My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
Episode 58


__ADS_3

***


Arfen berjalan hampa ke luar rumah nya. Melintasi orang - orang yang tengah menangis di Ruang tamu rumah nya.


Rei terlihat seperti orang gila yang sudah kehilangan dunia nya. Aisyah sangat bersedih, namun ia snediri masih mencoba menguatkan suami nya.


Raisa! Raisa! Jangan tinggalin papah! Papah sayang sama kamu! Kamu yang terbaik untuk papah!!


Batin Rei. Kacau,  sesak,  hampir gila rasanya. Rei tak kan mungkin bisa menerima fakta nya. Putri sulung nya hangus terbakar?


Nathan terlihat mendekap erat Sheryl. Kehilangan Keponakan yang begitu sayang padanya. Tak bisa ada yang mengerti perasaan Sheryl,  termasuk Nathan.


Maaf! Maaf kakak Farhan! Aisyah! Aisyah gagal??!!


Batin Aisyah. Meski ia masih mencoba menenangkan Rei. Namun,  dia sebagai seorang ibu juga tak dapat menahan kepedihan nya. Apalagi,  itu putri sulung nya,  yang memiliki kedekatan khusus untuknya.


Refan dan Shiren sengaja di pindahkan ke Rumah Wijaya. Mereka masih terlalu kecil untuk menerima Fakta itu.


Semua orang sangat terpukul akan kepergian Raisa. Namun,  yang paling terlihat seperti orang gila adalah Rei sendiri. Rambut Rei yang biasanya rapi,  Setelan jas Formal yang selalu melekat padannya,  kini acak tak beraturan. Rei benar - benar mirip seperti orang gila.


Melihat keadaan Rei yang seperti ini,  sangat memilukan hati.


Arfen menarik napas nya. Membuang nya lagi. Dia memang seorang laki-laki,  tapi dia juga menangis? Arfen benar - benar tak kuasa harus kehilangan dua gadis kesayangan nya. Rasanya mengiris tangan juga tak akan mengurangi rasa sakitnya.

__ADS_1


Arfen menyeka Air mata dan ingus nya bersamaan. Ia menoleh ke kanan kiri. Vita suara nya terasa tidak berfungsi secara tiba - tiba. Ia melangkah keluar kamar nya.


"Arfen?!  Mau kemana Nak?! " tanya Nathan. Melihat keadaan putra nya yang tidak jauh beda dari orang gila kompleks sebelah, ia harus ekstra waspada. Hilap sedikit,  Minimal Arfen mungkin lompat dari atas gedung,  atau tiang tinggi. Wajar saja,  pikiran murni nya sudah tidak berfungsi.


Arfen yang sekarang mungkin saja bunuh diri karna stress berat. Tak menutup kemungkinan itu juga akan terjadi pada Rei. Jangan salahkan Nathan yang berpikir seperti itu. Habisnya,  tampilan dua orang itu benar - benar mirip dengan Orang Stress.


"Arfen bakal bunuh diri dan hilang kendali kalau terus di kamar. Arfen mau ke tempat Riyan dulu pah. Jangan khawatir. Arfen bisa jaga diri,  enggak akan yang aneh - aneh. " Yakin Arfen di mulut. Namun,  di hati? Siapa yang tau?


***


Bukan hanya di kediaman Wijaya dan Arkasa yang merasakan pahit nya kehidupan. Kediaman Kanneira juga merasakan hal yang sama. Mereka harus memasang hati sekuat mungkin.


Terutama Ari dan Layla. Thifa adalah anak tunggal mereka. Kehilangan Thifa seorang seolah mereka kehilangan Dunia nya. Sudah beberapa kali Layla hampir menghilangkan nyawa nya sendiri,  karna Syok nya.


Syukur lah ada Ari yang selalu sigap mendekap istri nya itu. Yah,  Nando juga hanya bisa menatap foto Thifa yang besar, menggantung indah di dinding berwarna putih itu.


Raisa? Gue tau kita musuh. Tapi, gue gak pernah ikhlas kalau lo sampai pergi jauh dari gue. Gue gak bisa! Thifa! Gue juga gak bisa jauh dari elo!!


Batin Nando,  mungkin kah posisi Nando dan Arfen itu sama? Kehilangan dua gadis yang begitu berharga?


"pah?!  Ini bercanda kan pah?!  Ini semua bercanda kan pah?!  Pah! Bilang kalo ini prank tapi boong! Ini bohongan kan pah! Ini gak benar - benar terjadi kan pah! " ronta Layla,  sampai kapan pun ia tak kan bisa menerima fakta ini. Terlalu cepat putrinya pergi.


Melihat Reaksi istrinya,  Ari semakin tidak berdaya. Ia merasa menjadi Ayah dan Suami yang gagal. Tidak bisa melindungi keutuhan Rumah Tangga nya.

__ADS_1


***


Maaf pah,  Arfen bohong sama papah. Arfen enggak ke tempat Riyan. Arfen kesini. Tempat dimana Raisa dan Thifa berada.


Arfen memasuki pabrik itu. Pabrik tua yang sebelumnya berwarna putih kucel,  kini sudah berubah menjadi hitam. Sisa bangunan yang terbakar itu sangat menyayat hati Arfen.


Sepanjang jalan,  ia selalu mengingat masa - masanya dengan Thifa,  mulai dari yang konyol dan unfaedah. Sampai scane romantis yang menggetarkan jiwa.


Ingatan itu semua tumpang tindih dengan ingatan nya bersama Raisa sejak kecil.


Kenapa secepat ini? Kenapa? Gue gak bisa kehilangan kalian. Gue yakin kalian masih hidup.


"Arghhhh!!!!" Arfen mengacak rambutnya frustasi. Setelah puas berkeliling di bekas Pabrik itu. Arfen berjalan keluar.


Apa?


Arfen merasa dirinya telah memijak sesuatu yang aneh. Kepala di tundukkan,  matanya akurat menatap benda yang kini ada di bawah kaki nya.


Ini kan...


Batin Arfen,  tanpa pikir panjang mengambil benda itu.


***

__ADS_1


Nexttt??


Lanjuttt??


__ADS_2