
***
Cahaya mentari pagi sudah menyapa Thifa hangat, cahaya nya masuk dari sela - sela atas sana, menyengat hangat kulit wajah gadis manis itu.
Rambut nya acak, matanya sembab, itu karna ia tidak bisa tidur tadi malam. Sangat menyeramkan bagi gadis lugu itu, untuk tidur sendirian di pabrik usang itu. Di tambah dengan bayangan dan suara aneh khas cerita bangunan tua.
Keadaan Thifa saat ini sangat memprihatinkan. Belum ada Satu hari penuh dia di culik. Tapi, fisik dan mental nya benar - benar hancur.
Siapa sih yang nyulik gue?! Motif nya apa coba? Kurang kerjaan banget!
Gerutu Thfia dalam hati. Entah apa mimpi nya kemarin malam, sampai ia harus merasakan yang namanya penyekapan.
***
Siapa yang nyulik Thifa? Apa motif nya? Enggak mungkin kan Stiven Taerin? Dia kan sahabat nya bokap Thifa? Enggak mungkin lah nyulik Thifa? Apa guna nya?
Batin Raisa, menyusuri ruang koridor sendiri. Ia masih terpaku atasa lamunan nya. Ia tak percaya Thifa hilang begitu saja seperti di telan bumi.
Pasti ada petunjuk, Gue harus temuin. Gue ini Raisa Ardinanta. Gak mungkin gak bisa mecahin masalah ini.
__ADS_1
Ia terus menerka - nerka apa motif penculikan Thifa. Jika motif nya tertebak. Mengetahui Pelaku yang sebenarnya juga menjadi lebih muda.
"Raisa!" panggil pak Ghani yang berdiri di bawah pohon Mangga itu. Raisa pun menghampiri gurunya. Meski mood nya buruk, atau bahkan sangat buruk. Raisa juga tidak bisa mengabaikan panggilan gurunya.
"kenapa hari ini Arfen CS enggak masuk? Nando juga? Apa mereka bolos berjamaah? " pekik pak Ghani.
"Raisa enggak tau pak. " Sahut Raisa gagu. Ini pertama kali nya bagi Raisa untuk bohong. Itu karna ucapan Papah Rei dan Om Nathan nya yang meminta masalah hilang nya Thifa ini jangan di sebar luaskan. Sebisa mungkin, mereka menutupi kejadian ini, agar tidak heboh.
"Raisa, kamu bukan Arfen. Kamu gak bakat nutupin sesuatu dari bapak. Sekarang cerita ke bapak. Ada apa? Bapak gak suka kebohongan. " tukas Pak Ghani, feeling nya benar. Ada sesatu yang enggak beres.
"Tapi, kata Papah Rei sama om Nathan, enggak boleh kasih tau siapapun pak. " kilah Raisa lagi, sesopan mungkin.
Raisa menghela napas panjang , sebelum dia benar - benar menceritakan yang sebenarnya.
"Thifa di culik pak. Papah nya Thifa nuduh Arfen yang nyulik. Dan mereka semua lagi nyariin Thifa. Termasuk papah Rei sama om Nathan. Bapak tolong rahasiain ini, jangan sampai heboh satu sekolah. Kalo sampai heboh, pencarian bakal makin susah pak.
"Apa Thifa di culik? Siapa?!" Tentu Guru killer itu terkejut. Tragedi Sheryl terulang lagi untuk Thifa. Benarkah ini hanya kebetulan, atau memang takdir yang sudah di sekenario kan?
"Pak pelanin sikit suara nya. Awas yang lain dengar. Thifa emang di culik kemarin pak. Tapi tenang, semuanya lagi nyariin dia, termasuk Nando. Jadi, bapak bisa kan bantu soal ngurus Absen. Kita gak tau kapan Thifa bakal ketemu. "
__ADS_1
Pak Ghani mengangguk pasti. Masalah Kehadiran biar pak Ghani yang urus.
***
Aurel sudah mencari Arfen sejak tadi pagi. Dia sudah berkeliling sekolah untuk mencari Sosok cowok yang di cintai nya. Arfenik Arkasa. Namun sayang nya, cinta itu hanya bertepuk sebelah tangan. Arfen mencintai Thifa, bukan Aurel.
Setelah berkeliling berkali - kali, Aurel mendapatkan kesimpulan yang pasti. Bahwa Arfen tidak datang, bersama rekan - rekan nya.
Apa gak apa - apa yah gue culik Thifa gitu? Apa gue bakal beneran jual dia jadi budak, besok?
Batin Aurel, yang duduk sendirian di halaman belakang. Pikiran nya tengah berkecamuk. Beradu argumen tentang apa yang akan ia lakukan selanjutnya untuk Thifa.
"Kak Arfen enggak masuk hari ini, apa karna Thifa? Mereka nyari Thifa? Apa kak Arfen bakal marah besar kalo tau gue yang nyulik Thifa? Apa gue kembalikan aja lagi Thifa. Tapi,,, Thifa itu penghalang terbesar gue sama kak Arfen. Dia harus di musnahkan. " Gumam Aurel. Kini ia benar - benar bingung. Rasa cemburu nya memaksa nya melakukan perbuatan se tega itu, tapi kemanusiaan nya menolak perilaku nya.
"Gila elo yah! Jadi elo yang nyulik Thifa?! Sumpah lo gak ada otak apa! Itu anak orang loh Aurel! Lo culik dia cuma karna dia jadi penghalang lo sama Arfen! Lo mikir enggak sih! Lo gak pikirin pesarasaan orang tua nya yang nyariin dia! Yang khawatir sama dia! Gila lo! Lo gak tau betapa terpukul nya Mamah nya, saat anak nya gak pulang semaleman! Miring lo yah! Lo gak tau bagaimana frustasi nya Arfen! Arfen nyariin Thifa semaleman! Tega lo yah! Gak habis pikir gue sama manusia jenis kayal elo!!! " Pekik Raisa yang juga ada di halaman belakang. Mendengar semua pengakuan yang Aurel lontarkan.
***
Nexttt??
__ADS_1
Lanjuuttt??