My Hot Woman

My Hot Woman
SURPRISE


__ADS_3

🌹🌹HAPPY READING 🌹🌹


.


.


.


.


.


.


Seperti katanya, Zen memeriksa kamar Zoya sebelum ia tidur. Zen ingin memastikan kalau adik nya itu tidak menangis lagi malam ini.


Saat di depan pintu kamar Zoya, Zen ragu untuk masuk begitu saja. Akhirnya ia memilih untuk mengetuk pintu.


Tok..Tok..


''Zo'e...? kamu di dalam, boleh kakak masuk..?"


-Tidak ada jawaban.


Tok..Tok..


"Zo'e,, kakak masuk ya..?" Zen mengetuk untuk kedua kalinya. Zen pun membuka pelan pintu kamar Zoya yang tidak terkunci seperti biasa.


Ceklek..


Lampu dikamar itu sudah mati. Yang tersisa hanyalah nyala lampu tidur yang temaram.


Zen melihat sekitar.


Pintu balkon juga sudah terkunci rapat, bahkan tirai nya tertutup. Itu artinya Zoya tidak melakukan hal lain diluar sana. Kembali Zen melihat ketempat tidur.


Gadis kecilnya itu sudah terlelap di bawah selimutnya. Perlahan Zen mendekati Zoya hingga berdiri tepat disisi tempat tidur gadis itu.


"Gadis pintar." Zen membelai pelan rambut halus Zoya. "Kakak tau kamu sangat merindukan mommy dan Dady, bersabarlah sebentar lagi. Semua nya akan kembali seperti semula." itu pula harapan terbesar Zen, keluarga mereka akan utuh lagi.


Setelah cukup lama melihat Zoya yang sudah terlelap Zen juga kembali ke kamarnya. Ia juga harus tidur jika tidak ingin terlambat bangun besok pagi.


Seperti biasa, sebelum tidur Zen akan memastikan alarmnya sudah terpasang dengan benar.


_____________________________________


Tring..triing...


Suara alarm dari kamar Zen terdengar jelas sampai keluar dari kamarnya.


Tring... triing...


Zen yang cekatan saat mendengar bunyi tersebut segera keluar dan mematikan alarm yang sejak tadi terus berbunyi membuat suara bising di pagi-pagi buta.


"Apa sekarang sudah pagi..?"- Hooaamm... " Zen merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku. Setelahnya, ia segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Lima belas menit kemudian Zen sudah keluar rapi dengan mengenakan seragamnya. Ia sudah sangat segar sekarang, keramas di pagi hari memang pilihan terbaik untuk mengumpulkan nyawa yang tadinya sempat terpisah.


"Apa Zo'e juga sudah bangun..?" Dilihatnya jam masih pukul 6 pagi. Zen segera menyisir rambutnya dan merapikan seragamnya sekali lagi.

__ADS_1


Setelah siap, ia segera keluar dari kamar ingin melihat Zoya, namun di depan pintu ia berubah pikiran. sebaiknya ia menyiapkan sarapan terlebih dahulu.


Zen pun setengah berlari bergegas menuruni tangga, namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Indra nya mencium sesuatu yang sangat familiar.


Zen menarik nafasnya, membaui apa yang sedang di tangkap oleh inderanya.


"Wangi ini, apakah..?" Sekali lagi ia menghirup aroma tersebut lebih dalam. "Tidak salah lagi!"


Zen segera berlari menuruni tangga menuju dapur yang berada tidak jauh dari ruang makan.


"Mollie." katanya lirih. Ia melihat sosok yang sudah lebih satu bulan ia dan adiknya rindukan. Wanita yang berdiri di tak jauh di depannya sedang menggunakan celemek dengan rambut di cepol sembarangan, cantik.


Zen hampir saja meneteskan air mata. Namun ia tahan. Perasaannya sedang membuncah bahagia. Mollie nya disini. Ibu yang sangat ia rindukan.


Zen berjalan pelan menghampiri Julie yang saat ini sedang asyik membuat sarapan.


GRAAABB...


Zen memeluk tubuh Julie.


"Mollie..! Ini benar Mollie?" Zen tidak kuasa lagi menahan air mata, Ia rindu Mollie nya.


"Jagoan mollie..!" Julie membalik tubuhnya. Melihat pada wajah putra yang selama ini ia rindukan.


"'Sayang... ini mollie. Mollie kembali." Julie kembali memeluk Zen. Keduanya berpelukan dalam haru.


"Jangan menangis sayang, mollie sudah kembali. Apa mollie dan Dady sudah membuatmu terbebani selama ini, hem..? maafkan mollie sayang.. maafkan mollie." Julie menghapus air mata zen, Zen menggelengkan kepalanya, sekali lagi keduanya berpelukan.


Asisten rumah tangga yang berdiri tidak jauh dari sana pun turut menitihkan air mata haru.


"Kamu sudah siap sekolah..? anak pintar. Mollie akan menyiapkan sarapan mu." Julie membawa Zen ke meja makan.


"Saat Mollie dan Daddy tiba di rumah, kalian sudah tertidur pulas sayang, mollie tidak ingin membangunkan kalian.


