My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
S2 Bab 7


__ADS_3

***


anak ini beneran gak waras?


batin Thifa,  ia semakin bingung saat ini.


"Oh yah udah. tunggu yah,  biar Kakak buatin dulu. " Kata Nenek itu. Berjalan melenggang pergi.


"Sippp!! Kak!! "  Arfen menyahut ringan dengan menampilkan cengiran manisnya.


"Kakak? " Pekik Thifa mengernyitkan dahinya. "Itu nenek - nenek loh Fen? " lanjutnya.


"Oke,  Dengerin dongeng gue yah. Gue sadar dia tuh Nenek - nenek. Lo jangan mikir macam - macam deh. Iman gue kuat. Gue kan calon imam Dunia Akhirat. " Sahut Arfen enteng. Mendekatkan kursinya ke dekat Thifa.


"Lah terus,  kenapa manggilnya kakak? "


"Ini dia ceritanya. Jadi Nenek itu dulunya punya adik laki - laki. Tapi,   waktu adiknya SMA dia meninggal karna kecelakaan makanya gue,  Fandri Hasan sama Riyan manggil dia kakak. Jelas kan? Gue gak mau cerita panjang lebar. Kecuali... " Terang Arfen,  mendongeng sembari terus menggenggam erat tangan Thifa.


"Kecuali apa Fen? "


"Kecuali kalo ngomongin masa depan kita. Gue mah acc sampai besok pagi juga ikhlas. "


Bukhhh!!


Thifa memukul pelan bahu Arfen. Sembari terus memanggut mengerti. Meskipun tak semua,  yah setidaknya Thifa tau maksud Arfen.


Arfen dan yang lainnya memanggil Nenek itu kakak untuk mengobati luka rindu nenek itu, meskipun sedikit tetap saja itu berarti.


Buat Riyan,  siap - siap deh~


Batin Thifa mengepalkan erat tangannya. Wajahnya mencerminkan apa yang ada di pikiran nya saat ini. Rentetan susuan rencana sudah menanti manis Riyan.


Mengetahui Fakta yang sebenarnya sudah tidak membuat Thifa marah pada Arfen, atau kakak yang Riyan sebutkan.


Bahkan, hanya dalam satu atau dua jam, Thifa sudah cukup akrab dengan Nenek itu.

__ADS_1


Cukup sore sudah langit memperlihatkan waktunya, dengan mengeluarkan cahaya berwarna jingga. Arfen dan Thifa pamit untuk pulang pada Nenek itu.


***


"Jadi, masih marah sama gue?" tanya Arfen melirik Thifa yang ada di sebelahnya. Sembari terus melajukan mobilnya.


Thifa menggeleng yakin. Lalu tersenyum ria.


"Jadi gue masih di izinin kan, mabar di sana? "


"Boleh aja sih, asal pulang sekolah. Jangan terlambat mulu lah Fen. Gak baik, Elo dah kelas Dua belas loh. Entar gak lulus gimana. " Protes Thifa. Melihat tingkat kerusuhan yang Arfen perbuat semakin bertambah seiring umurnya juga.


"Sippp Nona muda, enggak ada yang berani nentang deh titahnya Nona muda. " Kata Arfen terus menggenggam tangan Thifa tanpa melepasnya. Jadi, Arfen nyetir tangan satu.


Thifa sendiri harus berjuang keras untuk menyembunyikan wajah tersipunya, pipinya yang merona hangat harus di sembunyikan dari Arfen. Jika Arfen tau, Arfen akan terus menggoda Thifa.


Cukup setengah jam saja, Arfen dan mobilnya sudah ada di halaman rumah Thifa.


"Makasih yah udah anterin gue. " ujar Thifa yang baru turun dari mobil, di ikuti oleh Arfen.


Bocah ini?! Awas aja nanti!!


Geram Thifa, dia mengerti maksud Arfen.


Chup


Thifa menjinjit menyepadankan tingginya dan Arfen, dia mengecup lembut pipi kanan dan kiri cowok tengil kesayangannya itu.


Senyuman puas terlukis jelas di wajah Arfen, ada ide di kepalanya untuk hal ini sebagai kebiasaan dalam hubungan mereka nanti.


Ingin Thifa menjauh, namun Arfen menarik Thifa dalam pelukannya.


"Lain kali ngecup nya lama yah, jangan cuma bentar. " bisik Arfen melepaskan pelukannya dari Thifa.


Blush!!! ///

__ADS_1


Pipi Thifa langsung merona begitu saja, dan kali ini Arfen juga melihatnya.


"Jangan malu gitu. Kita kan udah tunangan heii. Yah udah gue balik dulu yah. " pamit Arfen kembali masuk dalam mobilnya.


***


Ukhhhh


Gadis mungil itu membaringkan tubuhnya di kasur empuk ber seprai biru dengan motif langit dan awan.


Lega sekali rasa hatinya mengetahui fakta dari warung tongkrongan Arfen CS. Dia bersyukur Arfen hari ini membawanya kesana, Atau Thifa benar - benar tak kan bisa tidur malam nanti.


***


Sore itu entah apa yang merasuki Airin. Istri Agung itu tiba - tiba memaksa Riyan untuk membelikannya Makanan apapun yang penting dari Key'Cafe.


Setelah mendapat Alamat dari sang mamah, Riyan langsung melesat pergi ke tempat yang di minta. tak ingin lagi membuat mamah kesayangan menunggu.


"Key'cafe" gumam Riyan menatap sebuah Cafe berdominan warna coklat dan hitam itu, tampak manis dan sederhana. Elegan dan juga menenangkan. Memang tidak begitu besar, hanya Cafe biasa.


Riyan melangkah masuk, sembari mengedarkan seluruh pandangan nya ke Cafe ini.


"Perpaduan Dekorasi dan Warna yang bagus, haruskah gue ambil alih buat jadi anak cabang perusahaan papah? " lanjutnya duduk di sebuah kursi. Riyan juga penasaran dengan cita rasa makanan di sini, hingga ia memutuskan untuk mencicipi makanan itu di tempat ini dengan nuansa Cafe yang menurutnya spesial. Sambil menunggu pesanan mamahnya.


Bukan hanya soal gaya dan warna nya yang menarik. Ada satu hal yang sangat menarik hati Riyan untuk datang ke tempat ini. Tapi, dia juga tak tau pasti apa itu. Yang jelas, dia merasa tertarik untuk datang ke tempat ini.


"Mau pesan apa kak? " Tanya pelayan itu, suaranya begitu menggemaskan dan menyejukkan telinga.


Riyan menoleh,


"Bocah Rese!! "


"Om Galak yang di rumah sakit?!!! "


***

__ADS_1


__ADS_2