
***
Tanpa Thifa sadari, setelah ia lelah menangis dan merutuki nasibnya, hingga matanya sembab karna Air mata yang terus keluar.
Ternyata jam sudah menunjukkan pukul Tujuh Malam. Thifa beranjak untuk mandi. Uh, rasanya malas sekali untuk melakukan apapun. Berat sekali.
Jika bukan karna untuk lebih segar, mungkin malam ini Thifa enggak akan mandi.
Bodoamat! Malas mandi! Gak perduli!
Batin nya, ia berbalik menjatuhkam badannya di kasur empuk miliknya. Sepertinya kemalasan sudah merayapi tubuhnya. Apalagi, di tambah dengan dadanya yang sesak dan penyesalan. Bukan hanya itu, Arfen bahkam tak ada mengirimi pesan apapun. Dan parahnya lagi. Arfen tidak mengangkat Telpon Thifa.
Ingin rasanya Thifa melempar ponselnya tadi siang. Ia benar - benar menyesal menolak ajakan Arfen.
"Thifa!! Nak! Thifa!!! " panggil mamahnya dari bawah.
Inilah saat yang paling Thifa tidak sukai. Dimana saat ia ingin benar - benar sendiri, ia terpanggil oleh seruan seorang ibu. Ingin menolak, Thia tak kuasa. Ia masih takut sama api Neraka.
"iyah mah! " Sahutnya. Dengan langkah gontai, rambut acak, wajah lesu, mata sembab, Thifa menuruni tangganya.
"Ada apa Sih mah? Kan Thifa udah bilang. Thifa lagi pengen sendiri. Jangan di ganggu. " keluh Thifa.
"Ke Teras sana. Ambilin paket pizza mamah. Cepet ikh. "
Ya ampun?! Cuma di suruh ambilin paket Pizza depan rumah. Mah?! Mamah di lantai bawah. Thifa lantai atas. Masih deketan mamah! Kenapa nyuruh Thifa gitu!
Batin nya. Yah Thifa cuma mampu membatin. Ingin meronta? Thifa sadar. Api Neraka masih panas.
Krekkk
Thifa membuka pintu rumah nya. Dan
"Selamat malam sayang~" Sapa suara cowok yang sedari tadi ada di pikiran Thifa.
"Hai Kak Thifa! Apa kabar? " Sapa Gadis mungil yang ada di sebelah Arfen. Thifa mengenali gadis itu, yah dia adalah Shiren.
__ADS_1
"Lama gak ketemu yah, Thifa? " Sapa hangat Sheryl membawa parsel berisikan Seperangkat alat Sholat.
"Malam nak. Kita ganggu? " Kini Nathan yang menyapa.
Thifa diam membeku. Entah lah, rasanya kepalanya belum mengerti apapun. Arfen dan keluarganya datang? Maksudnya apa? Sheryl bawa Parsel isinya seperangkat Alat Sholat, itu maksudnya apa lagi? Kira - kira itulah yang menggambarkan ekspresi melongo nya Thifa.
"Hai Thif! "
Sapa yang lainnya. Yah mereka tentu adalah Hasan, Fandri, Melia, Nando, dan Anggi. Sayangnya tidak ada Riyan di sana.
"Halo Ipar Gue! Eh calon maksudnya! " Sapa Raisa santai melambaikan tangannya.
Thifa lagi - lagi di buat bengong. Teman - temannya juga ada? Dengan masing - masing Parsel beraneka ragam di tangan mereka?
"Arfen, apa ini? Bukan nya lo marah sama gue? Karna tadi pagi gue enggak ik--" Celetuk Thifa, menatap Arfen yang kini sudah berdiri di sebelah nya.
"Gue gak marah. Emang gue bisa marah sama cewek secantik elo? Dan soal pantai. Kita gak kepantai. " Sahut Arfen enteng.
"Hah?! " Thifa masih melongo heran.
"Jadi Thif, tadi pagi tuh kita enggak bolos ke pantai. Kita itu kerumah Arfen, siapin nih Parsel buat lamaran lo. Maaf yah kita bohong. " timpal Anggi mengulum senyuman semanis mungkin.
"Hah?! "
"Arfen! Jangan lama - lama nak! Anak orang! " Peringat Nathan. Jaga - jaga kalau anaknya itu aneh - aneh.
"Anak orang kan calon mantu papah. " Sahut Arfen enteng. Ia menarik Thifa masuk mobil mengajak Thifa ke suatu tempat.
"Silahkan masuk, pak Nathan? " Sambut Ari. Ia sudah jauh lebih baik. Meminta Nathan dan keluarga untuk masuk.
***
"Arfen? Ini dimana? " tanya Thifa, saat ia dituntun oleh Arfen kesuatu tempat. Thifa tak tau tempat apa itu. Karna, mata Thifa tertutup oleh kain.
"Bentar yah, Maju deh dua langkah. " Arfen menuntun Thifa. Dan dengan perlahan membuka ikatan kain nya.
__ADS_1
"Ini? Jembatan? " Tanya Thifa, saat ia mengedarkan pandangan nya. Yah dia berada di jembatan bersmaa Arfen.
"Iyah jembatan. Gue mau nyatain perasaan gue ke elo disini. Di tempat ini. " Arfen mulai menatap makna Thifa.
"Stop! Lo jangan ngomong apa - apa dulu! Lo liat tuh bintang di langit malam. Indah banget. " Thifa menunjuk bintang yang ada di atas langit. Arfen mengikuti arah jari telunjuk Thifa.
Cupp!
Thifa jinjit untuk mencium pipi Arfen.
Arfen mengulum senyuman sangat puas. Puas sekali.
"Kalo tau pendek tuh jangan sok nyium..kalo mau nyium bilang dong. Biar gue bungkuk. " ledek Arfen terkekeh geli.
"Yah udah Nunduk dong! "
Arfen mengernyitkan dahinya heran. Namun, ia tetap mengikuti arahan Thifa untuk nunduk. Ia mensejajarkan wajah tampannya dengan wajah manis Thifa.
Cup.
Sebuah ciuman singkat dark Thifa untuk Arfen.
"Gue cinta ke elo Fen. Maafin gue. "
"Lah? Kan yang mau bilang cinta gue. Kok jadi elo? Lo curang, gue gak terima. "
Arfen menarik tengkuk Thifa, mendaratkam satu kecupan manis di bibir ranum Thifa.
Angin menderu merdu. Bintang bersinar terang. Bulan memancarkan cahaya keanggunan, menjadi saksi. Ciuman pertama mereka.
"Btw Thif, elo udah mandi belom sih? "
Thifa langsung mencubit perut Arfen. pipinta merah, ia malu setengah mati.
"Haha!! tenang masih cantik kok. gue masih cinta!! "
__ADS_1
***
Tunggu yah, meski udah End. Masih ada Satu atau Dua ekstra part. Dan Bab Spesial, di sana Aku bakal kasih tau tentang S2 nya yah^^