My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
Episode 72


__ADS_3

***


Nando si cowok jangkung dan dingin,  yang dalam sekejap saja sudah bisa terkenal di sekolah Merah Putih,  karna emang wajahnya yang ganteng dan sikap nya yang dingin dan sulit berbaur. Cowok jangkung ini hanya fokus pada lamunan nya,  mengabaikan segala riuh ricuh di lapangan akibat ulah gila nya Arfen,  yang membuat banyak kaum hawa bersorak.


"Nando? ngapain? ngelamun? awas lo kesambet entar! " Celetuk seseorang duduk di hadapan Nando.


Terkejut? Iyah,  Nando terkejut mendapati wanita yang menyapanya adalah,  perempuan yang sama yang selalu ada di dalam pikiran nya,  dimanapun dan kapanpun.


"Raisa? Ngapain lo di sini? " Tanya Nando,  fokusnya ada pada Raisa saat ini.


"Ngobrol sama elo. Oh iyah,  Thanks yah udah bantuin gue kabur. Dan sorry,  gue nuduh elo yang enggak - enggak. " Raisa mengelurkan tangan nya,  menatap Nando dengan senyuman.


"Oh? Udah sadar sekarang? "


Raisa diam,  ia hanya mengedikkan bahunya,  tanpa ada maksud apapun.


"Btw,  Kenapa di lapangan berisik banget? "


"oh itu...  Sepupu gue yang ganteng narsis nya kumat."


Nando hanya menganggukkan kepala nya mengerti. Ia ingin mencari topik pembicaraan lagi,  agar bisa lebih lama dengan Raisa. Sayangnya,  Nando itu tipikal cowok dingin yang jarang ngomong. Ia tidak tau dan tidak bisa untuk memgobrol santai dengan Raisa.


"Oh yah,  Kantin yuk bareng gue. Makan bareng Thifa sama Arfen,  yang lainnya juga. " Ajak Raisa yang tanpa permisi langsung menarik tangan Nando.


Tarikan simpel ini ternyata mampu membuat Nando bergetar dan salah tingkah. Ada rasa yang tidak bisa di ungkapkan di hati Nando. Ia sangat bahagia.


"Lo gak marah atau benci gue Sa? " Tanya Nando serius.


Apa yang gue harapkan sebenernya? Harusnya gue udah tau jawaban nya. Raisa gak suka sa gue.

__ADS_1


Batin Nando,  ia mengutuki dirinya sendiri karna bertanya hal itu.


"Benci elo? Gue dari awal enggak benci elo. Cuma,  gue gak suka aja ada yang gangguin hubungan bahagia sepupu gue. Itu aja sih. "


Deg.


Raisa gak benci gue?


Nando mulai mengulum senyuman manis nya,  meski masih sedikit di tutupinya.


"Jadi maksud lo. Lo awal gak suka liat gue,  bukan karna gue anak nya Stiven musuh bokap lo. Melainkan karna elo ngerasa gue ini ancaman bagi hubungan Arfen dan Thifa?? "


Raisa mengangguk pasti.


"Gue gak suka liat Arfen sedih. Muka dia gak cocok jadi orang sedih. "


"Asal lo tau Sa. Gue gak suka lagi sama Thifa. Karna ada cewek yang lebih gue sukai. Jadi,  elo enggak usah takut gue ganggu hubungan Thifa sama Arfen lagi. Gue sekarang cuma anggap Thifa adik gue. Gue cuma sayang sama cewek itu, dan selalu mikirin cewek itu. " Kata Nando,  menatap serius Raisa. Nando mengenggam erat tangan mungil yang menariknya tadi.


"Cewek itu E--"


Tring! Tring!


Dering nada Hp Raisa membuyarkan semua nya. Sontak Raisa melepas genggamab tangan Nando,  dan mengangkat Telepon nya.


Entah kenapa,  saat Raisa melepaa genggaman tangan itu. Ada yang kurang dari Nando. Nando merasa seakan - akan ada yang hilang dari dirinya.


"Riyan?  Apa yan? Gimana? Lo udah makin baik? " tanya Raisa saat mendapati orang di ujung telepon itu adalah Riyan. Si cowok pahlawan yang menyelamatkan Raisa.


Oh? Jadi Riyan? Wajar lah Raisa lebih mentingin dia. Faktanya, Riyan lah yang nyelamatin Raisa.

__ADS_1


Batin Nando. Tiba - tiba ia merasa sesak sendiri. Sakit,  tapi ia tak tahu di titik mana kesakitan itu.


"Gue baik Sa. Oh yah,  lo udah makan siang? " Tanya Riyan balik di ujung telepon.


"Otw mau makan nih Yan,  sama Arfen yang lainnya juga. "


"Uh,  iri deh gue sama kalian. Kalian makan bareng,  gue makan sendiri. "


"Santai aja kali. Entar pulang sekolah gue bawain lo makanan yah. Entar,  juga ajak Arfen,  Thifa dan yang lainnya biar rame. Makanya,  lo cepet sembuh dong. "


"Yah makanya lo doain dong. "


"Iyah iyah Gue doain selalu doain.  buat elo apa sih yang enggak. "


"Yah udah sana lo makan. Entar kurusan gak enak di liat. "


Tut! Tut!


Raisa dan Riyan tertawa kecil dari tempatnya.


Ada rasa panas yang tak bisa di utarakan di hati Nando. Saat mendengar percakapan ringan antara Riyan dan Raisa. Hatinya juga membara melihat senyum yang terukir di wajah Raisa,  karna Riyan.


Raisa selalu ketus ke gue. Tapi, dia selalu baik ke Riyan.


***


"Raisa Ardinanta. Keren juga sih kalo berubah jadi Nyonya Adijaya. Haha. Tunggu gue Sa. Gue udah gak ragu lagi. Gue udah gak mau ada di Friendzone. Gue bakal terus terang deketin elo. Siapa cepat,  dia dapat kan? " Gumam Riyan masih tersenyum bahagia menggenggam telepon nya.


***

__ADS_1


Nando X Raisa?


Riyan X Raisa?


__ADS_2