My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
Episode 41


__ADS_3

***


Apa gak masalah yah Gue ninggalin Fernando gitu aja. Tapi kan, Humph!


Batin Thifa gagu sendiri, ia hanya bisa mengikuti Langkah Arfen yang sedari tadi menarik nya. Hingga Akhirnya mereka sampai di Kantin.


Thifa mengedarkan pandangan nya. Sepi. Itulah yang terpancar dari nuansa Kantin yang selalu ramai ini. Yah, tidak heran juga. Pasal nya, saat ini adalah jam Pelajaran Ke empat. Hanya ada beberapa murid yang terlihat duduk dan makan di sana. Dan dapat di pastikan, itu adalah Anak XI IPA Lima.


"Duduk di sini Yank, Gue pesen minum dulu." Arfen meminta Thifa untuk duduk di salah satu kursi yang sudah di sediakan nya. Thifa hanya bisa ikut duduk di sana. Meski pikiran nya saat ini tertuju pada Papah nya.


Papah Gimana sih?! Katanya suka sama Arfen?! Kenapa malah minta Nando pindah sekolah ke sini!


Batin nya lagi, ia mengutuki hari nya yang satu ini.


"Kencan pas Jam Bolos Fen? Dapet bintang lima dari gue! " Celetuk salah satu dari dua orang yang duduk di sudut sana.


"Oh yah dong. Kita kan pro, " sahut Arfen dengan pede nya. Yah, melihat kedekatan mereka. Thifa tau, Dua anak lelaki itu sekelas dengan Arfen.


Terserah lah, bodoamat juga.


Batin Thifa. Saat ini dia benar - benar enggan memikirkan apa yang orang lain katakan. Masalah nya sudah cukup banyak sekarang.


Arfen melirik Thifa yang lesu. Tanpa Thifa sadari. Cowok tengil itu jelas tau apa yang ada di pikiran gadis mungil nya.


"Tega lo yah Thif... " lirih Alden, menatap lurus ke depan.


Perekataan ini sukses menarik seluruh perhatian Thifa. Hingga gadis manis itu menoleh ke arah kiri, Arfen. Pasal nya, Arfen yang selalu ceria mendadak sendu? Dunia masih berputar, kan?

__ADS_1


"Kenapa Fen. Gue tega apa lagi? "


"Yah tega lah elo. Udah sah sah nih suami ada di sebelah. Eh elo nya malah mikirin cowok tadi. Lo punya perasaan gak sih Thif?! "


"Oh itu. Gue gak punya perasaan." Thifa manggut manggut, sembari menahan senyuman Tipis nya. Ekspresi Arfen yang cemburu terlalu menggemaskan di mata Thifa.


"Lo acuh terus. Entar gue habis kesabaran, lo gue culik. Langsung bawa ke KUA! Sumpah! Gue dah gak nahan! "


"Yang mau nikah sama lo siapa? Udah ngaca belum? "


Cuppp


Arfen bukan seorang yang penyabar. Satu kecupan manis Arfen layangkan di kening gadis mungil nya.


"Arfen! Ini sekolah! Mohon deh, waras nya itu di balikin lagi!! " protes Thifa, menjauh dari Arfen. Terlalu dekat dengan Arfen membuat jantung nya berdegub tak beraturan. Namun, Entah di bagian kecil mana, ada rasa yang tak bisa Thifa utarakan.


"Sabar Thif. Ini cobaan, biarin aja. Lo waras, dia gila. Ngalah aja Thif. Iyah in aja apa yang dia omongin. " celetuk Thifa pada dirinya sendiri.


"Yang Gue tau orang gila tuh ngomong sendiri. Nah kan, kebukti? Siapa yang ngomong sendiri? Jadi, siapa yang gila? " Ledek Arfen santai. Ukh, kali ini Thifa kalah telak.


"Arfen!!! Rese! Gue gak mau nikah sama elo!! " Thifa memukul kuat bahu cowok kekar nya.


"Syukur cuma Kening, kalo gue hilap. Gue sosor tuh mulut gimana?!"


Jlebbb


Tiba - tiba Thifa merasa ada aura yang membahayakan. Sangat tidak enak. Thifa seketika begidik ngeri, mendengar ucapan cowok ini.

__ADS_1


"Terserah elo! Gue mau balik ke kelas! Minum aja sendiri! " ketus Thifa berjalan cepat.


Gue gak tau, dan baru sadar hari ini. Kalo, setiap gue berdebat sama Arfen. Gue ngerasa lebih tenang.


Batin Thifa, ia sekarang sudah bebas menerbitkan senyuman selebar mungkin. Pasal nya sudah tak ada lagi Arfen yang akan melihat. Sumber nya bisa tersenyum.


--


Awas aja lo Lathifa Kanneira. Gue bakal enyahin elo. Siap - siap aja buat gue jual ke luar negri. Nikmati hari - hari terakhir elo.


Batin Aurel, yang berdiri di sudut ruangan sedari tadi memperhatikan kisah asam manis nya dua insan tadi.


***


"Raisa Nak, mulai besok dia Fernando bakal masuk di kelas kamu. Kamu hari ini boleh ajak dia keliling sekolah biar dia lebih kenal sekolah kita. " Titah pak Ghani lembut namun Tegas.


"Oh okeh pak. Siap, saya bakal minta Teman XI IPA SATU buat welcome ke dia. " sahut Raisa ramah. Yah itu lah Raisa, gadis Es itu hanya biasa tersenyum pada orang - orang tertentu. Hanya keluarga dan para guru.


Dih cewek ini. Muka nya tebel amat. Bagus bener Akting nya. Sampai gue mau muntah. Sumpah, gue paling gak suka liat cewek yang banyak Akting kayak dia ini. Mending Thifa polos Apa adanya. Tadi, Apa kata guru ini?! Dia mau gue jalan dan sekelas sama cewek model begini! Ogah!!


Batin Nando, ia melirik tajam Raisa yang berdiri di sebelah nya.


***


Nexttt??


Lanjutttt??

__ADS_1


__ADS_2