My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
S2 Bab 19


__ADS_3

***


Akhirnya Jaga malam itu telah selesai, meski hanya sedikit cahaya matahari telah tampak.


Sangat indah, Warna Biru tua yang bercampur Oranye nya sinar mentari pagi.


Thifa baru saja bangun. Dia menoleh kanan kiri, Tak ada satupun dari sahabatnya yang sudah bangun.


Sebenarnya pagi ini Thifa ingin ke sungai, sekedar cuci muka aja. Enggak usah mandi, kalo kata Shiren mah gak mandi gak masalah. Namanya juga orang cantik.


Akhirnya Thifa memutuskan untuk pergi ke sungai Sendiri, benar - benar tak tega rasanya untuk mengganggu tidur nyenyak para sahabat nya.


"Sayank~ Mau kemana? Ke sungai? Mandi? Gue ikut yah? " Tanya Arfen yang baru saja mengambil jaketnya yang tergantung.


Yah memang hanya Arfen yang sudah bangun. Seperti nya Nando dan Riyan sudah tidur lelap di tenda. Jaga malam itu memang menyulitkan.


"Ngajak berantem? " Sinis Thifa menatap jengah Arfen. Ini masih pagi, dan manusia itu sudah melontarkan kalimat yang benar - benar menguji kesabaran.


Meski Thifa sayang pada Arfen, tak menutup kemungkinan untuk Thifa menepuk Kepala Cowok nya itu. Geram sekali rasanya.


"Mau Gelud yank? Boleh aja sih. Asal kita nikah dulu, biar geludnya di kasur. " Sahut Arfen enteng, berjalan ke arah Thifa.


"Kalo mau gelud, jaga diri dong. Kan gak enak kalo gelud nya waktu lo sakit. " Tambah manusia setengah waras itu, memakaikan Jaketnya pada Thifa.


"Elo yang sakit! Sakit jiwa!! "


Mau bagaimana lagi, Thifa benar - benar di uji kesabaran nya pagi - pagi begini. Seperti nya Thifa harus sedia obat sakit kepala kalau udah nikah sama Arfen.

__ADS_1


"Iyah gue sakit jiwa, obat nya cuma lo bidadari bersayap gue~"


Entah kenapa Thifa rasanya Mau muntah mendengar nada Arfen itu. Feel romantis nya gak dapat, eneg sih iyah.


"Oik Fen, lo tau gak obat sakit kepala yang bagus? " Kata Thifa, kali ini kelihatan serius.


Deg.


Jantung Arfen rasanya seperti berhenti berdegub. Dia meletakkan punggung tangannya di kening Thifa.


"Lo sakit Thif? Kepala pening? Bentar, Gue panggilin Helikopter dulu. Lo tunggu aja, gue bakal izin sama pak Ghani. Kita ke Rumah sakit sekarang. " Kata Arfen terburu - buru. Tapi, tak lupa mencium lembut kening Thifa.


Thifa diam nyaris tak bergerak. Arfen dengan buru - buru menelepon Andrean, Asistennya.


"Woi Fen, gue gak sakit, oke? Gue cuma nanya obat sakit kepala yang bagus, buat Stok waktu nikah sama lo. " kata Thifa menjelaskan.


Arfen diam, "Batalin semuanya! " Titah nya dingin pada Andre.


Sebuah kecupan hangat lagi - lagi dia daratkan di kening mulus Thifa.


"Dengerin gue, lain kali jangan bercanda kayak gini. Gak lucu, gue khawatir setengah mati. Lo tau kan, lo kehidupan gue Thif. My life. Dan cuma lo, jadi Please... " Lirih Arfen memeluk erat Thifa.


Kalo ada yang bangun dan liat gue pelukan sama Thifa. Baik Guru ataupun murid, Bakal gue seret ke gang encot, Kapan lagi momen gini muncul.


Batin Arfen, dia semakin mengeratkan pelukan nya pada Thifa.


Thifa sendiri diam tak bergeming, Dia tau bahwa Arfen sangat mencintai nya. Tapi, Thifa enggak tau bahwa Arfen bisa bertindak di luar akal sehat demi dirinya.

__ADS_1


"Gue salah, oke? Temenin gue ke sungai? Gue mau cuci muka. " Kata Thifa melepas pelukan Arfen.


"Oke, kita jalan. Btw, ini benaran lo gak apa - apa kan? Kalo ada yang sakit, ngomong Thif. Kita ke Rumah sakit sekarang. " tanya Arfen memastikan.


"Gue baik - baik aja. Udah ayo jalan. Keburu yang lain bangun. "


"Kayak mau ngapain aja. "


Akhirnya keduanya berjalan sambil bergandeng tangan.


***


Mata Thifa langsung berbinar saat dia melihat sungai yang jernih itu mengalir, benar - benar cantik. Apalagi agak berkilauan karna pantulan cahaya matahari. Sangat indah, benar - benar cuci mata yang nyata.


Thifa langsung mendekati air sungai itu, mencuci wajahnya.


"Uhhh segarnya!!! " Teriak Thifa girang. Dia menghirup napas panjang, merasakan murninya oksigen alam itu.


"Hati - hati yank, awas kepleset. Arus sungai nya deras. " peringat Arfen mendekati Thifa.


Cowok tengil itu tak tahan untuk tak mencuci mukanya, saat melihat Thifa begitu cantik karna terbilas Air sungai. Sfx : Muka Thifa emang udah cantik dari lahir.


"Yakin cuma mau cuci muka aja? Gak mau mandi sekalian? " Tanya Arfen memastikan. Siapa tau Thifa berubah pikiran, kan?


"Gelud kuy Fen, tapi nikah dulu. Tapi juga geludnya gak di kasur. Kita gelud di dapur. " sahut Thifa dengan senyuman yang di tebarkan.


"Boleh, Spatula, wajan, tutup dandang senjata gue yah. Sisanya buat lo deh. "

__ADS_1


Thifa menghela napas kasar. Celotehan Arfen benar - benar tak ada habisnya, bagai udara.


***


__ADS_2