My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
S2 Bab 8


__ADS_3

***


Bukan hanya soal gaya dan warna nya yang menarik. Ada satu hal yang sangat menarik hati Riyan untuk datang ke tempat ini. Tapi,  dia juga tak tau pasti apa itu. Yang jelas, dia merasa tertarik untuk datang ke tempat ini.


"Mau pesan apa kak? " Tanya pelayan itu,  suaranya begitu menggemaskan dan menyejukkan telinga.


Riyan menoleh, 


"Bocah Rese!! " pekik Riyan saat ia mendapati gadis itu. Gadis muda yang selalu memenuhi pikirannya. Gadis yang sama,  yang memaksa Riyan mengerahkan orang - orangnya untuk mencarinya. Mengobrak abrik satu kota demi mendapatkan gadis itu. Gadis yang sama,  Yang selalu Riyan mimpikan. Gadis yang sama, Yang berhasil membangkitkan seluruh ekspresi di wajah Riyan. Jika sudah bertemu,  apa yang akan Riyan lakukan?


"Om Galak yang di rumah sakit?!!! " Pekik Gadis itu tak kalah keras. Bagaimana mungkin Vania bisa melupakan wajah orang yang tampan itu,  yang selalu jadi bahan haluan nyatanya. Yang berhasil membuat nya merasa hambar dengan pria tampan manapun kecuali Riyan.


Urat - urat kekesalan sudah muncul di kening Riyan.


Apa bocah ini buta?! Gak liat apa gue kayak anak muda gini! Dari mana aura om om nya!!


Umpat Riyan dalam hati,  namun Riyan secara misterius menyunggingkan senyuman nya. Entah apa maksudnya.


"Jangan manggil Gue om! Gue masih muda! Usia masih 17 tahun! " Kata Riyan sarkas,  Riyan langsung menarik tangan mungil  Vania untuk lebih dekat dengannya.


"Ogah sih manggil Kakak. Aku maunya manggil om~ om~ ohh om~" ledek Vania yang emang gak ada takut - takutnya sama Riyan. Bahkan saat Riyan sudah memasang mode Menyeramkan. Vania bahkan mengucapkan kata Om dengan nada,  tentu tujuannya membuat Riyan kesal.


Vania sendiri juga bingung,  kenapa dia begitu  bahagia dan senang saat mengejek Riyan,  apalagi jika Respons nya Riyan itu langsung kesal.


"Om~ Oh Om~" lanjut Vania dengan nada khasnya.

__ADS_1


Riyan hanya bisa menggelengkan kepala,  sembari menghela napas kasar. Dia memilih mengalah pada Vania si bocah.


Terserah deh,  asal dia bahagia aja. Huhh... Akhirnya... Ketemu juga sama bocah ini. Hemm,  Kayanya ada yang berubah dari dia.


Batin Riyan,  berusaha menatap Vania, ada yang sedikit berbeda. Tapi,


"Oh yah Bocah, lo ngapain di sini? Lo jadi pelayan? Kerja di sini? " Tanya Riyan menarik dekat Vania.


"Enak aja jadi pelayan. Oi, Aku nih yang punya Cafe ini tau. Nih Cafe udah atas nama aku. " Sahut Vania dengan mengerucutkan bibirnya.


Dia? Dia yang punya?


"Maksudnya?? "


"Oh yah, Gue turut berduka cita atas kehilangan orang tua lo. " Kata Riyan, entah lah ada bagian hatinya yang sedih dan kecewa. Membayangkan bahwa Vania si gadis cerewet ternyata hanya punya sang kakek sebagai tumpuan hidupnya.


Vania mengangguk, tapi tidak sendu. Dia hanya menampilkan cengiran manisnya. Itu adalah pesan kedua orang tuanya sebelum meninggal. Bahwa Vania tetaplah harus jadi Vania yang cerewet dan ceria. Dan Vania berjanji atas itu.


"Jadi Cafe ini punya keluarga lo. Bagus sih, lumayan dekorasinya. " ujar Riyan lagi membuka pembicaraan.


"Bukan lumayan om. Ini mah udah bagus banget. Ini papah aku sendiri yang rancang loh. "


"Hemm, Heran aja sih bokapnya punya bakat keren gini. Eh anaknya bakatnya jadi biang rusuh. " ledek Riyan, sontak Vania yang sedari tadi berada tidak lebih setengah meter memukul pelan Riyan.


"Aku berbakat tau. Buktinya di usia muda aku bisa kelola Cafe ini. Henn, dah lah. Sekarang Om mau pesan apa? "

__ADS_1


Riyan sendiri berusaha menahan tawanya. Wajah Vania yang merengut ini benar - benar menggemaskan.


Seret pulang boleh gak sih?


Batin Riyan, apakah Vania begitu imut hingga bahkan Riyan ingin membawanya pulang?


"Gue pesan menu andalan deh di sini. Sekalian Bungkusin Dua porsi. "


"Menu andalan di sini itu Cupcake, Key'Coffe, dan Ice Cream spesial dengan resep spesial buatan almarhuma mamah aku. Tunggu yah. " Vania sudah mencatat pesanan Riyan.


"Tunggu... " Kata Riyan menahan tangan bocah mungil itu.


"Heyyy!! " panggil Riyan, ada seorang pelayan menghampiri. "Suruh Dia aja yang buat. Lo temenin gue di sini. Gue masih mau nanya - nanya. " lanjutnya menunjuk pelayan yang kira - kira sudah ibu-ibu.


Vania hanya mendengus kasar,


"Bik, buatin Menu spesial kita tiga. Satu sajiin di sini. Dua nya bungkus aja. " Kata Vania. Bibi itu menunduk mengerti, dan langsung pamit pergi.


Vania kecil sudah duduk di kursi depan Riyan.


Gue tau apa yang berubah. Bocah ini makin tinggi, makin cantik, dan kenapa dia bisa seimut ini?!!! Bikin gue gak tahan buat seret pulang!! Apa gue karungin aja nih bocah?!


Batin Riyan menatap intens Vania yang masih memeriksa catatan pesanan di Buku kecilnya.


***

__ADS_1


__ADS_2