My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
Episode 68


__ADS_3

***


"Ari! Sahabat ku!  Ku mohon tolong aku! Bantu aku Ari! " Lirih Stiven menatap Ari yang tengah ada di sana memeluk erat putri kecil nya.


"Sahabat? Bukan kah aku hanya pion yang kau gunakan?! Kau menjijikan Stiven!! " Sinis Ari yang berjalan mendekat ke arah sana.


"enggak SMA yah? Jadi gak tau kan arti persahabatan itu? " Sinis Nathan,  menatap remeh Stiven di sana.


"Ari! Jangan dengarkan mereka! Kau lupa! Mereka itu kejam! Mereka yang mengambil alih perusahaan ku! Ari!! "


"Kau bohong Stiven! Itu bukan perusahaan mu! Itu perusahaan milik keluarga Ardinanta! Kau yang mencurinya! Kau sangat Menjijikan! Kau hanya menganggap ku alat! "


"Mereka berbohong!! "


"Thifa enggak akan mungkin bohong pah! Thifa denger sendiri om Stiven bilang itu!" timpal Thifa.


"Sudah lah. Pak Ari,  semakin anda melihatnya,  semakin sakit perasaan anda. Andrew,  Urus mereka semua. " Titah Nathan,  yang sudah membalikkan telapak tangan nya.


"Om Nathan! Lepasin Nando. Nando gak salah,  dia gak tau apa - apa. Om dan papah tau kan dia juga nyariin Thifa sama Raisa. Dia juga tadi mau bantuin Thfia sama Raisa kabur. " Pinta Thifa menghentikan jalan nya Nathan.


"pah,  Papah ganteng tau gak? " Celetuk Arfen ikut berdiri di hadapan Nathan di sebelah Thifa.

__ADS_1


"Udah dari lahir. Enggak usah kamu kasih tau,  papah juga tau. " Sahut Nathan,  ia mengernyitkan sebelah alis nya. Sudah jelas akan maksud putra sulung nya yang menginginkan sesuatu.


"Jadi pah,  berhubung papah ganteng dan baik,  suka beramal juga. Lepasin Nando yah,  biarin aja rumah ini buat dia. Oke? Papah kan ganteng. " Timpal Arfen lagi,  dengan cengiran manisnya.


"Jadi kamu sebegitu cintanya sama Thifa? Sampai kamu mau menyelamatkan saingan mu demi Dia? Bagus. Papah bangga. Kalo emang udah cinta sama cewek,  yah harus tulus dan siap berkorban banyak. " Sahut Nathan melenggang masuk ke mobil,  menepuk pundak putra nya itu. Sebelum itu Nathan memberikan aba - aba pada Andrew,  untuk melepaskan Nando.


"Jangan takut. Bokap gue baik. Kuncinya,  puji aja dia ganteng. Entar apapun itu,  di turutin kok. " celetuk Arfen menatap manis gadisnya.


"Fen,  makasih yah. Gue tau lo pasti khawatir banget sama Gue. " Kata Thifa,  yang di lanjutkan dengan tatapan menunduk sedih.


"Bentar yah,  gue kesana dulu. Maksudnya tempat calon kakek anak - anak nya kita. " Arfen segera berjalan ke arah Ari yang sudah berbalik.


"Om Ari... " panggil Arfen. Ari menoleh seketika.


Bocah ini...


Enggak di kasih restu masih aja deketin Thifa. Udah di tuduh,  masih aja baik sama saya. Dan bahkan,  bantuin nyari Thifa tanpa lelah sedikit pun. Anak ini? Seserius itu?


"Percaya deh om sama saya! Saya janji bakal balikin Thifa aman dan selamat. " lanjut Arfen lagi,  saat tak mendapati jawaban dari Ari.


"Kenapa kamu masih begitu menghormati saya? Setelah saya menghina dan menuduh kamu?  Menutup restu saya rapat - dapat. Kenapa masih baik ke saya? " tanya Ari,  dengan wajah datar. Arfen juga tak dapat membacanya.

__ADS_1


Arfen harus ekstra hati - hati untuk menjawab nya. Mungkin saja ini ujian dari calon papah mertuanya. Salah jawab,  restu kandas.


"Apa karna kamu emang orang nya sangat menghormati orang tua? Bahkan yang jahat sama kamu? " lanjut Ari lagi,  saat tak juga mendapat jawaban dari Arfen.


"Om benar juga salah. Om benar soal saya orang baik,  dan menghormati orang tua. Tapi,  om salah waktu bilang saya baik ke orang yang jahat. Buktinya,  saya menghajar habis pria tua yang berani nyulik sepupu dan calon mamahnya anak - anak saya. " Sahut Arfen,  agak santai,  namun sedikit menekan.


"Siapapun dia,  tua atau muda,  jika berani menyentuh Thifa maka saya tak kan ragu memberinya pelajaran. Dan,  kenapa saya masih bersikap baik dan lembut pada om? Meski om beberapa kali menghalangi jalan nya hubungan saya dan Thifa? Jawaban nya satu om. Karna Thifa. " lanjut Arfen lagi.


Deg. Ari terdiam,  ia tak menyangkan akan mendapat jawaban seperti ini, dari orang yang menurutnya tengil dan petakilan seperti Arfen.


"Karna om papah nya Thifa. Saya enggak akan pernah melakukan hal yang menyakiti hati Thifa,  apalagi sampai membuatnya sedih. Jadi om,  selama ini saya hormat pada om hanya karna om papah Thifa. Jika om orang lain,  maka setidak nya om akan berakhir seperti orang itu,  karna menghalangi hubungan saya dan Thifa. " Sarkas Arfen lagi.


Enggak perlu palsu,  jujur aja. Karna,  inilah emang Gue. Yang ganggu Thifa dan hubungan gue,  atau orang kesayangan gue. Harus berakhir tragis dengan cara sadis.


Ari menghela napasnya berat. Entah apa. Makna dari helaan napas itu.


"Iyah,  kamu om izinkan pergi sama Thifa. Ingat,  jangan lama - lama. Antar dia dengan keadaan baik yang utuh. Mengerti?! Ingat juga batasan sebelum halal! " peringat Ari,  was was itu perlu.


"Yeahh!! "


Arfen bersorak bahagia. Apakah ia sudah mendapatkan restu Ari?

__ADS_1


***


__ADS_2