My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
Episode 69


__ADS_3

***


Ari menghela napasnya berat. Entah apa. Makna dari helaan napas itu.


"Iyah,  kamu om izinkan pergi sama Thifa. Ingat,  jangan lama - lama. Antar dia dengan keadaan baik yang utuh. Mengerti?! Ingat juga batasan sebelum halal! " peringat Ari,  was was itu perlu.


"Yeahh!! "


Arfen bersorak bahagia. Apakah ia sudah mendapatkan restu Ari?


Arfen segera menghampiri Thifa dan menarik nya pergi.


"Mau kemana Fen? Gue mau pulang,  kasihan papah sama mamah. Lagian emang kamu udah izin sama papah gue? " tolak Thifa lembut.


"Udah izin kali yank. Udah lah,  ikut gue aja. " Arfen segera menarik tangan Thifa ke dalam mobil.


-


-


-


"Gimana keadaan Riyan Sa? " tanya Rei duduk di dekat putri nya.  Sudah ada Riyan juga disana.


"Saya enggak apa - apa kok om. Asal Raisa gak papa, saya baik - baik aja kok om. " sahut Riyan terlihat santai,  padahal ia sudah berusaha menahan rasa sakitnya.


"Agak parah pah. Kita ke rumah  sakit yah pah. Segera. Kasihan Riyan,  Ais takut kejadian apa - apa." rengek Raisa.

__ADS_1


"Iyah papah tau,  kita kerumah sakit sekarang. " Helikopter pun bergerak selaju mungkin,  menuju Rumah sakit terdekat.


"untung kenanya di bahu,  jadi enggak begitu fatal. " Kata Rei sembari melirik luka di bahu Riyan.


"Pah,  Om Nathan sama papah nya Thifa kemana? " tanya Raisa lagi.


"pulang naik mobil. Mereka satu mobil,  guna mempererat hubungan antar besan. "


Raisa dan Riyan keduanya manggut.


"Terus pah,  Thifa sama Arfen mana? Kok gak kelihatan? "


"Melepas kerinduan yang numpuk katanya. "


***


Siapa gadis mungil yang tak takut jika di bawa ke tepi hutan yang gelap dan sepi. Hanya bersama Arfen.


"Gue waras Thif. Gue gak mau buat anak haram. Gak keren,  masa nanti gua gak bisa jadi wali dia nikah. Kan gak enak. " Sahut Arfen enteng. Tanpa dosa ataupun rasa bersalah.


"Yah siapa yang gak was was,  kalo lo bawa anak orang ke tempat kayak gini. "


"Biar romantis yank. "


"Romantis dari mana tempat gelap dan sepi gini. Ada juga ngeri Fen. "


Arfen mengabaikan ucapan Thifa. Ia berjalan ke arah semak,  dan mengambil sesuatu. Dan Pyass...

__ADS_1


Seketika ada cahaya,  Ah ternyata Arfen menghidupkan lampu minyak di sana. Yah,  mereka saat ini hanya bermodalkan cahaya  itu dan lampu hp.


"Wawww... Gue baru tau ternyata tempat ini secantik ini. Fen,  ini tempat apa? Kenapa banyak banget bunga warna warni di sini? " kata Thifa kagum,  ketakutan nya telah sirna begitu saja. Terganti akan takjubnya pada pemandangan hamparan bunga yang indah ini.


"Gimana? Cantik kan? Iyah cantikan ini di banding muka elo. " celetuk Arfen santai. Terserah apa kata Arfen. Ia tak peduli,  Keindahan Pemandangan ini terlalu membuat Thifa terpana, hingga ia tal peduli lagi pada celotehan Arfen.


"Lo mau tau ini tempat apa?" tanya Arfen. Thifa menolehkan pandangan nya seketika.


"Iyah tempat apa?  Kenapa tempat yang begitu indah gini,  ada di pinggir hutan. "


"Ini awalnya tanah kosong. Sampai,  papah dan mamah gue yang tanam semua ini bunga. Gue gak tau,  seingat gue dari cerita mamah gue. Ini tempat bersejarah buat mereka. Gue juga gak tau jelas. Yang gue tau,  ini tempat penting buat mereka. Dan gue juga mau,  ini tempat yang bakal mengukir sejarah kisah kita Thif. " Kata Arfen serius. Menggenggam tangan gadisnya,  menatap lekat akurat mata indah Thifa.


"Arfen. In--"


"Eitss,  jangan pikir gue gak bermodal apalagi gak ada inspirasi. Makanya pakai tempat yang sama, kayak kisah orang tua gue. Bukan gitu Thif, gue kasih tau ke elo. Bokap gue mau,  biar kebun ini tetap terurus,  makanya gue ajak elo kesini. " Lanjut nya memotong ucapan Thifa.


"Iyah elo gak ada inspirasi. Tapi,  gue senang kok. Kita bisa terusin urus taman ini. Gua bahagia kok Fen. " Ujar Thifa,  menatap tersenyum ke arah Arfen.


Seketika ada yang aneh pada Arfen,  ia merasa gugup? Karna Thifa tersenyum.


"Oh yah,  Ini juga tempat kiss scane mereka yang pertama. Dan menurut cerita bokap gue. Nyokap gue yang nyosor pertama. "


"Maksud lo apa ngomong gitu? Benerkan gue,  lo ada modus nya. "


"Enggak Thif sumpah! Gue gak ada niatan gitu! Gue ngajak lo kesini tulus mau nyatain perasaan gue yang serius. Ogah gue. Gue udah janji sama bokap elo. Enggak bakal sentuh sebelum halal. "


Tawa Thifa pecah begitu saja. Rasa takutnya yang selama berhari - hari merayapai tubuhnya hilang begitu saja. Thifa pikir,  ia butuh banyak waktu untuk menenangkan diri dari beberapa kejadian beruntun ini. Tapi,  faktanya,  hanya karna ada Arfen semua selesai. Thifa tidak begitu Trauma lagi?

__ADS_1


***


__ADS_2