
***
Mentari pagi sudah mulai menampakkan sedikit cahayanya, Thifa sudah bersiap di kamarnya. Langkah kakinya membawanya menuruni tangga itu.
"Loh, Arfen? Udah datang? Gue aja belum sarapan? " Heran Thifa, masih setengah tujuh. Tapi, cowok tengil itu sudah duduk manis di dekat papah dan mamah Thifa.
"Yah pagi lah, Mumpung ada calon mamah dan papah mertua. Sarapan bareng. Siapa tau restu nya lebih cepat datang. " sahut nya enteng. "Oh iyah Thif, sini sini makan. Anggap aja rumah Sendiri. "
Thifa hanya bisa menghela napas dan ikut duduk di Meja makan. Tepatnya di sebelah Arfen.
"Oh iyah Fen, belum sarapan kan? Sarapan dulu aja " kata Mamah Thifa ramah.
"Tenang mah, enggak akan sungkan kok. " Sahut nya dengan nada khasnya. Tanpa malu ataupun ragu dia mulai memakan sarapan nya. "Anggap aja rumah sendiri, yah kan mah? "
Mamah Thifa hanya bisa tersenyum, melihat tingkah calon mantunya ini.
"Gimana kabar orang tua kamu? " kini papah Thifa yang mulai bertanya. Sejak kejadian demi kejadian terjadi. Ari dan Arfen perlahan mulai akrab.
"Alhamdulillah semuanya baik kok om. "
Tiba - tiba Riyan berhenti menyendok nasi goreng nya.
"Apa katamu? Om? Kamu manggil istro saya mamah. Kenapa manggil saya om?! Papah dong! Gimana sih! "
Uhuk!
Arfen ternganga heran. Dia bahkan hampir tersedak ludahnya sendiri. Apa kata calon papah mertuanya?
Enggak sia - sia datang pagi - pagi. Terserah, calon papah mertua yang satu ini kesambet apa. Yang penting, restunya semakin mendekat.
Batin Arfen menyeringai.
__ADS_1
"Oke deh Pah. Maafin kebodohan calon menantu papah ini. "
Ari hanya mengangguk. "Gitu dong, Datang jemput anak saya pagi, Salam dan sarapan sesekai sama calon mertua. "
Arfenik Arkasa, anak ini pake pelet atau apa sih?! Masa iyah papah juga bisa kepincut?!
Frustasi Thifa. Namun, ia lebih memilih memakan sarapan nya. Tidak semuanya buruk, meski sekilas ada senyuman sumringah yang masih Thifa coba tutupi.
***
"Sayang, kata pak Ghani, kita langsung ke Sekolah Harapan aja. Oh yah, seragam Voly nya udah di bawa kan? " Tanya Arfen, mulai melajukan mobilnya.
"Udah kok, Oh yah Fen. Lo ikut Basket kan? "
Arfen mengangguk.
"Good luck yah. "
"Eh iyah Yank, Aku lagi banyak duit nih. Baru di kasih papah. Entah kesambet apa tuh papah Nathan, katanya proyek nya sukses besar. Lo mau apa? "
Thifa diam, ia melirik Arfen sekilas.
"Yakin, bakal nurutin kemauan gue? " Tanya Thifa memastikan.
"Iyah lah Yakin, gue kan calon suami idaman seluruh cewek, di sekolah kita maksudnya. "
"Gue mau lo bangun kapal besar sendirian, 1001 candi, Danau besar, lebih besar dari Danau Toba kalo bisa. Terus, bangunin gue kerajaan ala Turki. Udah, itu aja. Enggak usah banyak banyak. " pinta Thifa enteng. Seakan permintaan nya itu wajar - wajar aja.
"enggak jadi deh Yank. Gue sayang, banget malah sama lo. Cuman kalo permintaan lo jenis nya begitu. Gue mundur teratur deh. "
Thifa menyunggingkan bibirnya, dia tersenyum. Untuk pertama kalianya Arfen menyerah.
__ADS_1
"Minta itu yang wajar kek Thif. Mobil, Rumah, Vila, Helikopter, apa gitu. Yang gue sanggup. Jangan yang mustahil dong. " Kata Arfen lagi, kali ini dengan nada lebih serius.
"Gue gak mau yang lain. Gue maunya itu. Kayak gue gak mau cowok lain, karna gue cuma mau lo. " Sahut Thifa, menatap mata Arfen penuh makna.
Seketika Arfen tenggelam dalam indahnya mata Thifa, Recehnya gombalam gadis itu.
"Tapi, bohong. " Tambah Thifa sembari mengusung senyuman isengnya.
"Gak papa bohong. Yang penting lo pernah ngucapin itu. Walau hanya gombal semata. Tapi, gue seneng kok. Btw, belajar gombal sama siapa? Dimana? Perasaan gue gak ada deh keluarin gombalan jenis itu. "
Nanya belajar dimana? Setiap hari gue di gombalin sama lo? Lo sadar gak sih?
Batin Thifa mengernyitkan dahinya heran.
"Au ah gelap. Reaksi lo gak enak. Marah kek, apa kek, karna gue isengin. "
"Lo mau gue marah beneran? Kalo gue marah, gue sih langsung bawa lo Ke KUA. Biar ngehukumnya di malam pertama. " ujar Arfen menyeringai tanpa malu.
Bukhhh!!
Thifa juga tanpa ragu memukul bahu cowok nya, di lanjutkan dengan cubitan kepiting ala Thifa.
***
Akhirnya mereka sampai di sekolah Harapan. Sudah ada banyak siswa yang bersangkutan dari SMA MERAH putih yang berdiri di dekat tempat parkir. Masih menunggi anggotanya lengkap biar masuknya lengkap.
"Riyan mana Fen? " tanya Hasan, saat tak mendapati Riyan bersama Arfen.
Arfen kembali mengingat kejadian sejam lebih yang lalu. Awalnya Riyan memang mau sama Arfen, namun.
"Oik Fen, lu duluan aja. Gue masih mau antar Vania sekolah. Bahaya, Anak SMP sekarang juga perkembangan nya pesat. Gue bakal anterin dia sampai selamat dulu. " Kata Riyan, menepuk pundak Arfen.
__ADS_1
***