My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
Episode 40


__ADS_3

***


Thifa sebisa mungkin menahan senyum nya. Ia mulai berpikir untuk mencari banyak gombalan biar Arfen semakin Nge Fly.


"Jadi ini cowok elo Thif?  Berandalan sekolah?  Gue heran lo kok mau sih sama dia. Dia ini murid dengan kebandelan yang legend Thif. Sadar dong! " pekik seseorang. Thifa menoleh.


"Nando?! Itu elo?! Lo ngapain di sini?! " Pekik Thifa, ia benar - benar tidak menyangka kalau teman masa kecil nyq. Yang sudah lebih dari sepuluh tahun tidak di lihat nya, tiba - tiba ada di sekolah nya?.


"Iyah ini gue Thif. Gue rindu sama lo. Serius, gue kanget banget sama lo. Makanya, gue nyusulin lo kesini. " Cowok itu mencoba mendekati Thifa, ingin sekali memeluk gadis itu. Sontak, Thifa langsung bergerak ke dekar Arfen.


Arfen yang melihat itu tersenyum menang. Sangat puas rasanya.


"lo kok gak mau sih gue peluk Thif. Padahal, semasa kita kecil lo fine aja gue genggam tangan nya. " Gerutu Nando. Tampak ia mengusung wajah se sendu mungkin. Entah itu memang asli dari hati nya, atau hanya fake belaka. Tidak ada yang tahu.


"Bukan gitu Nan, lo kan tau kita udah semakin dewasa. Enggak normal aja gitu, kalo pake acara peluk - pelukan, menurut gue. Kita bukan anak - anak lagi yang polos. Jadi, ngertilah. " Kilah Thifa halus. Ia tidak ingin berdekatan dengan cowok lain kecuali Arfen. Namun, dengan kepribadian Thifa yang lugu. Ia berusaha semaksimal mungkin agar tidak menyakiti perasaan orang lain.


"Iyah sih Thif. Gue tau kita udah dewasa. Tapi kan, kita udah sepuluh tahun enggak ketemu." kekeuh Nando, ia masih mengharap kan pelukan rindy dari Thifa.


"Yah maaf, Gue gak bisa. " terang Thifa. Terlalu menyayat hati Jika Thifa bersentuhan dengan cowok lain.


"Terus, lo juga ngapain berlindung di cowok itu. Katanya lo gak mau dekat sama cewek. "


"Oh gue? Gue Arfenik Arkasa. Calon suami nya Thifa. Jadi sah sah aja kalo di berlindung sama gue. Secara kan udah jelas, siapa pahlawan siapa penjahat. Yah orang minta perlindungan sama pahlawan dong. " Anggar Arfen bangg, namun tangan nya masih setia menghormat bendera.

__ADS_1


"Gak abis pikir gue sama lo Thif. Kok bisa - bisa nya sih lo dekat sama orang kayak dia!! " pekik Nando lagi.


"Arfen enggak yang kayak lo pikirkan kok Nan. Arfen baik orang nya. Udah lah, jangan urus hal ini. " kata Thifa mencoba memberi penjelasan pada Nando.


"Gimana enggak urusan gue. Lo mulai sekarang tanggung jawab gue Thif. Bokap lo sama bokap gue udah mindahin Gue ke sekolah ini. Biar bisa jagain elo!! "


"Apa?! Bokap gue?! Lo bercanda kan Nan?! Enggak mungkin bokap gue bilang gitu! "


"Iyah dia bilang gitu kok! Makanya gue di pindahin ke sekolah ini!! "


Arfen menarik sudut bibir nya diam - diam. Entah apa yang Arfen pikirkan.


"kalo soal jagain Thifa. Gue lebih dari mampu. Mending lo pergi dari sini, sebelum muka lo yang standard itu, jadi ancur gak karuan. Lo harus sadar diri, muka lo yang begitu, kalau sampai hancur. Gak akan ada cewek yang mau dekat sama lo. " Sinis Arfen, dengan gaya santai nya.


"Arfenik Arkasa!! " teriak seorang gadis. Thifa mengenali gadis itu, yah dia lah Raisa Ardinanta. "Kata bu Shilla hukuman buat lo udah selesai. Dia gak tega tega amat jemur lo di panasan gini. "


"Iyah lah gak tega. Kalo sampai muka gue gosong, ilang dong pangeran tampan dari sekolah kita. " lagak Arfen yang kini sudah menurunkan tangan nya. Merangkul manis gadis mungil di sebelah nya.


"Serah elo. Oh yah elo? " Raisa mengalih kan pandangan nya pada pria jangkung, dengan hodiee hitam nya. Mata tajam, hidung mancung, pria yang sangat tampan. Tampak perawakan nya dingin dan kejam. "Lo Fernando Deiren? " tanya Raisa.


"Iyah Gue. Emang nya kenapa? " sahut nya datar. Berbeda sekali saat dia berbicara dengan Thifa.


"Kenal lo Ais? Gebetan baru elo? " sambar Arfen.

__ADS_1


"Enggak dong. Ogah gue sama yang model nya begini. Jelek. Bukan selera gue. Bikin keturunan keluarga gue hancur aja. " Celetuk Raisa santai. Soal sakit hati atau enggak nya cowok ini? Itu belakangan.


Bodoamat. Siapa suruh pasang muka datar sama gue. Gue juga bisa lebih kejam loh.


Batin Raisa. Garis keturunan Rei ini memang terlalu frontal.


"Yah udah, Gue Ke kantin dulu yah. Haus banget sumpah. Yok yank, " Arfen menggandeng tangan Thifa. Thifa menoleh menatap Fernando sebentar.


Maafin gue Nando, gue gak tau. Rasanya enggak enak banget kalo gue deket sama cowok lain, selain Arfen. Maaf...


Batin Thifa. Ia sendiri bingung. Mungkinkah juga Thifa sudah jatuh terlalu dalam dengan cintanya Arfen?


Liat aja Arfenik Arkasa. Cepat atau lambat Thifa bakal balik ke gue. Cinta kalian hanya cinta monyet yang baru aja di bangun. Sangat mudah buat hancurin hubungan kalian. Bukan kayak cinta gue ke Thifa, yang tulus dan udah sejak dulu.


Batin Nando, ia mengepalkan erat genggaman tangan nya.


Raisa yang sedari memperhatikan menyeringai manis. Tentu, gadis manis itu sudah tau apa yang dipikirkan cowok jangkung di hadapan nya.


***


Nexttt?!


Lanjutttt gessss??

__ADS_1


__ADS_2