
***
Meski Rehan ganteng, tapi masih gantengan Om ini. Om Riyan, Oh Om~ kenapa galak sekali sih!
Batin Vania, merutuki nasibnya. Dia sudah sangat beruntung ketemu orang ganteng, tapi sialnya. Orang ganteng nya itu galak banget. Mengurangi potensi nya.
Tanpa Vania sadari, Ocehan asal ceplosya itu, mampu membangkitkan api yang membara. Ekspresi Riyan sudah berubah drastis. Tekanan di sana sudah tidak normal.
"Ikut gue! " Pekik Riyan menarik tangan Vania.
Vania mungil hanya bisa mengikuti arus tarikan tangannya Riyan. Cowok dingin dengan api membara itu menarik si kecil Vania ke halaman belakang.
"Duduk! " Titah Riyan dengan satu kata. Aura Riyan begitu menekan, memaksa Vania untuk mengikuti titahnya. Aura ceria Vania tak kuasa mengalahkan aura Riyan kali ini.
"Mana hp lo? Siniin! " titahnya lagi. Bagai tersihir, Vania memberikan Hp nya begitu saja.
Riyan duduk di sebelah Vania, merangkul manis gadis kecilnya.
Cekrekk!!
Tiba - tiba Riyan memotretn mereka berdua.
Buh!
Tiba - tiba, Vania merona malu. Riyan menyadari hal itu. Senyuman puas sudah terlukis jelas di sana.
"Kalo lo butuh asupan orang ganteng. Liat ini aja. Jangan liat yang lain, atau gue bakal butain mata lo. " Bisik Riyan tepat di telinga Vania.
Membuat gadis kecil itu kegelian. Vania langsung begidik ngeri, dan agak menjauhkan diri dari Riyan. Tapi, tubuh mungil Vania mana mungkin bisa menggeser Tubuh kekarnya Riyan.
"Emang Rehan itu gimana orangnya? " Tanya Riyan tak tahan.
__ADS_1
"Enggak mau jawab. Nanti kalo aku jawabnnya salah, om Butain mata aku. " sahut Vania polos.
"Makanya jawaban lo harus memuaskan dong. "
"Terus aku mesti jawab apa? "
"Jawab, Riyan lebih ganteng dari Rehan. " titah Riyan.
"Om Riyan lebih ganteng dari Rehan, " beo Vania menyerapi semua kata - katanya.
Dih! Narsis! Dia yang nanya, dia yang jawab! Miring!
Batin Vania menelan salivanya payah. Tidak hanya galak, kini Vania sendiri sudah menanamkan di otaknya bahwa Riyan itu Narsis. Meski dia memang ganteng, dia gak harus pamer kan? Mungkin begitu lah pikir Vania.
"Om kenapa? Om cemburu, iyah? " tanya Vania dengan polos.
Entah pura - pura, atau tidak. Riyan malah tertidur di bahu mungil gadis kecil itu.
***
"Udah, Dua lagi Ada Andini, sama Fitri dari IPA Dua. " sahut Thifa setelah menelan baksonya.
"Yah udah, nanti kita bakal sering latihan bareng, oke? "
Thifa mengangguk mengerti, diikuti anggi dan Melia.
"Guys! Beberapa hari lagi kita bakal pergi kemah kan? Kita dari sekolah ini berapa orang? " Tanya Hasan.
Memang beberapa hari yang lalu, sudah di umumkan dari sekolah bahwa Sekolah ini akan melakukan perkemahan tahunan. Tentu, Tujuh Orang ini ikut. Mereka kan PTT (Pantang Tak Top)
"Dari sekolah ini sih Dua puluh lima orang, kita kemah gabung sama SMP MERAH PUTIH. Satu pabrik soalnya. Dari SMP ada Dua puluh lima orang. " sahut Thifa yang sikit banyak nya tau informasi terbaru.
__ADS_1
"Sama bocah - bocah nih? " Heran Fandri.
"Bukan bocah. Mereka juga Dua atau tiga tahun lagi udah naik SMA. " bela Riyan. Tentu dia menyuarakannya. Bagaimanapun, Vania saat ini masih bocah kan.
"Berhubung Bus nya cuma muat Lima puluh orang, Kita di minta naik mobil pribadi. Terutama lo Fen, sama Riyan. Bokap kalian sultan kata pak Ghani. " Lanjut Thifa menitahkan. Emang udah sifat dari sananya.
"Oik, ngapain naik mobil. Kita kan bisa naik Bus. Pas dong Lima puluh orang. " Heran Fandri, Nih bocah emang demen amat herannya.
"Buat Guru - guru SMP guys! Mereka masih butuh pengawasan Ekstra. Jadi Gurunya ikut masuk dalam Bus, Dan juga Guru SMA kita beberapa ada yang naik bus. Jadi, Yang bakal naik mobil. Gue, Arfen, Hasan, Anggi, Melia, Fandri, Riyan, Raisa, sama Nando Di bagi dua mobil, kata pak Ghani sih. "
"Yah udah lah, Hasan, Anggi, Melia, Fandri, Raisa, Nando, ada di satu mobil. Punya Nando aja. Terus, Gue, Thifa, Sama Riyan satu mobil sama gue. Kita sekalian bawa barang. Jadi barang - barangnya letak di mobil kita aja. " Usul Arfen. Entah apa yang di makan bocah ini tadi pagi, otaknya bisa selancar ini hari ini.
"Yakin Riyan sama lo? Mau lo jadiin nyamuk bin Supir pribadi?! Haha! " ledek Hasan, tak tahan.
Bukhhh!!
Timpukan dengan kekuatan yang cukup sudah mendarat sempurna di jidat Hasan.
Tentu Riyan tau, Arfen menyusun itu demi tidak membuat dirinya satu mobil dengan Raisa dan Nando. Meskipun Riyan sendiri tidak masalah, karna dia yakin. Dia sudah tidak mencintai Raisa lagi.
***
Hari yang di tunggu pun tiba. Hari ini mereka akan melakukan kegiatan perkemahan selama seminggu. Bus juga sudah berangkat beberapa menit yang lalu.
Arfen, Thifa, dan Riyan sudah Stand by di mobil, dengan Arfen yang mengendarai mobil. Namun mereka belum jalan karna masih harus menunggu pak Ghani.
Pintu mobil terbuka, bukannya pak Ghani yang masuk. Malah ada gadis mungil yang masuk, duduk di sebelah Riyan di bangku belakang.
"Bocah Rese! Ini elo?! " pekik Riyan--
***
__ADS_1