My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
S2 Bab 9


__ADS_3

***


Vania kecil sudah duduk di kursi depan Riyan.


Gue tau apa yang berubah. Bocah ini makin tinggi,  makin cantik,  dan kenapa dia bisa seimut ini?!!! Bikin gue gak tahan buat seret pulang!! Apa gue karungin aja nih bocah?!


Batin Riyan menatap intens Vania yang masih memeriksa catatan pesanan di Buku kecilnya.


Berapa menit berlalu dengan hening. Vania sendiri masih sibuk dengan Note - note kecilnya.


"Oi,  Nama lo siapa bocah? " Tanya Riyan yang tak tahan dengan keheningan itu.


"Denger yah Om,  Aku itu gak bocah. Aku ini udah 14 tahun loh, Empat bulan lalu. humph!! " Ketus Vania,  kali ini gadis itu benar - benar sibuk.


Dia ulang tahun? Empat bulan yang lalu? Gue telat dong kalo ngucapinnya sekarang. Hem 14 tahun yah,  udah nambah setahun.


Batin Riyan,  ia secara tiba - tiba menyunggingkan senyuaman miring entah apa yang ada di dalam pikirannya.


Humph!! Om ini kenapa bisa ganteng banget sih,  dan kenapa juga harus galak!! Dan kenapa Liat om ini beda rasanya sama liat Cogan lain. Cogan lain terasa hampa setelah aku ketemu om ini. Bahkan Guru baru muda itu gak sekeren Om ini~Oh om~ Om~ Kenapa sih kamu itu galak?


Batin gadis mungil itu. Memang perhatian nya berkutat pada buku nya,  namun tak ada yang tau ternyata hatinya hanya fokus pada Riyan. Om yang ada di depan sana.


"Ogah,  gue mau manggil bocah. Cah bocah bau kecambah~" ledek Riyan tak kalah iseng dari Vania.


"Yah udah,  aku gak mau kasih tau nama aku. " Ketus gadis mungil itu,  ia sekali lagi mengerucutkan bibirnya.


"Oke oke,  gue gak akan panggil lo bocah lagi. Sekarang kasih tau nama lo. " Kata Riyan serius.


"Vania Keyland,  Putri tunggal keluarga Keyland. "


"Vania si bocah~"

__ADS_1


"Eh,  aku gak bocah?! Om kan dah janji gak bakal manggil aku Bocah lagi?!! Hum! "


"Boleh aja sih. Asal lo gak manggil gue om. "


"Gak bisa! Aku manggil om itu sudah sesuai fakta loh~ Om yah tetap om~"


"Ini Tuan pesanannya. " Kata bibi pelayan itu menyajikan makanannya. "Non mau apa? " kini pandan bibi itu beralih pada Vania.


Vania menggeleng pelan. " Enggak deh bi. Tadi kan baru makan ice cream. "


"Permisi Non~"ujar bibi itu kembali pergi dengan nampannya.


Ehmmm


Deg.


Hanya satu suapan dari Cupcake coklat dengan beberapa di atasnya sebagai hiasan, mampu melelehkan lidah Riyan. Dia benar - benar takjub atas rasa dari makanan ini.


"Enak gak om? " tanya Vania.


Bukannya menjawab Riyan malah dengan santainya menatap Vania sambil terus menyendok ice creamnya.


"Punya mulut gak? Aku nanya nih?? " Tambah bocah itu lagi, kali ini dengan nada kesal yang menggemaskan.


Riyan hanya bisa menahan tawa melihat Vania yang menurutnya begitu lucu.


***


Riyan sudah selesai dengan segala makanan dan minuman nya. Buh! Riyan jamin, itu cupcake paling enak yang pernah di makannya.


"Dah Om~ Balik lagi beli yang banyak yah~" Kata Vania mengantarkan Riyan ke mobilnya. Spesial untuk Riyan, Vania antar sendiri sampai ke parkiran. Eh ralat, Riyan yang minta di antar kok.

__ADS_1


"Hmmm" Cowok sok keren itu hanya menggumam, padahal tuh mulut ingin banyak omong. Tapi, Riyan harus menutupinya, kan?


Tiba - tiba tangan Riyan gatal ingin menarik Vania masuk ke dalam mobil dan mengajaknya pulang bersama. Namun, Otak dan logikanya masih jalan. Dia gak akan mungkin karungin anak orang gitu.


"Ck! Sial!! " umpat nya lagi, tatkala hasrat untuk menyeret Vania pulang semakin besar.


"Ada apa om? "


"Gak ada apa - apa! " Ketusnya, Riyan masuk ke dalam mobil.


Vania sendiri heran, ada apa dengan Riyan. Kenapa dia tiba - tiba jadi suka marah gitu.


Kayaknya ada salah server deh nih. Kenapa om segalak itu malah di kasih muka setampan itu. Oh om galak ~ Om tampan~ Datang lagi~ On terlalu tampan untuk di anggurin~


Batin Vania mangantar kepergian Riyan dengan senyuman. Dari kaca spion mobil, Riyan bisa melihat senyuman manis Vania, di ikuti dengan senyuman Riyan juga.


Satu hari nanti. Gue bakal tarik lo ke rumah gue. Tunggu aja Cah!


Yakin Riyan.


***


Bughhhh


Riyan membantingkan pelan tubuhnya ke kasur yang sangat empuk itu. Matanya tak beralih dari menatap atap kamarnya, pikirannya juga masih menampilkan bayangan yang sama. Wajah gadis itu.


Riyan ingat bagaimana lucunya sore hari itu. Dia selalu tertawa saat berada di sebelah Vania, layaknya Gadis kecil itu adalah sumber kebahagiaannya.


"Vania Keyland yah? " Gumam Riyan, sembari menatap kalung perak dengan huruf V.


Tiba - tiba ada ingatan menggemaskan tadi sore hinggap di kepala Riyan.

__ADS_1


***


__ADS_2