
***
Seperti biasa, Arfen menjemput Thifa dari Rumah. Ia bisa bebas, karna memang sudah mendapat restu Ari, kan?
Bukan hanya itu, akhir - akhir ini Ari dan Layla bahkan membukakan pintunya lebar - lebar untuk Arfen. Membiarkan Arfen keluar masuk bebas, seakan itu adalah rumahnya.
"Buruan Fen. Gue hari ini piket kelas. " Pinta Thifa saat dia sudah duduk di kursi sebelah Arfen.
"Thif. Gue bisa minta tolong gak? Tolong lo bolos hari ini aja sama gue? Oke? " Pinta Arfen. Entah apa yang merasuki manusia satu ini, hingga ia bisa dengan santai mengucapkan itu.
"Gue tau lo gila Fen, agak miring. Tapi, bisa gak jangan di tunjukin banget? "
"Gue serius Thif. Gue mau ngomong sama elo. Ngomong serius. Jadi, Hari ini bolos yah? " Rengek Arfen. Yah kali ini Arfen benar - benar serius.
"Apa sih Fen. Enggak usah gila deh! Gue gak mau bolos! "
"Yah udah Gue bolos sendiri. Lo gue turunin di simpang depan. jangan nyesel! " Ketus Arfen. Untuk pertama kalinya seorang Arfen bisa bicara sedingin itu pada Lathifa?
Anak ini kenapa lagi sih?! Tadi pagi dia makan apa emang?! Biarin aja lah! Dia kan emang hobi bolos!
Batin Thifa, ia melirik Arfen sekilas. Namun, Hati Thifa berdebar begitu kencang. Ia takut, Takut bahwa Arfen akan meninggalkan nya.
Sikap Arfen yang tiba - tiba berubah drastis ini sangat membingungkan. Sepanjangn jalan Suara senyap. Tak ada suara. Arfen yang biasa mengeluarkan gombalan recehnya, kini diam klakap. Tak ada tanda - tanda bahwa dia akan berbicara.
"Udah sampai. Lo turun. Entar pulang gue jemput di sini! " Ketus Arfen benar - benar dingin. Bahkan membuat Thifa merasa sangat tak nyaman. Dadanya mulai sesak, pikiran nya mulai mencari asal muasal mengapa Arfen berubah.
"Lo marah sama gue? Karna gue gak mau bolos? " Tanya Thifa, ia masih belum keluar dari mobil.
__ADS_1
"Menurut lo? "
"Arfen... Ngerti dong. Gue emang gak bisa bolos sekolah. Gue gak bisa langgar peraturan. Gue gak bisa, itu berat buat gue. " Lirih Thifa.
Arfen menghela napasnya berat.
"Gue gak maksa lo buat bolos. Yah udah, sana lo masuk. "
"Yah udah, Gue masuk. Lo jangan sering - sering bolos deh. " peringat Thifa. Thifa keluar dari mobil mewah Arfen. Berjalan menuju sekolah yang tak jauh dari tempat nya.
Tanpa mengatakan apapun, Arfen memutar mobilnya dan melaju begitu saja.
Apa gue kelewatan yah nolak Arfen gitu?
Thifa berjalan gontai ke Sekolahnya.
***
Tapi, Ada yang janggal juga. Kenapa Gue gak liat Raisa ataupun Nando dari tadi yah? Kok sekolah sepi? Kemana?
Batin nya. Thifa merasa hanya sisa dia sendiri di gengnya. Tak ada yang sekolah membuatnya kesepian. Thifa memutuskan untuk tetap diam di Kelas, sampai bel pulang sekolah berbunyi.
Tring! Tring!
Thifa mengangkat telponnya.
"Apa Nggi? Oh yah, kalian di mana? Kok lo sama Melia gak sekolah sih? " Ujar Thifa sebelum orang di sebrang telpon sana bersuara.
__ADS_1
"Gue di Sini. Pantai. Elo kenapa gak ikut bolos sih? Gue sama Melia, Arfen, Hasan, Fandri, Nando, sama Raisa ada di sini. Si Nando mau ungkapin perasaan nya sama Raisa. Lo kok gak ikut sih?!! " Sambar Anggi cepat.
Deg.
Thifa terdiam. Ia tak tahu bahwa pembolosan ini bukan hanya untuknya dan Arfen. Melainkam sesuatu yang di sebut bolos berjamaah.
"Hei! Serius gue tuh?! Jangan bercanda dong! "
"Iyah! Elo sih! Ketinggalan kan! Payah lo Thif! Harusnya kita seru - seruan di sini! "
Entah kenapa Thifa merasa menyesal. Ia mengutuk hatinya, dan keputusan nya. Dia harus melewatkan momen mendebarkan itu?
Arfen! Lo kok gak bilang sih ini bolos berjamaah!!!
Umpat Thifa. Ia menutup telponnya. Merutuki nasib dan keputusannya. Ia menempelkan wajahnya ke meja lesu. Membayangkan betapa serunya mereka saat ini di pantai.
***
Akhirnya yang di tunggu Thifa. Apa itu? Bel pulang sekolah. Dia yang kesepian akhirnya membaringkan badannya di kasur lembut miliknya, ia mulai menutup wajahnya dengan bantal. Sudah sedari di sekolah Thifa ingin menangis. Namun, dia sadar. Tidak bisa. Terlalu banyak orang. Akhirnya Thifa meruakan tangisannya di kamarnya.
Tidak berteriak, hanya melirih. Thifa tak suka membuat kehebohan.
Kenapa sih?! Kenapa gue kekeuh masih sekolah?! Gue kehilangan momen ini kan! Padahal Arfen tadi udah maksa. Dan udah serius! Gue harusnya ngerti! Kalau ini penting!
Batin Thifa. Ia sudah tak mampu bersuara. Penyesalan emang selalu datangnya belakangan.
***
__ADS_1