
***
"Apa menyakiti perasaan Anak sendiri itu di sebut benar pah?! Apa itu yang terbaik!! " Sambar Layla. Tak seharusnya seorang istri membantah titah suami nya. Tapi, kali ini Layla berdiri sebagai seorang ibu, bukan istri. Ia ingin kehidupan yang terbaik untuk anak nya. Dia yang sudah mengandung Thifa selama sembilan bulan, dan dia juga yang telah melahirkan Thifa dengan mempertaruhkan nyawa nya.
Tentu, Layla akan berjuang keras demi kebahagiaan putri semata wayang nya itu. Layla yakin sekali, keputusan yang di ambil Ari itu salah.
"Mamah gak ngerti! Thifa juga enggak mengerti!! Ini masalah nya serius! Arfen memang bukan yang terbaik untuk Thifa! Ngerti dong mah! Sekarang Manah sama Thifa masuk!!! " Bentak kasar Ari. Ia juga tidak tau, entah apa yang merasuki dirinya. Hingga ia mampu membentak istri kesayangan nya, dan juga putri tunggal nya itu.
"Mamah, Thifa, masuk aja. Urusan minta restu biar Arfen yang urus. Ini kan tanggung jawab Arfen sebagai calon suami nya Thifa. Mamah tenang aja, Arfen yakin Arfen dapat restu kok. " Ujar Arfen lembut mencoba meyakinkan kedua nya.
Layla menarik tangan Thifa, ia terlalu marah saat ini dengan suami nya. Begitu juga Thifa yang meninggal kan tatapan kekecewaan untuk papah nya itu.
"Sekarang om? Gimana saya bisa dapat restu nya om? " Tanya Arfen sopan. Masih dengan senyuman manis yang terlukis di wajah nya.
"Itu mudah saja. Kamu kembalikan Perusahaan Taerin yang sudah di rebut Nathan dan Reihan. Jika kau bisa mengembalikan itu, aku akan mempertimbangkan memberikan mu restu? " terang Ari. Yah Ari ingat, ide dan kata - kata ini di beri tahu oleh sahabatnya Stiven.
"Hahahaha!!!! "
__ADS_1
Bukan nya lesu, Arfen malah tertawa cekikikan, membuat Ari geram sendiri.
"Sebegitu Murah kah Thifa di mata om? Bahkan sampai om mempertaruhkan Harga diri Thifa hanya untuk Taerin Grub?!! " pekik Arfen nada mengancam.
Ari tersentak kaget. Ia baru menyadarinya, jika kata - kata nya barusan tidak lain mengarah ke penjualan Thifa. Ari diam mematung, rasa bersalah menyelimuti dirinya. Ia mengutuk dirinya sendiri, terutama mulut nya. Bagaimana mungkin mulut seorang Ayah bisa dengan ringan nya menjual Anak nya?! Hanya demi perusahaan Tua?
"Biar Saya kasih tau ke om yah. Di mata Saya, Thifa enggak bernilai harga nya. Apapun bakal Saya korbanin buat Thifa. Jika hanya perusahaan Taerin, itu hal yang muda yang bisa saya berikan. Tapi, om ingat. Jika saya menyetujui persyaratan Om barusan. Maka saya sama saja dengan manusia hina, yang menganggap Thifa barang yang bisa diperjual belikan!!! " pekik Arfen, sorot matanya Tajam menatap Ari. Tak ada lagi tatapan hormat dan kagum untuk Ari.
Ari masih diam membeku, ia tau ia salah. Ia semakin meresapi kata - kata Arfen yang menyudut kan dirinya. Jangan salah kan Arfen. Ini kesalahan Ari. Kenapa begitu bodoh?!
"Tapi, Saya bukan lah manusia hina. Thifa adalah cinta saya, Thifa adalah harga diri saya. Siapapun yang menghancurkan dirinya, hingga Thifa hancur, maka saya akan hancur berkali - kali lipat nya. Maka, Jika sekali lagi Anda menghina kehormatan Thifa. Bersiap lah, anda akan berhadapan langsung dengan saya. Saya menolak tawaran anda, bukan karna saya tak mampu. Tapi, karna saya mencintai dan menghormati Thifa!!" Arfen berbalik menjalankan mobil nya. Tepat sebelum ia memasuki mobil, cowok tengil itu meninggalkan oleh - oleh tatapan sinis dengan aura membunuh.
Ari tertunduk lemas seketika. Ia mengutuki dirinya sendiri. Penyesalan memang datang nya selalu belakangan.
***
"Kenapa Papah tiba - tiba dingin gitu yah sama Arfen?! Apa ada yang salah?! Padahal, tadi pagi masih baik - baik aja kok. " Keluh gadis mungil itu, menatap bintang dari jendela kamar nya. Ada hati yang tidak tenang.
__ADS_1
Gimana kalau papah emang gak restu?! Arghhhhh!!!
Frustrasi Thifa, ia mengacak pelan rambut indah nya.
***
Arfen beneran enggak jemput?! Apa sih yang papah bilang sama Arfen kemarin?! Apa jangan - jangan, papah minta Arfen buat jauhin Gue di sekolah?!!
Batin Thifa, ia masih harus terus berlari kecil. Ini semua karna ulah papah nya. Membuat Thifa tudak bisa tidur, alhasil gadis mungil itu bangun kesiangan, di tambah Arfen tidak menjemput nya, Thifa yang marah bersikeras tidak ingin di antar oleh supir, apalagi papah nya. Thifa memilih menaiki Angkot, dan inilah jadinya? Gadis mungil itu masih harus berlari kecil untuk sampai ke sekolah nya..
Kalo emang iya?! Apa Arfen bakal bener - bener jauhin gue?!! Tapi...
Lanjut nya dalan hati. Tiba - tiba ada rasa sakit dan sesak yang aneh, yang datang bersamaan, di hati Thifa. Dia merasa sangat sakit, membayangkan bahwa dirinya tidak akan berbicara dengan Arfen.
"Euy, cewek pendek tapi gue sayang. Lo--"
***
__ADS_1
.Nextttt???
Lanjuttt??