My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
S2 Bab 16


__ADS_3

***


Vania dengan kesal menarik Riyan jauh,  sejauhnya. Sedangkan yang di tarik merasa begitu bahagia karna Riyan yakin,  Vania tengan cemburu,  kan?


Manisnya.  Haruskah sering - sering buat dia cemburu gini?


Batin Riyan tersenyum puas. Puas sekali rasanya.


"Om, Pak Ghani dimana? " Tanya Vania mendongak, Okeh Vania harus sadar diri dia itu pendek.


"Di Tenda Guru, " Sahut Riyan enteng tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"Oh yah udah kita kesana, " Ajak Vania menarik tangan Riyan. Bukan nya ikut, Riyan malah balik menarik badan mungil Vania. Akibatnya, Bocah unyu itu harus jatuh dalam pelukan Riyan karna ketidak seimbangan kekuatan.


"Om Ini wa-?!!! " Belum sempat Vania menyelesaikan ucapannya, dia sudah di tarik Riyan lebih dulu. Menjauh dari perkemahan.


"Duduk!" Titah Riyan lagak bos.


"Ogah, Gak maoooo~" kilah Vania melipat tangan, mengerucutkan bibirnya.


Riyan menatap bibir Vania, Ada nafsu yang tak bisa di ucapkan mengalir deras dalam darahnya, membuatnya panas seketika.


Kuat Iman! Riyan! Lo harus kuat iman! Atau lo akan di benci seumur hidup bocah Rese ini.


Entah suara hati, batin, ataupun malaikat yang kini menggema di telinga Riyan. Membuat Cowok angkuh itu mengurungkan niatnya. Menahan hawa nafsunya.


"humph! Om Galak nipuin aku kan?! Huh jahat! " Kesal Vania yang masih merajuk. Bukannya semakin Jelek, Di mata Riyan Vania semakin terlihat menggemaskan. Membuat Cowok itu tak tahan ingin menerkam kelinci kecil ini.


Ingat Riyan! Di jaga! Bukan di rusak! Cewek itu harga dirinya tinggi! Sanjung dia! Jangan merendahkan nya hanya karna godaan Nafsu birahi semata!

__ADS_1


Lagi, suara itu tiba - tiba muncul di kepala Riyan. Menggema hebat di telinganya.


Riyan menghela napas kasar.


"Iyah Gue bohong. " Sahut Riyan enteng, duduk di sebuah batang kayu, dari pohon tumbang itu.


"Kenapa Om bohong? "


Deg.


Riyan sendiri bingung, kenapa dia berbohong? Yang cowok itu ingat adalah dia merasa sangat panas melihat kedekatan Vania dan Rehan.


"Terserah gue, ini kan hidup gue! "


"Iyah sih, tapi kan yang Om bohongin itu Aku. Yah kan kasihan teman- temen aku, mereka jadi kekurangan anggota bangun tenda. Udah lah, Aku balik dulu. Terserah om mau apa~" Kata Vania bersiap melangkah.


"Tunggu dulu! " Cegah Riyan menahan tangan Vania. Riyan berdiri mendekati Vania. "Gue gak pernah bilang lo boleh pergi." lanjutnya.


"Sangat butuh. Sekarang gue gak izinin, lo harus tetap di sini. "


"Oke oke, Aku duduk. "


Riyan melepas tangan Vania. Dengan cepat bocah unyu itu lari agak jauh dari Riyan.


"Ogah.Aku mau masang tenda dulu. Dah Om Galak~" Kata Vania melambaikan tangannya. Sambil menjulurkan lidahnya, mengejek Riyan.


Ingin sekali Riyan mengamuk di sana. Tapi, di urungkan lagi niatnya karna melihat wajah Vania begitu unyu.


***

__ADS_1


"Kita ngapain kesini Fen? " tanya Thifa saat langkahnya dan Arfen sudah berhenti.


"Di hutan, berdua, ngapain lagi. Buat anak dong Yank, " Sahut Arfen enteng, menarik Thifa dalam pelukannya.


Thifa melotot tajam ke arah Mata Arfen. Cowok tengil ini kayaknya lupa minum obat.


"Lo waras?! Lo sadar apa yang lo bilang ini?! Gila lo yah! " Bentak Thifa meronta, menjauh dari Arfen. Tapi sayang nya, pelukan Arfen terlalu erat sampai Thifa sendiri tak mampu melepas nya.


"Slow Respons Dong, iyah iyah gue bercanda. Tenang, gue gak mau punya anak haram. " Sahutnya enteng tanpa beban. Menarik Thifa duduk di pangkuannya. Tapi, Thifa memilih duduk di sebelah Arfen. Jaga - jaga kalau anak ini khilaf.


"Ngapain kita kesini? " tanya ulang Thifa.


Arfen menoleh, menatap manis gadisnya.


"Enggak ada sih, Gue ngantuk mau tidur. Sepanjang jalan di mobil lo puas tidur, guenya enggak, Gue jagain lo malah. Gantian donh, gue tidur, lo jagain gue. " Arfen mulai membaringkan badannya. Kepalanya ada di paha gadis manisnya.


Meskipun Tempat itu agak berumput, bodoamat soal seragam yang kotor.


"Lo ngantuk? " Tanya Thifa yang kali ini nadanya lebih lembut. Denhan tangan nya membelai Lembut rambut acak cowoknya.


Bukannya menyahut, Arfen malah sudah menutup matanya.


"Fen, Arfen, Fen, lo. Udah tidur? " Tanya Thifa agak menggoyangkan kepala cowoknya.


Arfen masih diam, dan matanya masih terpejam akurat. Menandakan bahwa dia benar - benar sudah tertidur.


"Arfenik Arkasa, Cowok Pertama yang buat gue gak mau natap cowok lain lagi. Arfenik Arkasa, calon suami idaman yang selalu gue harapkan. Arfenik Arkasa, cowok gue, dan akan selalu begitu sampai Ijab kabul di ucapkan. " gumam Thifa mencium lembut kening Arfen.


Tanpa Thifa sadari, ternyata sudah ada senyuman tipis dari bibir Arfen. Mungkin kah Arfen hanya pura - pura tidur?

__ADS_1


***


Hai hai guys, jangan lupa jejak nya yah~


__ADS_2