
***
"Oh okeh pak. Siap, saya bakal minta Teman XI IPA SATU buat welcome ke dia. " sahut Raisa ramah. Yah itu lah Raisa, gadis Es itu hanya biasa tersenyum pada orang - orang tertentu. Hanya keluarga dan para guru.
Dih cewek ini. Muka nya tebel amat. Bagus bener Akting nya. Sampai gue mau muntah. Sumpah, gue paling gak suka liat cewek yang banyak Akting kayak dia ini. Mending Thifa polos Apa adanya. Tadi, Apa kata guru ini?! Dia mau gue jalan dan sekelas sama cewek model begini! Ogah!!
Batin Nando, ia melirik tajam Raisa yang berdiri di sebelah nya.
Raisa yang menyadari ada hawa membunuh dari sebelah nya, semakin menampilkan senyuman lebar nya.
Cuma cewek ini yang bilang gue jelek. Dan cuma cewek ini yang berani ngetusin gue. Okeh, kita lihat aja nanti.
Batin Nando, ada percikan kebencian yang tidak bisa di utarakan oleh Nando. Benar kah benci?
"Pak, saya mau nya masuk ke kelas IPS Satu. " Pinta Nando tegas.
"Maaf yah Nak, bukan nya bapak gak mau. Cuman, Di Kelas IPS SATU udah penuh. Ada nya di IPA Satu. Itu pun karna ada yang pindah kemarin. " Terang Pak Ghani sebijak mungkin.
"Dari pada elo enggak sekolah di sini? Pilih mana? Sekolah kita terjamin loh yah. " Tambah Raisa yang semakin menekan pikiran Nando.
"Saya suka kamu Raisa. Kamu bijak, sama seperti Rei. Saya bangga. " Seru pak Ghani, yah Raisa memang terlihat mirip dengan Rei.
__ADS_1
Yah memang, buah jatuh gak jauh dari pohon nya. Raisa yang mirip dengan Rei, dan Arfen yang mirip bapak nya. Syukur saya enggak punya penyakit jantung. Kalo enggak, udah kumat tiap hari di bikin tuh anak.
Lanjut pak Ghani dalam hati. Kesan Nathan dan Arfen tak kan hilang begitu saja dari nya.
Oh iyah, Gue hampir lupa. Dia keturunan Wijaya, putri pertama keluarga Wijaya. Hem, satu kelas sama cewek ini enggak buruk juga. Hitung - hitung pemanasan, sebelum dendam yang sebenarnya di mulai.
Batin Nando, ragam rencana licik sudah hinggap manis di kepala nya.
"Okeh pak , saya bakal Masuk di kelas IPA satu. "
***
" Yank, tuh calon papah mertua kenapa muka nya kusut amat. Kalah Proyek, Atau investor nya hilang? " Tanya Arfen yang masih duduk di kursi kemudi di sebelah Thifa. Menatap Ari yang wajah nya sudah siap menelan orang hidup - hidup.
Papah kenapa? Kok muka nya gitu? Perusahaan Hampir bangkrut?
Batin Thifa. Ia mulai sedikit gugup.
"Assalamualaikum Om, apa kabar? " Sapa Arfen sebelum Thifa menyapa Ayah nya.
"Assalamualaikum pah, kenapa papah di luar? Ini panas loh. Kenapa papah enggak masuk aja? " tanya Thifa hangat, yang langsung mencium punggung tangan papah kesayangan nya.
__ADS_1
Deg.
Melihat senyuman Thifa, ada rasa tidak tega di hati Ari. Hatinya benar - benar tersayat jika hal buruk menyakiti putri tunggal nya.
"Papah sengaja nunggu kalian pulang. Papah mau, mulai besok kamu Arfen enggak usah Jemput dan Antar Thifa lagi. " pekik Ari kasar, terdengar tegas dan blak - blakan.
"Loh?! Papah maksudnya apa?! Bukan nya tadi pagi papah setuju Thifa jadian sama Arfen. Tapi, kenapa sekarang Tiba - tiba melarang Thifa deket sama Arfen!" protes Thifa langsung, Syok rasa hati nya. Perkataan Sakartis Papah nya ini terlalu berdampak pada kehidupan Thifa mungil.
"Karna papah enggak suka cowok yang model nya begini! Keputusan papah udah bulat! Thifa jangan pernah berhubungan lagi dengan orang ini!!! "
"Tapi kenapa pah? Arfen baik kok anak nya. Mamah suka, dia juga enggak pengecut. Dia langsung datang kemari, enggak main kucing - kucingan pah! Jarang banget kita temuin calon menantu gini! " Sambar Layla yang baru saja keluar dari pintu Utama.
"Udah cukup! Thifa! Mamah! Ini keputusan papah ! Dan ini yang terbaik! Cepat atau lambat mamah sama Thifa juga bakal ngerti! Jadi hari ini jangan halangin papah! Yang papah lakukan udah bener!! " tegas Ari tak ingin kalah dengan Argumen nya.
"Apa menyakiti perasaan Anak sendiri itu di sebut benar pah?! Apa itu yang terbaik!! " Sambar Layla. Tak seharusnya seorang istri membantah titah suami nya. Tapi, kali ini Layla berdiri sebagai seorang ibu, bukan istri. Ia ingin kehidupan yang terbaik untuk anak nya. Dia yang sudah mengandung Thifa selama sembilan bulan, dan dia juga yang telah melahirkan Thifa dengan mempertaruhkan nyawa nya.
Tentu, Layla akan berjuang keras demi kebahagiaan putri semata wayang nya itu. Layla yakin sekali, keputusan yang di ambil Ari itu salah.
***
Nexxxtttt??
__ADS_1
Lanjuuttt??