
***
"Jangan sentuh sembarangan, apalagi dia putri kecil ku. Yang mengganggunya bersiaplah kehilangan nyawa " celetuk pria itu, yang turun dengan gaya dari tangga helikopter itu.
Raisa mengenali suara dingin dan berat tak lupa, dengan nada angkuh dan songong nya yang khas.
"Papah Rei?!! " Seru Raisa sangat bahagia, sembari menghampiri papah nya di sana.
Dorrrrr!!
Ada peluru yang Stiven arahkan pada Raisa yang tengah berlari.
"Enggak!! Raisaaa!!!! " teriak Nando keras. Sudah turun air matanya.
"Raisaaa!!!!!! " teriak Thifa sekencang mungkin.
Rei dan Nathan yang ada di sana melotot tak percaya, Rei ingin menarik tangan putrinya. Namun, terhalangi oleh jarak.
"Arghhhhh!!!! " Teriak seseorang, yang posisi badan nya di depan Raisa, cowok itu menerima peluru demi Raisa. Peluru itu mendarat akurat di bahu cowok itu.
"Riyan?! " Seru Raisa tak percaya. Riyan menyekamatkan nya?
Riyan hanya diam saja, ia melemparkan senyum pada Raisa. Gadis yang baru di lindunginya. Sudah banyak darah yang mengucur dari bahu Riyan.
"Ais... Lo gak papa?? " Arfen langsung memeluk erat sepupu nya itu.
"Arfen... " lirih Thifa.
"Cewek pendek... " Arfen melepas pelukan nya pada Raisa, sembari memberi kan pelukan dan kehangatan nya pada gadisnya. "Tapi Gue sayang. Gue khawatir sama elo. " lanjut nya.
Thifa memeluk erat Arfen, meluapkan isak tangis nya di sana. Arfen tau jelas, seberapa takutnya Thifa selama ini. Hingga badan nya bergetar hebat.
__ADS_1
"Raisa? " Rei langsung memeluk putri kesayangan nya itu.
"Pah, Riyan gimana? " tanya nya khawatir melihat begitu banyak darah ada di sana.
Tatapan mata Rei terarah ke Riyan. Di mata Rei saat ini, Riyan adalah penyelamat putrinya.
"Riyan, Raisa, kalian naik dulu ke Helikopter. Di sana ada kotak P3K. Raisa bantu Riyan. Di sana juga ada dokter pribadi keluarga kita. Dia pasti bakal obatin Riyan. "
"Iyah pah. Papah hati - hati. Orang itu udah gak waras. " peringat Raisa.
"papah tau, dan yang paling papah tau dari kejadian ini. Papah sangat sayang sama Ais. Kehilangan Ais, adalah kehilangan dunia. "
"Ya udah pah, Ais bawa Riyan dulu. Kasihan, dia begini karna mau ngelindungi Ais. "
"Izin om, ke atas duluan. " timpal Riyan yang masih menahan sakitnya peluru yang tertancap di badan nya.
"Makasih yah Yan. Kamu memang anak nya Agung dan Airin. "
Mata Nando terarah akurat pada Raisa dan Riyan yang terlihat sangat mesra.
Kenapa Riyan? Kenapa bukan Gue yang nolongin Raisa? Kenapa? Karna gue pecundang kah!!
"Thifa... " lirih pria seusia Nathan. Thifa kenal betul suara itu. Suara pahlawan nya.
"Papah!! " Teriak Thifa berlari ke arah papah nya.
De javu! Kejadian penembakan pada Raisa terulang lagi. Ada yang ingin menembak Thifa, namun dengan cepat Arfen menendang tangan orang itu, membuat pistol nya terjatuh.
Arfen mengangkat tangan nya. Seketika banyak orang - orang berpakaian serba hitam keluar daru Helikopter dan mobil. Mereka segera melumpuhkan Stiven.
"Serang mereka! Habisi semuanya!! Jangan takut!! " titah Stiven menggerak kan orang - orang nya. Sayangnya, Stiven begitu lengah. Ia tak sadar, jika kediaman nya sudah di kepung oleh pasukan Arfen.
__ADS_1
Kekalahan yang pasti sudah ada di depan mata Stiven.
Mungkin karna usia yang tak lagi muda, Stiven tak kan bisa menang melawan Arfen. Ah, jika Stiven juga masih muda. Apakah tetap mampu mengalahkan Arfen?
Tidak perlu waktu lama, hanya satu jam saja. Anggota Arfen mampu melumpuhkan kediaman mereka.
Si cowok tengil itu tersenyum menyeringai senang. Menatap pria seusia papahnya yang kini menunduk padanya.
"Udah tua, bau tanah, ingat usia harusnya, yang tak lagi muda. Enggak usah bertingkah nyulik anak orang. Apalagi sampai mau di lenyapin gitu. Bikin orang jijik ta--"
Bukhhhh
Krekkkk
Belum sempat Arfen melanjutkan celotehan nya. Rei dengan segala emosi dan amukan nya langsung menghajar pria itu. Di mata Rei, pria ini harus tersiksa habis - habisan. Berani menculik anak nya? Harus menanggung konsekuensinya.
Rei dengan tanpa ampun dan tanpa belas kasih dengan senang hati menginjak tangan Stiven yang sudah mengenai tanah.
"Papah! Cukup!! Jangan sakiti papah ku lagi!!!" pinta Nando, yang memang juga sudah berlutut seperti yang lain nya.
"Aku hampir kehilangan putri kecil ku karna Dia. Menurut mu aku harus melepaskan nya? " Sinis Rei, yang semakin kuat menekan pijakan nya ke tangan Stiven.
"Ari! Sahabat ku! Ku mohon tolong aku! Bantu aku Ari! " Lirih Stiven menatap Ari yang tengah ada di sana memeluk erat putri kecil nya.
"Sahabat? Bukan kah aku hanya pion yang kau gunakan?! Kau menjijikan Stiven!! " Sinis Ari yang berjalan mendekat ke arah sana.
***
Tim Nando x Raisa, apa kabar? 😂
Tim Riyan X Raisa, Apa kabar? 😂
__ADS_1