My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
Episode 50


__ADS_3

***


Episode Spesial SHIREN!


***


"Kak,  Kenapa Kakak jelek sedangkan Shiren imut? Kok bisa gitu yah?  Kan, kita lahir dari mamah dan papah yang sama. Kecuali, Kalo kakak anak angkat. " Celetuk Shiren di dalam mobil. Ia duduk di bangku belakang,  tak ingin di bangku depan. Jaga - jaga kalo kakak nya kumat dia kena jitak.


Tapi,  kakak mana yang tidak geram melihat adik nya,  jika mulut adik nya se lemes itu.


"Shiren,  maju gih depan dek. Sini duduk nya di samping  kakak. Kakak kesepian. " Celetuk Arfen santai,  dengan mata penuh niat.


"Ogah,  siapa yang tau Shiren bakal tetep imut setelah duduk di sana. "


"Syukur kamu nih adik kakak!  Kalo enggak gue pites!  Pites! "


"Kak,  Udah jelek. Jangan marah - marah. Entar tambah jelek,  di putusin kak Thifa nyeh,  baru tau rasa. "


"yah enggak lah. Kamu pikir kakak itu kayak kamu,  yang pede nya tiada tara. Tapi,  nyatanya, muka nya biasa aja. Awas kamu loh,  kalo gedek entar gak dapat jodoh. Gara - gara ke pedean mu itu. "


"Iri bilang bos?  Muka biasa aja gitu bilangin orang. Ngaca atuh kak. "


"Nih anak mulut nya beneran lemes bener! Udah yuk turun. Kamu beli apa aja deh yang kamu mau. " Arfen membuka kan pintu untuk adik kecil menggemaskan nya.


Shiren dengan manja nya turun dari kursi mobil.


Setelah beberapa lama berkeliling,  tak ada satu pun yang mereka beli. Benar - benar kosong. Entah apa maksud mereka berkeliling di mall,  tapi enggak membeli apapun.


"Shiren,  enggak beli apapun?  Kakak yang bayar ini, percaya deh. " Celetuk Arfen,  masih menggandeng setia tangan mungil adik nya. Yah,  bagaimana pun juga Arfen menyayangi adik nya,  bahkan sangat.


Shiren manusia limited edition yang benar - benar harus di jaga oleh Arfen. Arfen mungkin gila jika harus kehilangan, adik imut nya ini.


"Beli ice cream deh kak. Enggak pengen apapun soal nya. Cuma mau itu aja. " Sahut Shiren,  tepat di halaman luar ada orang yang berjualan Ice cream. Segera Arfen dan Shiren kesana.


"Yah udah,  mau Es krim apa? Coklat?  Vanilla? "

__ADS_1


"Strowberyy aja. Pink pink gitu,  cocok buat Shiren yang imut. "


-


-


-


"Shiren,  Sekarang umur kamu berapa tahun sih? " tanya Arfen, yang memakan Es Krim coklat nya.


"Dasar kakak,  tegaan amat orang nya!  Umur adik sendiri enggak ingat!  Umur Shiren tuh Delapan tahun! Ingat,  delapan! " Geram Shiren yang di lampiaskan nya pada Es krim di tangan kiri dan kanan nya.


"Ya udah,  santai aja kali enggak usah ngegas gitu. Iyah yah ingat. Satu lagi,  jangan jadi orang serakah. Beli kok langsung dua,  satu aja belum tentu habis kok. "


"Terserah Shiren dong,  mending kakak masuk lagi gih. Beliin mama Sheryl makanan sana. Masa kita keluar enggak beli oleh - oleh untuk mamah. "


"oh iyah, kenapa kamu enggak bilang dari tadi. yah udah yuk masuk lagi. "


"Enggak mau ikh. Pegal kaki Shiren. Mending kakak aja deh sendiri di sana. Shiren tunggu di bangku ini. " Seru nya,  duduk manis di bangku putih itu.


Tanpa mengatakan apapun,  Shiren mengangguk pasti. Membuat Arfen tak berkutik.


Arfen menghela napas berat,  mengacak gemas kepala adik kesayangan nya,  dan melenggang pergi ke tempat yang di tuju.


-


-


-


Mata bulat Shiren tertuju kepada anak cowok yang tidak jauh dari nya. Ia duduk di bangku yang tidak jauh. Namun, ada yang berbeda. Bocah cowok itu berbeda. Sangat pendiam,  kelihatan Gagu dan takut. Tidak seperti Shiren yang santai dan enjoy. Menikmati Es krim nya di tengah panas nya udara yang menyapa.


"Heyy,  Mau Es Krim? " tanya Shiren,  ia menjulurkan salah satu Es Krim di tangan nya.


Anak itu pasti tersesat. Makanya takut,  untung ketemu sama Aku,  orang baik dan ramah.

__ADS_1


"Kita gak kenal. Kamu pergi  jauh - jauh! " Kasar nya.


Apa salah Shiren?  Dia hanya memberikan Es krim,  dan itu gratis?  Di mana salah nya? Bukan kah itu tanda nya Shiren baik?


"Santai aja kali,  kan Aku cuma kasih kamu Es Krim. Enggak mau yah udah. Enggak usah ngegas. " Sahut Shiren santai,  duduk di sebelah bocah cowok itu.


Cowok itu melirik tajam Shiren yang tiba - tiba duduk di sana. Entah apa motif nya?


"Bangku umum. Enggak usah Sensi,  bukan punya kamu. "


Cowok itu kembali menatap lurus akurat ke depan.


"Ehmm,  Enak nya Es Krim ini. Uh,  apalagi makan di tengah - tengah panas gini. " Celetuk Shiren, yang sukses membuat Cowok di sebelah nya menelan payah saliva nya.


"Kamu enggak mau? Ini enak loh? Aku punya dua. " tawar Shiren lagi.


"Yah udah kalo kamu maksa. Aku terima! " Kata cowok itu mengambil Es Krim dari salah satu tangan Shiren.


Beberapa menit hening.


"Makasih. " Cibir Shiren,  saat ia tak mendapat kata - kata Terima kasih nya.


"Terima kasih. Puas? "


Shiren mengedikkan bahu nya Heran.


Ternyata manusia itu banyak tipe nya. Apa lagi yang gak tau terima kasih begini?


Bocah mungil itu menggelengkan pelan kepala nya.


***


Nexttt??


Lanjuttt??

__ADS_1


__ADS_2