My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
Episode 38


__ADS_3

***


Yang masih setia baca MSB, thanks banget yah. Maap,  kalo akhir2 ini rada gak seru.. Wkwk..  In shaa Allah,  di kedepan nya makin seru kok. Makanya, terus dukung Author nya yah guys.


Jangan lupa vote juga,  biar makin semangat^^


***


"Thif,  kata - kata Aurel yang kemarin jangan di tanggepin. Lo tau kan nyokap,  bokap,  adik,  seluruh keluarga gue udah setuju sama lo. Jadi sans aja." Ucap Arfen membuka pembicaraan,  selama beberapa saat hening,  sejak mereka berangkat dari rumah Thifa.


"Iyah Gue tau kok. Enggak bakal gue pikirin juga, " sahut Thifa,  mengusung wajah biasa aja.


"Oh yah,  bokap lo namanya siapa?  Kan biar tau namanya? "


"Bokap Gue namanya Aritian Kanneira,  Emang kenapa? "


"Oh,  sejak kapan Usaha lo di buka? "


"Sejak Gue kecil sih. Emang kenapa sih Fen,  kok nanyain bokap gue mulu? "


"Yah biar kenal lah. Entar kalo udah kenal,  kan gampang akrab nya. Lo gak mau apa gue akrab sama calon papah mertua?"


" Hennn,  Serah elo deh. Gue doain biar cepet akrab, puas?"


"Cukup puas,  Sangat puas,  puas sekaliii"


***


"loh Arfen?  kok berhenti di sini. Gerbang masih ada di depan sana. Faedah nya berhenti di sini apa? " tanya Thifa heran.


Bagaiamna tidak heran,  Arfen memberhentikan mobil nya sekitar Dua puluh meter sebelum Gerbang. Entah apa maksud nya.

__ADS_1


"Kan gini Thif. Gue kan Raja nya terlambat nih,  hampir Dua bulan Thif. Gue udah gak terlambat,  rindu nih. Nanti gelar gue hilang giamana" sahut Arfen,  mengusung wajah manis nya,  dengan cengiran tak berdosa khas milik nya.


"Arfen,  otak Lo sebenernya di letak di mana sih? "


"Haha, mulut lo pedas juga yah. untung lo cantik, dan untung nya lagi gue sayang. Kalo enggak,  ukh siap - siap aja. "


Thifa memutar bola matanya Jengah,  ada kata yang lebih dari jengah? Akh,  itu lah yang lebih cocok untuk di kondisikan di diri Thifa sekarang.


"Maaf yah Yank. Cuma Dua puluh meter doang,  enggak marah yah kan? " tanya Arfen tanpa Dosa.


"Lagian elo mau kemana sih. Arfen,  ini Senin loh,  hari di mana buk Shilla yang piket. Lo mau kena Tabok - tabok?! "


"Tenang aja,  Gue sama Buk Shilla join. Aman, adem,  ayem,  anteng dah pokok nya. "


"Lo kemana sih sebenarnya? "


"Gue cuma mau sarapan, "


"Lathifa Kanneria,  Haha.. Aritian Kanneria, dia pura - pura?  Atau memang enggak tau Gue keturunan Arkasa dan Wijaya?  Fufu... Sangat mendebarkan." Arfen berbelok ke belakang,  dan mulai melajukan kembali mobil nya.


***


Tring! Tring!!


Suara deringan telepon itu membuyarkan lamunan Pria Berkharisma yang tengah duduk di kursi kehormatan nya itu.


"Aritian Kanneira,  Sahabat ku... Aku sudah melihat pesan mu. Kau bilang apa?  Anak pertama Arkasa berteman dengan Anak mu?! " Ujar pria itu dari ujung telepon.


"Yah Stiven, Dia berteman dengan putri ku. Mungkin aku akan segera memindahkan Thifa ke luar Negri nanti nya. "


"Ahhh,  Kenapa harus di pindahkan Ari?  Kenapa kita tidak Memanfaatkan Anak Arkasa itu,  mungkin saja kita bisa mendapat keuntungan yang luar biasa. "

__ADS_1


"Apa maksud mu Stiven?!  Kau ingin aku membuat putri ku semakin tersiksa. Aku bisa melihat nya,  Putri ku menyukai anak itu!!  Bagaimana?! Aku tak ingin sampai putri ku menangis!! "


"Tenang lah Ari,  Ayo tenang. Kau tidak perlu khawatir soal Anak mu. Cepat atau lambat Anak mu akan melupakan Bocah Arkasa itu. Aku Akan mengirim putra ku ke sekolah itu. Dan akan meminta nya untuk menjaga Lathifa,  dan menjauhkan Thifa dari si bocah Arkasa. "


"Anak mu,  Fernando?!  Apa dia bisa menarik perhatian putri ku?!  Apa dia bisa membuat putri ku menyukai nya?!"


"Kau tenang saja,  Nando anak yang baik,  dia juga cerdas dan berbakat. Anak yany disipilin,  kau tau itu kan?!  Bukan kah sangat baik jika Nando menjadi menantu mu?"


"Terserah Kau saja Stiven!  Tapi,  aku tak ingin Anak ku sampai menderita! Dia adalah Anak tunggal ku!  Kau tau aku sangat mencintai nya! "


"Yah yah,  Tak masalah...  Ini pasti akan berjalan sesuai rencana. Aku akan membalaskan dendam pada keluarga Arkasa dan Wijaya. Sasaran yang paling tepat memang adalah Anak itu. Anak yang memiliki darah keluarga Wijaya dan Arkasa. Dan,  Nando pasti akan menarik hati Thifa. Percayalah,  semua akan baik - baik saja. Ingat lah,  kita harus memanfaatkan si bocah Arkasa itu. "


"Baiklah,  Aku percaya pada mu Stiv, " Ari langsung menutup sambungan telepon nya.


Ia menyenderkan Badan nya,  berharap keputusan nya tepat.


"Thifa,  maaf kan papah. Tapi,  anak itu bukan orang baik... "


***


"pagi buk... " Sapa Thifa ramah,  mencium punggung tangan guru yang tengah berdiri di depan Gerbang sekolah itu.


Jangan tanya kenapa Bu Shilla berdiri di sana. Itu memang kebiasaan Bu Shilla,  menyambut murid nya yang datang tepat waktu,  dan memeberi hukuman manis pada anak - anak yant terlambat. Ingat yah,  garis bawahi kata manis.


"Tumben Kamu enggak sama Arfen?  Biasa nya Pagi pulang bareng dia,  deketnya udah kayak perangko? " tanya Bu Shilla Frontal.


Thifa diam membeku, dia mulai sedikit panik,  pasal nya,  dia tidak bisa jujur. Jika Thifa jujur, maka habis lah Arfen. Tapi,  Thifa yang lugu dan polos juga sangat tidak kuasa untuk berbohong.


***


Nexttt??

__ADS_1


Up lagi hari ini,  kalo tembus 30 komentar wkwkwk


__ADS_2