My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
Episode 63


__ADS_3

***


"Sahabat adalah pion,  menurut mu begitu? Kalau begitu artinya,  Kau adalah sampah yang tak berharga. Sampah busuk yang tak dapat di daur ulang. Karna itu spesies gila seperti mu,  harus di kembalikan ke habitat nya. " Sinis Raisa,  menatap meremehkan pada Pria itu. Masih dengan sikap dan nada santai,  khas nya Rei.


Apa Raisa bilang? Habitat?  Bukan nya Habitat itu??


Mata Stiven membulat,  ekspresi dan cara bicara Raisa sangat mirip dengan Rei. Mengingat kan kembali pada Reihan Wijaya,  si Presdir Dingin yang angkuh dan arogan. Tak pernah menunduk pada siapapun.


Eh,  Ralat. Rei sering nunduk kok sama Aisyah.


"Haha! Kau mirip sekali dengan Rei! Membuat ku merasa lebih senang dan tenang untuk menyiksa mu. Kemiripan mu itu membuatku jijik!! " Bentak Stiven,  menatap mengamcam pada Raisa.


Raisa malah mengernyit heran masih dengan senyum meremehkan yang ia pelajari dari papah nya.


"Thifa setuju sama yang Raisa bilang! Orang yang sama sekali enggak menghargai peraturan. Enggak layak di anggap manusia! Apalagi hidup! Orang seperti anda,  pantasnya mati dengan sangat menyedihkan!! " Thifa begitu emosi,  sampai ia melontarkan kata - kata Sumpah pada Pria itu.


"Diam kalian! Kalian tidak tau!  Bukan aku yang salah! Ini semua salah Nathan dan Rei yang mengambil alih perusahaan ku! Mereka yang jahat! Mereka yang mengambil Hak ku!! " Seru nya,  mendekatkan wajah nya ke arah Thifa dan Raisa satu persatu.

__ADS_1


Nampak nya aja gagah keren gitu. Eh,  gak taunya napas nya bau.  Sumpah,  gue mau muntah. Kok bisa sih Nando punya Bokap jenis begini? Oh iyah gue lupa. Nando kan anak angkat.


Umpat Thifa. Napas yang keluar dari mulut Stiven sangat menyengat hidung gadis mungil itu. Membuatnya menahan napas untuk beberapa saat.


Ia kembali bernapas ketika udaranya di rasa sudah membaik.


" Dulu perusahaanku menduduki tiga teratas di jajaran Perusahaan Elit. Entah karna iri atau berhati busuk. Rei dan Nathan malah bekerja sama untuk menghancurkan perusahaan ku. Mereka dengan ke irian dan niatan busuknya,  menghancurkan Perusahaan yang sudah aku bangun dengan susah payah. Kejam!  Sangat kejam! Dan tidak berperasaan!! " Terang nya,  menyudutkan Rei dan Nathan secara bersamaan.


"Mereka mengambil alih perusahaan ku untuk dijadikan cabang milik mereka. Lantas,  siapa yang begitu kejam? Aku yang ingin memgambil alih hartaku?  Atau mereka yang telah merebut perusahaan ku?! "  Lanjut nya lagi,  menatap iba kearah Raisa.


Deg.


Mata pria itu terkesiap,  ia sempat berpikir untuk memanfaatkan Raisa dan Thfia,  dengan menjelaskan kisah sedih yang mengunggah hati. Namun,  siapa sangka Raisa malah akan beraksi begini.


"Perusahaan Yang anda bangun sendiri? Anda berhalusinasi? Atau bermimpi? Saya tidak bodoh. Itu adalah perusahaan Ardinanta yang anda curi,  dari tangan Ken. Papah Reihan dan Om Nathan hanya mengambil alih hak mamah Aisyah. Mereka mengambil kembali harta kami,  dari tangan anda. Tapi, anda?  Anda dengan tidak malunya malah mengakui itu sebagai perusahaan anda. Tidak kah ini menyedihkan?!" Pekik halus Raisa.


Rei ataupun Aisyah sendiri tidak pernah menceritakan itu pada Raisa. Namun,  Buah jatuh tak kan jauh dari pohonnya. Raisa tentu memiliki bakat Nya Rei. Raisa ingat,  ia tau hal ini dari pelayan di mansion Ardinanta.

__ADS_1


Sial! Bagaimana bocah ini bisa tau?!


Umpat Stiven dalam hati. Kacau sudah rencana yang ia susun matang - matang. Untuk memanfaatkan Raisa? Tak semudah itu!


"Om menjijikan! Sangat menjijikan! Om yang mencuri,  tapi malah menuduh orang lain! Tak tahu malu!! " Cibir Thifa. Ia tak habis pikir. Bagaimana Papah nya bisa menganggap orang seperti ini sebagai teman,  dan mau mengakuinya.


"Diam kalian! Kalian pikir kalian ini siapa?! Kalian hanya bocah yang umurnya tak lama lagi!! " Maki Stiven. Hanya dua remaja,  mengapa bisa membuatnya begitu emosi.


"Memang nya kenapa?  Kenapa kalau aku mencurinya dari perusahaan Ardinanta? Siapa yang akan marah? Dan karna itulah,  kau! " Ia menunjuk menyeramkan ke Arah Raisa.


"Kau akan mati,  karna kau lah yang satu - satunya sebagai pewaris tunggal,  harta kekayaaan Farhan Ardinanta! Dengan matinya engkau. Setelah aku kembali merebut perusahaan itu. Perusahaan itu akan kembali jadi milik ku!!! " lanjut nya,  terdengar tawa yang menjijikam dari mulut nya.


"Mimpi itu malam?  Bukan siang! Aku enggak bakal biarin anda menyakiti Raisa!! Karna Raisa sahabat saya. Akh,  anda itu bodoh dan tak tahu malu. Mana mungkin mengerti defenisi dari kata Sahabat!! " Bela Thifa menatap mengancam ke retina Stiven. Emosi nya akan rasa sakit papah nya nanti,  meluap saat ini. Yah,  Thifa harus membalaskan pengkhianatan ini bukan?


***


Nexttt??

__ADS_1


__ADS_2