk pemulihan tubuh mu, dan juga untuk kesehatan calon Bayi kita." Rehan tersenyum lagi pada Julie.
Mata Julir membulat sempurna, "Ap..Apa Boo bayi..?"
"Hem."
"Maksudmu, aku hamil..?"
"Hem."
"Lagi...?"
"Hem, sebentar lagi kita akan memberikan seorang adik kepada Zen dan Zoya." Rehan bersemangat.
.
.
.
.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹 🌹🌹🌹🌹🌹🌹
**Like and Coment 😉😉♥
Dukung Author terus Ya..
Author sedang menyiapkan MHW part 2. Dan akan di rilis sebentar lagi.. 😉😉
__ADS_1
Nantikan chapter selanjutnya**.