
***
Thifa diam membeku, dia mulai sedikit panik, pasal nya, dia tidak bisa jujur. Jika Thifa jujur, maka habis lah Arfen. Tapi, Thifa yang lugu dan polos juga sangat tidak kuasa untuk berbohong.
"ehhh, itu bu--"
"Thifaaa!!! Bantuin Gue nyapu dong. Tuh halaman depan kelas kotor bener. " Teriak Anggi, yang baru menghampiri Thifa.
"Buk, saya pamit yah. Mau bersihin kelas dulu. "
Buk Shilla mengangguk, tanpa senyum. Yah guru itu memang terkenal dengan jarang senyum nya.
***
"Tumben Gak bareng sama tuh radio rombeng?" tanya Anggi asal jeplak. Ia menyeka keringat nya yang jatuh, dan mengehntikan kegiatan menyapu nya sebentar.
"Kaleng Rombeng siapa? Arfen maksud lo? " sahut Thifa. Gadis mungil itu tentu sudah menebak nya.
"Emang ada Manusia paling berisik kecuali Si Arfen? "
"Enggak sih. Iyah juga kata lo kaleng rombeng"
Thifa dan Anggi tertawa begitu saja. Memang, sesi gosip menggosip di pagi hari itu cukup mengasyikkan. Apalagi, yang di gosipkan adalah cowok sendiri. Ada kesan tersendiri tentu nya.
"Pagi - pagi udah Gosip. Humph!! Nyapu yanh bener. Kelas kotor buk Niyam entar bisa nyiksa kita, massal lagi. " Sambar Melia, yang wajah nya sudah bercuruan keringat. "Pagi - pagi udah gosip! Awas lo, entar..."
"Diem! Orang Rese! " Racau Anggi.
***
__ADS_1
"Assalamualaikum, eh buk Shil-la?! " Sapa Arfen manis, mencium punggung tangan Bu Shilla. Tak lupa, tentu dengan cengiran manis tanpa dosa milik nya.
"Wa'alaikumussalam Anak ibu. Yang, hobi nya terlambat!!!" pekik Buk Shilla, ia mendorong kuat kening Arfen.
"Jangan marah - marah dong buk. Masih pagi loh. "
"Allah hu akbar! Kamu lihat langit! Ini bukan pagi lagi! Ini udah pagi menjelang siang!! Udah habis Dua les. Kemana aja kamu!! "
Arfen diam, ia hanya menunduk menengadahkan tangan nya bagai sedang menampung sesuatu.
"Apa lagi kamu?! Jangan bilang kamu Gila karna Terlambat yah! Arfen! Jangan bercanda dengan saya! Ngapain kamu gitu!! "
"Saya nampung kecantikan ibu yang jatuh. Kata pepatah, kalo pagi - pagi udah marah - marah. Cantik nya luntur buk. Daripada luntur kebuang, mending saya tampung. Kasih ke Thifa. Biar calon istri saya yang satu itu makin cantik buk. " Sahut Arfen santai, ia mamsukkan tangan nya ke saku bajunya. Fix, Arfen gendeng.
"Kamu ini bener! Bener yah! Sini kamu! Kamu itu yang buat saya marah - marah walau masih pagi!! " Geram bu Shilla menjewer telinga murid legend nya yang satu itu.
Semakin Geram Bu Shilla di buat Arfen. Dan semakin kuat pula jeweran di telinga untuk anak ini.
"Kamu saya hukum Hormat Bendera sampai jam Istirahat! Jangan sampai tangan kamu jatuh! Ayo ikut saya!! " Bu Shilla menarik Murid legend nya ke depan tiang bendera.
"Awww sakit bu! Pelan dong bu, nanti telinga saya hilang. Kalo hilang saya ga ganteng. "
" Arfen. Hormat bendera sekarang!!! "
"okeh buk. Ahsiaappp Bu Guru Ku. Say sadar saya Ganteng dan keren kalau hormat bendera. Pria itu lebih keren kalau mencintai Negara nya. Jadi, saya dengan senang hati hormat bendera bu. " Arfen hormat bendera dengan gagah nya.
"Terserah kamu. Saya capek ladenin kamu. Ingat Hormat yant bener. Tangan nya jangan turun. "
Peringat Bu Shilla. Dia harus kembali ke kantor Guru. Terlalu memusingkan menghadapi Murid legend yang satu itu.
__ADS_1
***
"Di hukum lagi Fen? " Cibir Thifa yang kini sudah berdiri di depan cowok tengil kesayangan nya.
"Enggak di hukum yank. Ini namanya pelatihan, dan pembuktian bahwasan nya Gue itu cinta sama Negara dan Sekolah kita. " sahut Arfen masih setia menegakkan tangan nya menghormat bendera.
"Untung Murid Legend kaya lo cuman satu di dunia ini. Ka--"
"Yah iya lah satu. Biar yang lain pada iri sama lo. Karna punya suami se keren gue. Iya gak? "
"Tingkat ke pede an lo itu bisa dikurangin gak?! "
"Enggak bisa Thif. Bisa nya nambah kayak cinta gue ke elo. Bentar, kedengaran nya pasaran yah? " Arfen mencoba berpikir.
"Iyah Fen. Itu pasaran. " sahut Thifa datar. "Tapi, Gue suka. " lanjut nya lagi.
Arfen tersenyum gagu. Baru kali ini ia di gombali Thifa, dan dia nge fly.
"Gue bisa dapet kesimpulan Thif. Sebenarnya Cowok tuh kalo di gombalin gampang banget Nge Fly nya. Jadi, Selama ini cowok pada jutek. Karna enggak ada aja yang gombalin mereka." Arfen mengangguk mengerti.
Thifa sebisa mungkin menahan senyum nya. Ia mulai berpikir untuk mencari banyak gombalan biar Arfen semakin Nge Fly.
"Jadi ini cowok elo Thif? Berandalan sekolah? Gue heran lo kok mau sih sama dia. Dia ini murid dengan kebandelan yang legend Thif. Sadar dong! " pekik seseorang. Thifa menoleh.
***
Nexttt??
Lanjuuttt??
__ADS_1