My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
Episode 44


__ADS_3

***


Yang tadi komen minta up, sini sini merapat. oh yah, jangan lupa Vote nya dong. biar Author bahagia. kalo Author bahagia inspirasi jalan, dan up bakal sering hehe^^


***


Lanjut nya dalan hati. Tiba - tiba ada rasa sakit dan sesak yang aneh,  yang datang bersamaan,  di hati Thifa. Dia merasa sangat sakit,  membayangkan bahwa dirinya tidak akan berbicara dengan Arfen.


Hadeuhh, habis deh gue. Ini udah lewat lima menit. Bel udah bunyi. Pasti hari ini gue telat. Gerbang di tutup, dan bakal di buka setelag les ke dua! Habis! Habis! Beneran habis kali ini.


Batin Thifa, ia terus berlari kecil, sampai ia sudah masuk di area sekolah. Masih di antara tembok, belum sampai gerbang. Ia masih berada di tembok belakang sekolah. Yah, ini memang jalan pintas menuju sekolah, kalau jalan kaki.


"Euy,  cewek pendek tapi gue sayang. Lo kok larian gitu, kenapa? Lo gak di antar supir? Bokap lo bilang kemarin lo bakal di antar supir?" Tanya cowok itu, yang duduk santai di atas Tembok. Menatap lekat Thifa.


Thifa yang menegnali suara itu, spontan berhenti berlari. Ia menoleh ke asal suara.


"Arfen?! Lo ngapain manjat tembok gitu! Mau bo--"


Happp


Belum sempat Thifa mengoceh lebih jauh, Arfen sudah membungkam mulut gadis itu.


"Shhtttt, jangan berisik dong. Nanti tempat ini ketahuan. Gue sama Fandri, Hasan, Riyan, susah banget nemuin nih tempat. " Omel Arfen, yah tempat itu memang sangat berharga untuk jenis orang seperti Arfen. Sarana untuk keluar dari sekolah, yah tentu itu penting.


"Yah, lagian elo sih. Ngapain naik di atas tembok gitu. Siapa yang enggak berpikiran kalo lo mau bolos, saat lo sendiri dengan asyik nya duduk di sana. " Bela Thifa, gadis keras kepala ini jarang sekali mau mengalah, apalagi dengan Arfen.


"Gue naik tadi nungguin elo lah. Lo kok belum datang? Gue sebagai calon suami yah khawatir. Entar kalo lo di ganggu orang gimana. Apalagi si Nando itu mulai masuk sekolah hari ini! "

__ADS_1


Arfen nungguin gue? Dia gak marah sama gue? Sama papah gue?


Batin Thifa, jiwa raga nya jauh lebih tenang.


"Lo kok tau gue bakal lewat jalan belakang? "


"Ini namanya ikatan batin Thif. Makanya, lo nikah dong sama gue. Biar ikatan batin nya makin kuat. " Sahut Arfen santai.


Thifa menghela napas berat. Ia masih cukup lelah karna terus berlari, jika di tambah celotehan Arfen lagi. Gadis mungil ini tak kan sanggup.


"Udah lah, Gue mau masuk dulu. " Hela Thifa, ia ingin berjalan meninggalkan Arfen.


"Lewat Gerbang Depan? " tanya Arfen menghentikan langkah Thifa.


Thifa mengangguk pasti. Bagi gadis patuh seperti dia, yah itu jalan satu - satu nya masuk ke sekolah.


Bukhhh


"Buat lo aja Fen, Gue gak mau langgar peraturan. Mending Gue terlambat dari pada ngikuitin Alur sesat nya elo. "


Thifa menghela napas kasar, ia tak habis pikir dengan jalan pikiran nya Arfen. Gadis mungil itu melanjutkan perjalanan nya.


"Ini dia yang ****? Apa gue yang terlalu pinter sih. Suer, nih cewek ribet bener. Tinggal lompat aja susah banget. Kan gue bantuin entar, ada kursi gue sediain karna dia pendek. Enggak mau juga? Dia malah pergi lewat gerbang depan, yang jelas pasti udah terlambat. " Arfen geleng -geleng kepala dengan pola pikirnya Thifa. Menurut Arfen Thifa terlalu mempersulit Hal yang mudah.


***


Pukk

__ADS_1


Ada tepukan pelan di bahu kanan Thifa. Gadis itu menoleh ke kiri, terlalu biasa jika dia menoleh ke kanan.


" Allah ha Akbar!! Niat nya kan mau gue kagetin, nih malah gue yang kaget. Wah, ngisengin sayang susah juga yah." Arfen terkejut,


Cuppp


Masih pagi, dan Arfen sudah melayangkan satu kecupan nya di pipi Thifa.


"Elo ngapain ke sini? Bukan nya mau lompat pagar? " Pekik halus Thifa.


"Niat nya gitu yank, tapi gak tega juga liat cewek cantik kayak lo jalan sendiri. Mau gak mau sebagai calon suami elo, yah gue ngelindungi elo. "


Thifa memutar bola matanya dengan jengah, ia mempercepat langkah nya beberapa kali dari Arfen. Guna menutupi senyum yang kian melebar dari bibir nya.


***


"Loh Thifa?! Kok kamu terlambat ?! Tumben tumbenan nih?! " Pekik pak Eky yang sekarang jadwal nya jaga gerbang.


"Iyah pak maaf. Saya kesiangan bangun, maaf yah pak. Saya salah. " lesu Thifa, kali ini dia benar - benar merasa takut. Ini kali pertama Thifa terlambat, pasti sangat mendebarkan. Tapi, dia jauh lebih tenang karna ada Arfen di sisinya.


"Lah kamu juga Arfen? ! Bukan nya tadi udah datang?! Kok ada di luar lagi?! Kamu lompat tembok lagi?!!! "


Arfen tidak menjawab, pertama - tama, ia menampilkan cengiran manis tak berdosa nya dulu.


***


Nexttt???

__ADS_1


Lanjuuttt??


__ADS_2