
***
"Nando!! " Panggil Thifa menghentikan langkah Nando yang jalan sendiri. Nando meboleh, ke asal suara familiar yang memangggilnya.
"Apa Thif? " Tanya Nando, saat gadis itu sudah berada di dekat nya.
"Gue mau nanya ke elo. Lo udah gak suka kan ke Gue? Lo sukanya ke Raisa kan? " Tanya Thifa Sarkas. Langsung to the poin tanpa ada basa basi.
"Gue emang dulu sukanya elo. Tapi, liat elo begitu mencintai Arfen. Yah gue mundur teratur aja. Gue juga gak tau, kalo pada akhirnya gue bakal suka ke Raisa. Emang, Sukanya gue ke Raisa ke baca banget yah? "
Thifa memanggut - mamggutkan kepalanya. Seakan mengerti situasi Nando saat ini.
"Sebenernya, enggak kebaca banget sih. Cuman, yah itu. Kita kan sahabatan udah lama. Yah gue udah tau lah jenis muka lo lagi menggalmbarkan Ekspresi Apa. Gue gak tau sama yang lain. Tapi, gue bisa lihat jelas, lo suka sama Raisa. "
"Yah gitu deh Thif... "
"Kenapa elo gak tembak aja? Gue liat - liat kayak nya kalian cocok loh. Si Raisa juga kayaknya ada perasaan sama elo?! "
"Mau tembak gimana? Raisa gak suka sama gue. Gue sih yakin nya dia sekarang lagi suka sama Riyan. Secara kan, Riyan yang nolongin dia dari tembakan itu. " kini wajah Nando berubah muram seketika. Ada rasa nyelekit yang perih di hatinya. Jika seandainya Raisa benar - benar menyukai Riyan.
"Nah, itu lo yang keliru. Raisa mungkin gak suka Riyan. Raisa mungkin aja menghargai Riyan, mungkin aja Raisa gitu sebagai tanda terima kasihnya sama Riyan. Perasaan orang, kita enggak ada yang tau Nan. "
Deg.
Apa yang Thifa katakan ada benarnya. Mungkin saja memang begitu. Mungkin Raisa bersikap manis pada Riyan, hanya Karna Riyan pernah menolong nya. Bersikap baik bukan berarti suka. Nando masih ada kesempatan? Mungkin.
__ADS_1
"Lagian yah Nan. Gue yakin kok, Raisa juga ada rasa ke elo. Gue sih dukung dan pro banget kalo kalian sampaj jadian. " lanjut Thifa, meyakinkan sahabatnya ini.
Yang Thifa katakan bener. Mungkin Raisa cuma ngerasa bersalah. Enggak bener - bener suka.
Batin Nando. Kini hatinya sudah jauh lebih tenang, mendengar pernyataan Thifa kali ini.
"Thanks yah Thif. Lo emang sahabat gue. Berkat elo, gue jasi semakin yakin dan semangat buat deketin Raisa!"
***
"Iyah Yan, Aman. Lo santai aja, gue bakal jagain Raisa dari segala macam cowok yang mau deketin dia. Makanya, lo cepat sembuh dan cepat balik ke sekolah dong. Biar lo bisa jagain dan lindungin sendiri si Raisa. " Kata Arfen mengobrol ringan dengan pria di ujung Telepon nya.
"Haha. Gue juga gak mau terbaring gak berdaya gini. Yah, lo jagain Raisa lah, seenggaknya, sebelum gue keluar dari Rumah sakit. " Sahutnya. Dia adalah Riyan, sahabat Arfen.
"Thanks yah Fen. Lo emang sahabat gue. Pokoknya lo jagain tuh calon istri gue. "
"Iyee deh calon kakak ipar, yang belum pasti. "
Arfen tersenyum geli sendiri. Satu hal yang tak pernah ia bayangkan adalah, bahwa dia dan sahabatnya akan menjadi Ipar?
***
"Nan? Lo gak ikut buat Jengukin Riyan? " Tanya Raisa menghentikan langkah Nando.
Bel pertanda untuk pulang sudah terdengar beberapa menit yang lalu. Banyak orang sudah berlalu lalang untuk pulang.
__ADS_1
"Emang gue berhak Sa? Gue takut, gue gak di terima di sana. " Sahut Nando. Apa yang Nando katakan ada benarnya. Faktanya, Riyan ada di sana, terbaring di Rumah Sakit karna ulah papah Nando.
"Enggak ada yang bakal nolak elo. Lo kan bareng gue. Gue yang ngajak, enggak akan ada lah yang berani ngusir elo. " Kekeuh Thifa, masih terus membujuk Nando.
"Tapi Sa. Emang mereka bakal terima?! "
"Gak terima juga harus terima. Udah deh, enggak usah ada tapi - tapian. Mending ikut gue. Atau jangan - jangan, lo anggap kita semua musuh? "
"Enggak Sa. Sumpah gue gak pernah anggap kalian musuh. Gue cuma gak enak aja sama mereka. "
"Gak enak juga harus di enak - enakin lah. Lagian elo yah, berani - beraninya nolak ajakan sepupu gue. Belum tau galaknya dia gimana. Entar di keluarin loh tuh gigi taring nya. Di ambil entar darah lo. Udah mending ikutin aja apa kata dia. " Sambar Seseorang yang Raisa dan Nando kenal betul suaranya. Suara yang menggetarkan hati banyak kaum hawa.
"Arfen? Elo? "
Arfen langsung merangkul Nando, yah tinggi mereka bisa dikatakan sama.
"Salah lo Fen. Gue belum berubah. Matahari masih ada. Entar malem deh, enggak ada matahari. " Sahut Raisa, menanggapi celotehan tidak masuk akal Arfen.
"Kan ada bawang putih! " timpal Hasan.
"Lo pikir Vampir kali akh!"
***
Nexttt??
__ADS_1