
***
"Gak masalah, Asal yang ngerawat itu Thfia, cewek paling cantik. Yah gue ikhlas lah lahir batin. "
Raisa memutar bola matanya jengah. Harusnya, ia sudah menduga ini akan keluar dari mulut sepupu resenya.
"Terserah deh. Oh yah, gue mau nanya? Kenapa kok pak Ari sensi bener sama keluarga Arkasa?! Apalagi Wijaya?! "
"Jadi itu, henmm... Cari tempat yuk. Halaman belakang gitu.. " Arfen menarik tangan Raisa.
***
"Udah sepi nih? Sekarang cerita, atau gue yang bakal selesaiin cerita hidup lo. " pekik Raisa ceplos.
"Iyah, kejem bener. Yah, jadi sebenarnya yang punya masalah sama kita tuh Stiven, Pemilik grup Taerin yang di kuasai oleh keluarga Wijaya dan Arkasa. Yah, bokap lo sama bokap gue simpel nya. " terang Arfen, masih awal cerita.
"Lah, terus?! Hubungan nya sama bokap Thifa apa?! "
"Stiven itu sahabat karib nya Bokap Thifa. Yah mungkin dia udah cuci otak nya Om Ari. Mana Gue tau. yang jelas, usaha gue buat dapetin restu, gak bakal luntur deh. Apalagi punah. "
"biar gue tebak. Si stiven itu bokap nya Nando, iyah? " Raisa melirik Arfen serius.
"Iyah, Nampak banget yah sikap Munafik nya? " Sinis Arfen. Siapapun yang berusaha menagganggu hubungan Arfen dan Thifa, harus siap - siap mundur teratur.
"Jelas banget bodoh nya. Udah lah, Gue mau balik kelas. Takut telat. Lo boleh pergi juga, gue udah gak butuh elo. " Raisa melenggang begitu saja. Meninggalkan Arfen, tanpa rasa bersalah.
***
__ADS_1
Di mana sih tuh cewek muka tebal! Kok dia belum masuk! Gak tau apa guru sebentar lagi bakal masuk! Entar, kalo dia dihukum gimana! Kan. Yang harus hukum dia adalah Gue!!
Batin Nando Risau, bel sudah berbunyi sejak Lima menit yang lalu. Tak ada tanda - tanda kemunculan Raisa. Membuat Nando semakin cemas. Ini bukan karna suka, tapi karna Nando ingin menjadi orang satu - satunya yang bisa menyiksa Raisa, bukan?
Tak berapa Lama, Nando akhirnya bisa menghela napas lega, karna matanya sudah melihat Raisa ada di kelas. Duduk seperti biasa di bangku nya. Kelas yang senyap, tak ada yang berbicara. Semuanya fokus berkutat pada buku mereka.
***
Fokus Thifa sudah tidak lagi ada pada materi Akutansi di depan. Pikiran nya melayang - layang, menerka apa yang merasuki Papah nya, hingga dengan tega ingin menjauhkan Thifa dan Arfen. Yang jelas - jelas, bahwa Thifa sudah menyukai Arfen.
Apa ini?! Sebenarnya Ada masalah Apa papah dengan keluarga Arkasa?! Keluarga itu baik! Apalagu Tante Sheryl dan Shiren kecil!
Batin Thifa, tak kuasa sekali jika Thifa harus benar - benar melepas calon mamah mertua yang pengertian , dan calon Adik ipar menggemaskan itu. Dia akan rugi besar tentu nya.
Apapun itu! Gue harus tau alasan nya! Gue bakal minta penjelasan ke bokap Gue!!
Bel pergantian pelajaran telah selesai, Guru yang sebelumnya masuk. Mau tidak mau harus menyudahi kelas. Begitu pula dengan bu Ani yang mengajar di kelas Thifa sekarang, ia keluar dan akan di gantikan oleh bu Shilla guru bahasa indonesia.
Dalam menunggu bu Shilla ke kelas mereka, seperti biasa mereka hening membaca buku. Meski IPS, kelas mereka adalah Kelas IPS Satu, yang notabane nya sama kayak IPA dua. Dan tak bisa menyamai IPA Satu.
Thifa menoleh ke kiri, tampak Empat orang cowok tampan yang sangat di kenal nya berusaha untuk masuk lewar pagar. Yap, habis bolos maksudnya, mungkin?
Gila yah tuh orang! Lapak lompat nya banyak! Tadi pagi di tembok belakang sekolah, sekarang di sebelah kelas gue! Gendeng!
Umpat Thifa dalam hati. Ia geleng - geleng kepala, Sikap Arfen yang bar - bar ini, membuat Jiwa Thifa tidak tenang.
"Arfen CS!! Kemari kalian!! " Pekik bu Shilla yang sudah berdiri menatap Arfen CS dari jendela itu.
__ADS_1
Thifa terbelalak tak percaya, bagaimana mungkin bu Shilla ada di sana. Tidak terdengar langkah nya, atau memang Thifa yang kurang fokus?
"Kalian ke sini! Saya bakal kasih hukuman buat kalian!! Cepat kesini!! " titah bu Shilla yang saat ini tengah marah, sangat menyeramkan. Bahkan ada beberapa murid di IPS Satu yang sampai gagu gemetar.
Tamat deh kalian, siapa suruh main manjat - manjat. Makanya, kalau belum lulus dari Kebun Binatang tuh, jangan sok mau keluar.
Menurut Thifa ada bagus nya juga jika Arfen ketahuan. Berharap, agar cowok itu jerah lompat pagar, apalagi niat nya mau bolos.
Bukan nya ketakutan, Arfen dengyn santai nya mengacungkan jempol pada bu Shilla, yang artinya. Ok buk, saya kesana.
Entah lah, mungkin Arfen benar - benar enggak waras.
***
Cerita singkat, bentuk protesnya Riyan.
Riyan : Oik Author bageee!! Bisa gak kasih gue pemeran Cewek buat di jadiin pacar. Mereka ada, kenapa gue gak ada?!
Author : hiya lupa. Bagian jodoh kamu. Authornya lupa buatin. Halah, udah lah Gak papa. Sendiri itu santuy, damai.
Riyan : Tapi gue mau pemeran cewe pokok nya. Ini gak adil! Kalo gak di kasih! Gue bakal jadi Pebinor aja, yang bakal Rusak hubungan Thifa sama Arfen!!
Readers : mundur teratur sebelum berakhir di alam kubur!!! 🔪🔪
Nexttt??
Lanjut?!
__ADS_1