My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
Episode 49


__ADS_3

***


"Eis,  Kenapa feeling gue gak enak yah? " keluh Arfen,  sesekali melirik Raisa yang tengah Asyik main ponsel di sebelah nya.


"Mana gue tau, gue kan ga tau. " Sahut Gadis manis itu santai.


"Serah elo deh. "


Kenapa?! Kenapa perasaan gue gak enak? Ini nih yang paling gue gak suka. Gue gak tenang tanpa sebab!!


***


"Thifa!! Thifa!!! "


Teriak Nando, hampir di setiap kelas sudah Nando jelajahi, namun ia masih tak menemukan keberadaan Thifa.


Dimana elo Thif?


Batin Nya, Nando berlari ke Parkiran, ia mulai memasuki mobil Sport abu - abu nya.


Apa, jangan - jangan Thifa udah pulang yah? Udah sampai Rumah?


Nando melajukan mobil nya secepat mungkin, yang ada di bayangan nya saat ini adalah Thifa, dan bagaimana Thifa saat ini.


***


Arfen membantingkan Badan nya lesu di atas kasur nya. Seragam nya masih belum di ganti nya. Ada rasa aneh di hati nya, ia sendiri tidak bisa menguahkan nya. Arfen juga bingung, sebenarnya apa penyebabnya dia merasa tidak tenang.


Biasanya, jika Arfen merasakan perasan itu. Ia tahu masalah nya, dan segera menyelesaikan nya. Tapi, kali ini tanpa masalah apapun, ia merasa tidak tenang. Apa maksudnya?


Apa gue ngajak Thifa kencan aja yah? Gak di kasih bokap nya lah. Heh... Miris nya hubungan yang gak di restui tuh gini. bikin kesel aja! Mood gue benaran Anjlok!!

__ADS_1


Pikir nya. Kali ini Arfen merasa tidak tenang.


Enggak tenang, yah ingat Tuhan.


Tambah nya dalam hati, ia membangkit kan badan nya, menuju kamar mandi, dan segera Sholat guna menghilangkan gundah gulana di hati nya. Yang benar - benar membuat risih.


-


-


-


Krekkkk


Arfen membuka pintu kamar Shiren, tampak bocah mungil itu tengah belajar, dengan pulpen karakter milik nya. Merasa ada yang datang, bocah imut itu menoleh ke arah pintu. Yah benar saja, sudah ada Arfen di sana.


"Apa? Mau minjem duit? Ogah, tabungan Shiren udah tinggal sedikit. " belum lagi Arfen berbicara. Mulut Shiren sudah melontarkan kata - kata manis nya.


"oh iyah Shiren hilap. Kakak ngapain ke kamar Shiren? "


"Temenin kakak yuk, keluar gitu? Beli ice cream? Belanja? Ke Taman? Atau kemana gitu yang bikin pikiran tenang?"


"Ke Rumah Allah gak mau kak? "


Cetakkkkk!!!


Jitakan khas itu selalu mendarat di jidat Shiren secara sempurna. Bagaimana bisa Arfen menahan emosi nya ketika mendengar celetukan yang adil tunggal nya lontarkan.


"Sakit tau!!! Jidat Shiren bisa jenong melebar kalo kakak jitak terus! Apa mentang - mentang, jadi kakak bisa jitak adek nya se enak jidat. " Gerutu bocah mungil itu, Mengerucutkan bibir nya. Sangat kesal rasa menjadi seorang adik yang selalu jadi sasaran jitakan kakak nya.


"Makanya kalau ngomong itu jangan se enak jidat! "

__ADS_1


"Emang jidat enak?! "


Arfen menghela napas kasar. Ia langsung menggendong adik nya ala penculik rakus.


***


"Assalamualaikum Om! Om Ari! " Nando sudah berteriak, bahkan saat di dalam mobil. Ia dengan gerakan kilat lari mengetuk pintu rumah Thifa. Sembari terus berteriak memanggil Ari. Karna tak mungkin baginya memanggil Layla, Layla sendiri tidak begitu menyukai Nando. Karna Restu nya sudah untuk Arfen.


"Ada pa Nan?! Pelan - pelan? ! Ada apa?! Thifa mana?! " Kata Ari membukakan pintu, Tampak Nando dengan raut wajah khawatir dan napas tersengal di depan sana.


"Om! Thifa enggak ada di sekolah! Apa dia belum pulang?! " Tanya Nando terburu - buru.


"Apa maksud kamu Thifa enggak ada di sekolah! Thifa belum pulang dari tadi!!! "


"Om, Tapi Thifa enggak ada di sekolah! Nando udah cari kemana - mana, tapi enggak ketemu!! Apa jangan - jangan Thifa kabur om?! "


"Enggak mungkin! Thifa anak nya penurut! Dia enggak akan mungkin kabur dari Rumah!! "


"Ini semua salah kamu Nando! Karna kamu anak saya hilang! Ini baru hari pertama kamu pulang bareng Thifa!! Tapi kamu gagal!! Thifa enggak ada! Dulu, semasa Arfen yang Antar Jemput Thifa, enggak pernah kejadian begini!! Thifa selalu pulang tepat waktu!!! " kini Layla lah yang mulai angkat bicara. Ia terlihat sangat frustrasi, putri tunggal nya hilang, tidak di ketahui di mana keberadaan nya.


Iyah, ini salah gue. Yang mentingin Raisa dulu daripada Thifa. Yah, ini salah gue. Wajar kalo Tante Layla marah. Thifa anak tunggal nya, dan gue penyebab hilang nya.


Batin Nando, Rasa bersalah telah menggetarkan hati nya. Ia hanya mampu menunduk di hadapan seorang ibu yang kehilangan Putri nya.


"Kamu benar Layla. Bahwa Arfen lah yang menculik Thifa! Arfenik Arkasa, keluarga Arkasa! Kalian harus kembalikan Thifa!!! " Geram Ari, pipi nya bergetar menahan amarah.


***


Nextttt??


Lanjuuuttt??

__ADS_1


__ADS_2