
***
"Euy cewek pendek tapi gue sayang. Mau gak ka--"
"Enggak!" ketus Thifa singkat memotong ucapan Arfen begitu saja.
"Masih Marah? "
"Iyah masih. " sahut Thifa polos, yah karna memang itu yang Thifa rasakan. Gadis mungil itu ingat, bagaimana Mamah nya dan Arfen berbisik - bisik tadi. Entah apa yang mereka bicarakan. Thifa sudah bertanya, namun tak ada satu pun dari mereka yang mau menyahuti nya.
"Udah dong, Jangan ngambek gitu. Lo yang ngambek Gue yang sesek. " bujuk Arfen lagi, Thifa masih tetap diam.
"Au ah Gelap!" Thifa berjalan keluar mobil, saat mobil Arfen sudah terparkir manis di sana.
"Bentar dong, Euy--" Arfen ikut keluar, namun Thifa sudah meinggalkan nya begitu saja.
"Kak Arfen! " Seru Gadis itu, dari agak jauh berlari kecil menghampiri Arfen.
"Ngapain lo kesini? Minta sedekah? Salah tempat. " sahut Arfen singkat, menaikkan sebelah alisnya, menyadari siapa yang menjadi lawan bicaranya saat ini.
"Kok Kakak ngomong nya gitu. Aurel kan cuma mau bilang. Aurel mau nebeng entar balik sekolah. " rengek nya manja, yah gadis itu adalah Aurel. Aurel yang kini tengah menatap memelas ke arah Arfen.
"Gue balik bareng Thifa."
"Yah udah, kita balik bertiga aja kak. Aurel gak keberatan kok. "
"Gue yang keberatan. "
"Tapi kan kak, Au--" ingin Aurel bergelayut manja di lengan kekar Arfen.
"Apa sih Fen. Gue udah nungguin. Katanya setiap pagi gue di anter ke kelas. Sekarang nyatanya apa? Mau ngelak gimana lagi coba?! " pekik Thifa, menghempas tangan Aurel kasar.
"Iyah, Gue ta--"
__ADS_1
"Enggak usah alesan Fen. Udah ikut gue! " Kasar Thifa yang langsung menarik tangan Arfen begitu saja. Meninggalkan Aurel yang tengah geram di sana.
"Tumben? Kesambet apa nih lo? Marah - marah kalo ada yang deketin gue. Manja banget lagi, " protes Arfen, menahan tarikan Thifa.
"Eh iyah? Gue kok man--"
"Gak papa manja, Yang penting Gue cinta. Kalo udah cinta, yah... " Arfen agak membungkuk kan badan nya. Menatap nanar gadis sebahunya itu. Perlahan Arfen mendekatkan wajah nya. Pandangan Arfen jatuh ke bibir tipis Thifa.
Thifa menelan Saliva nya payah. Gadis mungil itu sudah menduga apa yang akan terjadi kemudian.
"Thif, Gue... Cinta ke elo" lirih Arfen, tangan nya sudah meraih tengkuk gadis mungil itu.
"Arfen... Sadar heyy... " Kilah Thifa, ia berusaha melepaskan tangan Arfen. Namun, sayang hasil nya nihil. Arfen bahkan semakin mendekat ke arah wajah Thifa.
Bukhhh
Bukhhh
Pukhhh
Arfen menoleh ke belakang. Bukan nya melotot atau membulat kan matanya, Reaksi Arfen hanya berdecak kesal. Mendapati orang yang tengah memergoki nya.
"Apa?! Kamu mau kasih alasan apa ke saya?! " pekik pria itu, pria tinggi dengan Rol kayu yang setia ada di tangan nya. Arfen kenal jelas Guru killer yang tengah memergoki nya ini.
"Selamat pagi pak Ghani. Awali pagi bapak dengan yang manis - manis. Lah bapak? Kenapa? Masih pagi udah marah - marah? " tanya Arfen memasang wajah polos andalan nya. Yang berpadu dengan cengiran tak berdosa nya.
Tukhhh
"masih nanya kamu?! Kamu enggak sadar kamu itu salah!"
"lah, salah saya di mana pak? Orang tadi saya cuma mau ambil nih sampah di kepala Thifa. Bapak aja mikirnya kelewatan. " kilah Arfen, ia segera mengambil daun kecil yang ada di kepala Thifa.
"Udah, jangan banyak alesan! Thifa, masuk kelas sekarang! Jaga jarak dari Arfen kalau mau waras! " titah Pak Ghani.
__ADS_1
Thifa meangguk, berjalan cepat meninggalkan Guru dan Murid nya itu.
"Saya masuk ke kelas juga kan pak? " tanya Arfen polos.
"Kamu ikut saya! "
Arfen mengangguk mengerti.
---
"Pak, kenapa saya hormat bendera. Saya kan enggak terlambat. Gak adil nih. "keluh cowok tengil yang saat ini tengah tegap hormat ke arah bendera.
"Jangan kamu pikir saya enggak tau. Apa yang mau kamu buat ke Thifa. " Sinis Pak Ghani ngeri.
"Ya elahh pak, itu seriusan mau ngambilin daun saya. Scane romantis nya itu cuma settingan pak. Saya cuma mau ngeprank doang pak. " bela Arfen.
"yah sudah, saya juga mau settingan menghukum kamu aja" sahut pak Ghani enteng.
"Pak, ampuni saya dong. Bapak liat tuh matahari panasnya mentar mentor. Lagi gak bersahabat kami pak. Dia ngambek" rengek nya. Dia sadar, panas nya sangat terik. Meski. Panas tidak akan memudarkan kegantengan nya yang mengukir sejarah, hanya saja. Itu terlalu gerah.
"Halah, kamu cowok kok takut matahari?! Besar mau jadi apa?!! "
"Yah jadi suami nya Thifa lah, masa iyah jadi Anak nya bapak terus"
"Ha, menjawab aja kerjaan nya! Kalo di bilangi sama yang tua itu nurut! "
"Kan tadi bapak yang nanya saya besar mau jadi apa. Ini udah saya jawab salah, enggak di jawab makin salah. Serba - serbi bapak nih. "
"Iyah karna kamu memang tempat nya salah! Udah, Kamu di sini sampai Les Pertama selesai!! "
" Lah? Jangan gitu dong pak. Lagian yah pak, saya bukan nya takut panas. Saya sadar, saya terlahir ganteng. Jadi, sepanas apapun. Enggak masalah untuk saya. kegantengan saya enggak hilang. Yang masalah itu, nih Gerah pak. "
"Pikir sendiri! "
__ADS_1
Pak Ghani melenggang begitu saja. Meninggalkan murid yang ngakunya ganteng itu.
***