My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
S2 Bab 14


__ADS_3

***


Assalamualaikum Guys!


maafin Author yah yang akhir - akhir ini upnya sedikit, atau bahkan kemarin enggak up. Maaf, padahal banyak yang nungguin. hiks... Author turut menyesal.


Itu karena, Author enggak enak body. hiks'-'


Semoga kalian enggak bosen untuk terus, like dan komen yah


komen banyak2 yah Guys! biar author semangat lagi upnya. siapa tau. kalo banyak yang komen, semangat Author balik lagi.


pokoknya makasih yang udah nungguin.


***


***


Arfen,  Thifa,  dan Riyan sudah Stand by di mobil,  dengan Arfen yang mengendarai mobil. Namun mereka belum jalan karna masih harus menunggu pak Ghani.


Pintu mobil terbuka,  bukannya pak Ghani yang masuk. Malah ada gadis mungil yang masuk,  duduk di sebelah Riyan di bangku belakang.


"Bocah Rese! Ini elo?! " pekik Riyan, Tiga perempat kaget.


"Eh? Om Galak? Ikut juga? Hobi kemah? Tapi gak cocok sama tuh muka? " Sahut Vania ceplos tanpa ada macet.


"Om Galak palamu! Ngapain lo di sini?! " Pekik Riyan tanpa sadar, dia langsung diam saat menyadari Nada suaranya tinggi terhadap Vania.


"Riyan! Jangan kasar - kasar sama anak ini! Ini perintah bapak! Bapak bakal naik mobil sama guru lainnya, anak ini di sini sama kalian. Bus nya gak muat. Jadi baik - baik sama dia. " Ujar Pak Ghani dari kaca jendela terbuka. "Jangan di bentak, jangan di marahin! " Tambah pak Ghani menatap sinis Riyan.


"Vania Keyland, Dari kelas Sembilan Lima, Mendapat juara tiga Umum di SMP MERAH putih. Kamu baik - baik di sini. Ada apa - apa atau ada yang gangguin kamu,. Bilang sama bapak. Biar bapak Tendang melayang sampai Ke Liang lahar. " Tambah Pak Ghani menatap manis Vania. Pak Ghani yakin, Vania ini murid yang cukup berbakat.

__ADS_1


"Iyah pak, Bakal Vania kabarin. Makasih yah pak. " Sahut Vania ceria, tentu dengan cengiran manis khas miliknya.


"Thifa, bapak Nitip Vania yah"


"Iyah pak, Thifa jagin. " Kata Thifa mengangguk yakin.


"Wah, bagus dong bapak gak satu mobil sama kita. Jadinya kan Arfen bisa puas pacaran sama Thifa~" Sambung Arfen tak tahu mala, tanpa wajah berdosa.


Pak Ghani menggelengkan kepalanya, Bisa berkali lipat sakit jika dia menjawab ucapan Arfen ini, pak Ghani memutuskan melenggang pergi begitu saja, setelah memberi penjelasan.


"Hai Bocah imut! Kita ketemu lagi? " Sapa Arfen menoleh ke belakang, menatap ramah Vania. Sambil melambaikan tangannya.


"Hai juga Kakak Ganteng! Wah! Biar Vania tebak, Kakak Ganteng sama Kakak Cantik ini pacaran kan? Uwu~ Kalian cocok banget, tapi kenapa om Galak mau jadi nyamuk? " Tanya Vania ceplos tanpa sadar.


Sontak! Tawa Thifa dan Arfen pecah begitu saja, bersamaan.


"Apa? Om Galak? Itu Vania sendiri yang buat namanya? " Tanya Thifa masih dengan tawa.


"Tapi, Kalau di liat baik - baik, di cermati dengan seksama secara Detail, emang sih Yan, lo mirip sama Om Om Mesum main tik tok! Haha! " Tawa Arfen, benar - benar terkekeh.


Telinga Riyan rasanya panas sekali mendengar tawa mereka semua.


Bukhhhh!!


Satu lemparan menggunakan HP Iphone telah Riyan layangkan ke kepala Arfen. Membuat Tawa bocah itu seketia hilang.


Uhhh? Itu Hp Apel kegigit seperempat kan? Yang harganya 30-60 juta itu? Itu seriusan di lempar aja? Enggak ada rasa nyeselnya? Humph! Seketika jiwa Misqueen Ku meronta - ronta ~ Awak mana sanggup~ Awak ini apalah~


Batin Vania, melongo tak percaya itu HP mahal di lempar gitu aja.


"Jalankan mobilnya! " titah Riyan seakan bosnya.

__ADS_1


"Udah Fen, Jalan aja. Takutnya kita digigit. " Tambah Thifa, yang memang sudah cukup Akrab dengn Riyan. Jadi, menganggu bocah pemarah tapi Gesrek itu cukup menyenangkan.


Arfen menjalanlam mobilnya, menyusul Bus yang sudah berangkat tadi.


***


Satu setengah jam sudah berlalu, Namun mereka masih juga belum sampai.


Vania si bocah bahkan sudah tertidur di Bahu Riyan, bahkan dalam pelukan cowok kekar itu.


Bahkan, Thifa juga sudah tertidur, tapi tidak di bahu Arfen. Namun tangannya masih setia di genggam oleh Arfen. Atau kadang, jika ada lampu merah, dan bertepatan Bibir Arfen gatal. Bocah tengil itu sesekali mengecup Kening atau pipi mulus Thifa.


(Author : Ini kah yang dinamakan mencari kesempatan dalam kesempitan? '-' Note: Author Polos mwehehe)


Riyan sendiri juga tidak perduli dengan apa yang di lakukan Arfen, Fokusnya hanya pada Vania, Vania, Dan Vania. Vania mungil yang tertidur lah~ Rambut Gelombang Vania yang berterbangan. Semuanya hanya tentang Vania.


"Pantas Muka lo biasa aja waktu Nando dekat Raisa. udah ada yang baru ternyata? " Sindir Arfen, yang tentu tujuannya Riyan.


"Atas dasar apa lo ngomong gitu? "


"Yah siapa yang gak tau, kalo lo dengan Ikhlas kasih bahu lo sama tuh bocah. Satu sekolah juga tau, lo bahkan gak mau sentuhan sama cewek manapun. Bahkan, sama Tasya kemaren, yang gak sengaja sentuhan aja. Muka lo berapi - api, mode seram nya on. Tapi, sama bocah ini. Jangankan marah, lo aja senyum - senyum sambil liat dia. " Ujar Arfen dengan segala Argumennya.


"Iyah, Gue suka sama dia. Kenapa? " Riyan mengakuinya tanpa ragu, bahkan dia semakin mempererat rangkulannya pada Vania.


"Enggak masalah sih, bagus juga. Dia imut, polos, lugu, hampir sama kayak Thifa. Bedanya dia ceria, Thifa enggak. "


"Punya masing -masing kan? "


Keduanya tersenyum puas.


Yang amat puas adalah Riyan tentunya, dia sangat tidak menyangka bahwa Keberuntungan besar ada di pihaknya. Selama satu minggu ke depan, dia satu perkemahan dengan gadis kecilnya, tanpa di duga.

__ADS_1


***


__ADS_2