,-Dan seperti yang Zen lihat, mollie sudah baik-baik saja." Julie tersenyum hangat.


'!'Astaga." Zen menepuk jidatnya. Zen lupa kalau Zo'e masih belum turun. "Aku akan naik dan memanggil Zo'e Mollie.'' Zen bangkit dari kursinya.


"Zoya disini kak..!" Gadis itu sudah berdiri dibelakang keduanya sambil menenteng tas ransel ditangan mungilnya. Ia menyaksikan semua yang terjadi tadi.


"Princess mommy?" Julie membentangkan tangannya rindu.


"Mommy!" Zoya juga memeluk Julie dengan begitu erat. Akhirnya. Mommy nya kembali. Ia tidak menangis. Tidak akan menangis di depan mommy nya. Ia hanya merasa sangat senang sekarang.


"Mommy apa Dady juga disini..?"


''Ya sayang. Mungkin sekarang Daddy masih tidur.''


Setelah Mendengar perkataan mommy nya Zoya langsung kembali berlari menaiki tangga menuju kamar orang tuanya.


Hiks..Hiks..


"Mollie kenapa? apa ada yang sakit..?" Zen sedikit panik melihat Mollie nya menangis.


"Adik mu Zen.. Adikmu sepertinya lebih merindukan Daddy dari pada Mollie. padahal Mollie sangat merindukan kalian.."


Hiks.. Hiks.. Julie terisak di kitchen room.


"Apa mollie merasa cemburu pada Daddy..?"

__ADS_1


Pertanyaan Zen mendapatkan anggukan penuh dari Julie. Rasa panik Zen pun berubah menjadi tawa.


Sementara itu....


"Daddy!" Zoya melompat keatas tempat tidur mommy dan daddy nya langsung menindih tubuh Rehan, membuat Rehan sedikit terkejut.


"Daddy!"


"O, hai angel...Selamat pagi.." Rehan mengusap wajahnya yang masih mengantuk.


Zoya memeluk tubuh Daddy nya. "Daddy Zoya sudah menepati janji Zoya. Zoya sudah menjadi anak yang baik dan manis selama mommy dan Dady pergi. Zoya tidak pernah merepotkan kak Zen. Zoya selalu rajin pergi ke sekolah dan mengerjakan tugas-tugas Zoya.


Zoya sudah menepati semua janji Zoya. Benarkan..?"


Rehan masih sedikit linglung mendengar perkataan putri nya itu. Namun satu yang ia tau, putrinya sedang menangis.Putri kecilnya. Rehan membalas pelukan hangat malaikat kecilnya itu.


"Ya angel.. kamu berhasil sayang. Terima kasih sudah menepati janjimu. Daddy bangga pada mu. Sangat bangga sayang." Rehan membelai pelan rambut Zoya dengan wajah yang disembunyikan nya dalam rengkuhan Rehan.


"Apa mommy dan Daddy tidak akan meninggalkan Zoya dan kak Zen lagi..? Apa saat ini mommy sudah baik-baik saja..? Zoya takut mendengarnya dari mommy. Karena itu zoya berlari menemui Daddy."


Rehan tersenyum mendengar semua penuturan putri kecilnya itu.


"Oh, sweet heart, maafkan kami. Maafkan kami karena sudah meninggalkan mu seorang diri begitu lama. maafkan kami sayang."


"Mommy dan Daddy tidak akan pernah meninggalkan Zoya lagi. Tidak akan." Rehan merasa bahagia sekaligus sedih. Keadaan memaksa putri kecilnya untuk tumbuh dewasa sebelum waktunya.


"Daddy janji?" Zoya menghapus air mata di pipinya lalu mengacungkan jari kelingking nya pada Rehan.


"Daddy janji sayang."


Zoya kembali tersenyum manis seperti sebelumnya. Selama ini ia sudah belajar menahan semua perasaan dan juga tingkah laku kekanakannya demi menepati janjinya pada Dady.


"Terima kasih Dady. Apa sekarang Zoya boleh menjadi Zoya yang sebelumnya..?" katanya tersenyum manis. Rehan mengerutkan kening....


HA-HA-HA...


"Daddy akan senang jika putri kecil Dady tetap menjadi putri kebanggan Daddy dan Mommy." Rehan memeluk Zoya yang sangat menggemaskan.


Zen juga ikut menahan senyum menyaksikan drama yang terjadi dikamar orang tua mereka. Semua nya benar-benar kembali seperti sebelumnya.


"Dady.. Ayo mandi.. kita sarapan bersama!'' kata Zoya pada Rehan. Membuat Rehan terpaksa keluar dari balik selimutnya. meskipun ia masih sangat lelah, tapi ia tidak ingin merusak momen bahagia saat ini.


'' Yes Miss..!!" jawab Rehan sambil menggendong Zoya.


"Good Daddy...!!" Zoya menepuk pipi Rehan dengan kedua tangan nya.


HA-HA-HA......


.


.


.


.


🌹🌹🌹 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


LIKE AND COMENT.. 😉♥

__ADS_1


__ADS_2