My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
S2 Bab 6


__ADS_3

***


"Nan,  bokap gue kayaknya ada di rumah deh. Lo yakin mau masuk? " Tanya Raisa,  saat ia menyipitkan matanya,  tampak jelas mobil mewah papahnya terparkir rapi di sana.


"Yakin lah,  Kita masih butuh restu dia Sa,  buat nikah. Gue ogah yah pacaran kucing - kucingan gini. Apalagi nikah tanpa restu. " Sahut Nando enteng. Memarkirkan mobilnya di sebelah mobil Rei.


"Nan,  lo waras kan? "


"Udah lah,  yuk turun. Kita di tungguin tuh sama calon papah dan mamah mertua. " Kata Nando enteng,  ia membuka pintunya lalu dilanjutkan membuka pintu mobil Raisa.


Keduanya berjalan beriringan menuju pintu utama rumah Wijaya itu.


"Mana si Arfen? Kan papah suruh dia buat antar kamu? Kenapa jadi anak ini?! " Pekikan adalah sambutan terhangat yang bisa Rei berikan.


Tepat saat mereka ingin menekan bel itu,  sudah ada Rei yang membukakan pintu. Nando kali ini harus bersyukur, karna Rei hanya membentak.


"Pah,  Ais baru pulang loh. Nando kan juga temen Ais,  papah jangan kasar gitu dong. " Lirih Raisa,  menatap sendu papahnya.


Rei dapat melihat nya betapa putri sulungnya ingin Rei merestui hubungan mereka. Namun,  Reihan tetap lah dia. Orang angkuh dengan sejuta syarat untuk mendapatkan restu darinya.


"Kasar gimana? " tanya balik Rei.


"Papah itu udah bentak Nando,  padahal dia baru saja sampai loh. "


"Syukur cuma papah bentak, niatnya mau papah bacok pake golok. " sahut Rei enteng,  layaknya perkataannya itu lumrah.


"Mau bacok saya om? Tapi,  dapet restu gak? " Kata Nando tak kalah enteng.


Nando menatap tajam Rei,  Rei juga sama. Kedua orang yang berkeprinadian angkuh ini saling bertatapan sengit.


"Mamah! Mamah! Papah bentak Ais,  mah! " Lapor Raisa masuk ke dalam rumah. "Papah juga mau bacok teman Ais!! " lanjutnya lagi.


"Siapa yang mau di bacok kak? " tanya gadis itu, yang suara menggemaskannya menggema di sudut rumah Wijaya.

__ADS_1


"Heyyy,  Shiren. Kamu di sini?" Sapa Raisa ikut duduk di sofa sebelah Shiren.


"Iyah kak. Belajar sama Refan. "


---


"Mau masuk? gak takut hilang nyawa? " Sinis Rei.


"Enggak tuh. " sahut Nando tak kalah sinis.


Rei menghela napas kasar.


"Masuk tapi jangan rusakin barang. Duduk di lantai. Sofa saya mahal. " Peringat Rei melenggang begitu saja.


"Enggak jadi Bacok om? "


"Golok saya terlalu mahal buat leher dekil banyak daki punya kamu. "


***


Kali ini Thifa memilih pulang bareng Arfen. Meskipun, dengan agak terpaksa.


"Makan dulu yah, laper gue. " Sahut Arfen enteng. Dan tanpa Thifa sadari mereka sudah berhenti di sebuah Warung jalanan.


"Makan di sini? " Tanya Thifa mengernyitkan dahinya. "Lo yakin? Gue sih Acc aja makan di tempat gini. Toh, gue dari SD Sampai SMP sering makan di tempat begini. " Lanjut Thifa menatap Arfen. Lalu mengalihkan pandangan nya lagi ke arah warung itu.


Tampak warung sederhana berwarna Biru dan putih, itu cukup indah dan sederhana. Itu juga tidak kumuh. Jadi, jangan khawatir soal kehigenisannya. Dan seperti nya, itu bisa di sebut Cafe sekarang.


"Gue? Gue sering kali makan di sini. Tongkrongan gue, Riyan, Hasan, sama Fandri nih. " Sahut Arfen enteng. Ia membuka pintu mobilnya.


"Ha?! Jadi ini tempat kalian Nongkrong?! " Pekik Thifa, Keluar dari mobil nya. melotot menatap tak percaya ke arah Arfen.


Pasalnya, siapa yang tidak heran dan terkejut. Empat Tuan muda dari Empat keluarga konglomerat mangkal nya di Warung sederhana itu.

__ADS_1


"Heyy, jangan lupa hidupin Wifi lo. Gue kasih entar kata sandi nya. " Lanjut Arfen menarik tangan Thifa.


Thifa lebih melongo tak percaya bocah ini pakai Wifi gratis.


Dia beneran anak kandung keluarga Arkasa gak sih?! Kok gue kayaknya curiga.


Batin Thifa. Yang masih memgikuti langkah Arfen.


Mereka berdua duduk di salah satu meja.


"Kak, Kakak!! " panggil Arfen mengangkat tangan nya.


Ada seorang Nenek yang cukup tua datang.


"Pesan apa Fen? " tanya Nenek itu yang memang sudah cukup kenal dengan Arfen.


"Mie Goreng spesial kak, Dua. " Sahut Arfen.


Thifa hanya diam memperhatikan kedekatan keduanya.


"Oh yah, ini Thifa yah? Pacar kamu yang sering kamu omongin? " Tanya kakak itu lagi, matanya mulai beralih ke arah Thifa.


Mungkin Thifa berhalusinasi, bagaimana mungkin Arfen memanggil kakak pada seorang nenek - nenek.


anak ini beneran gak waras?


batin Thifa, ia semakin bingung saat ini.


"Oh yah udah. tunggu yah, biar Kakak buatin dulu. " Kata Nenek itu. Berjalan melenggang pergi.


"Sippp!! Kak!! " Arfen menyahut ringan dengan menampilkan cengiran manisnya.


"Kakak? " Pekik Thifa mengernyitkan dahinya. "Itu nenek - nenek loh Fen? " lanjutnya.

__ADS_1


***


__ADS_2