My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
Episode 48


__ADS_3

***


"Kenapa kalian masuk lompat tembok? Kalian habis bolos? !" pekik bu Shilla yang saat ini tengah mengelilingi Empat orang cowok tampan itu.


Mereka kini tengah ada di tengah lapangan,  dengan di temani sapaan panas nya mentari di sana.


"Kite enggak bolos buk,  kita beli pulpen. Kalo enggak percaya,  tanya aja sam Bu Vina itu di kelas. " Sahut Arfen,  mulai melakukan pembelaan. Tak lupq,  cengiran khas manis milik nya juga tersuguh kan.


"beli pulpen?!  Kalian harus nya seidain dua pulpen,  sebagai murid yang terpelajar! "


"Kila Hilap buk. Maaf,  jadi nya lupa. " kini Fandri yang menyahuti nya.


"Di kantin kan ada jualan pulpen. Harus banget keluar sekolah gitu?! "


"Di kantin habis bu Pulpen nya,  kalo enggak percaya tanya deh sama bu kantin. " Hasan menyahuti.


"Terus kenapa lompat pagar?! Kenapa enggak dari Gerbang aja! "


"Gerbang Depan jauh buk. Lebih dekat lompat pagar. " Sahut Riyan,  menundukkan kepala nya sopan.


"Alasan!  Alasan!  Dan Alasan yang kalian berikan!  Kalian ini benar - benar yah!! Udah,  sekarang Kalian Hormat bendera,  kepala saya udah sakit. "


"Iyah buk,  mending ibu balik ke kelas duduk. Takut nya tekanan darah ibu naik. " peringat Arfen perhatian.


"Yah ini semua karna kalian kan!!! Sebagai hukuman pulang sekolah Nanti,  kalian keruangan saya!  Bersihkan Ruangan saya sampai benar - benar bersih!! "


"Lah buk?  Thifa calon mamah nya anak - anak saya balik sama siapa buk? "


"Dua udah besar. Bisa pulang sendiri!!! "


***


Thifa duduk manis di halte bus yang sepi,  menatap rintik gerimis di hadapan nya. Yah,  Pulang sekolah Thifa tak lagi bersama Arfen,  tentu karna Ari melarang. Thifa menghela napas kasar,  sembari menggosok kan kedua tangan nya,  karna merasa dingin.

__ADS_1


Ia mulai berfantasy,  seandainya Arfen datang dan memberikan nya Jaket. Hump!!  Itu hanya Fantasy,  karna faktanya Arfen tengah di hukum di sekolah.


Thifa menyipitkan matanya,  ketika ia melihat Ada mobil hitam yang mengarah pada nya. Thifa mencoba menerka,  mungkin kah itu supir papah nya?


"Cepat Tangkap Perempuan itu!! " titah seseorang,  ada beberapa pria yang kemudian menangkap Thifa. Mereka memberikan Parfum yang dapat membuat Pingsan.


Gadis mungil itu pingsan seketika,  gadis mungil itu di bawa dengan mobil hitam nya.


"Non Aurel,  Perempuan ini udah kami culik. " lapor supir itu,  yang kini tengah berbicara dengan bos nya. Aurel Kasiana?


"Bagus! Kalian sekap dia dulu di gudang bekas Minyak itu!  Terus,  Tunggu sampai ada aba - aba dari gue!  Kalian jual perempuan itu biar dia jadi budak!! " titah Aurel,  gadis manja itu memiliki banyak uang. Ia juga lebih berkuasa dari Thifa,  membuat nya bersikap semakin semena - mena.


"Siap Non. Bayaran kami aman kan? "


"Tenang. Bayaran kalian aman dan terjamin!  Selesaikan tugas kalian! "


Tut


Aurel mematikan telpon nya. Ua tersenyum menyeringai puas. Puas sekali rasanya,  jika penghalang pemersatu nya dan Arfen sirna.


Ada perasaan Racau di hati Aurel juga. Di satu sudut hati nya,  ia merasa ragu dan tidak enak. Aurel kembali menelpon penculik itu.


"Kalian,  jangan sampai sentuh dia!! Pokok nya gak boleh sentuh!! " Titah Aurel lagi. Ia juga tidak tau kenapa ia mengatakan hal itu. Yang jelas,  setelah mengatakan hal itu. Dia merasa jauh lebih baik.


"Baik Nona muda! "


Penculik itu mematikan Telpon nya dan mulai menjalan kan Mobil nya.


***


"Lo balik sama siapa?" tanya Nando,  yang berjalan di sebelah Raisa.


Raisa berjalan menjauh dari Nando dengan jarak satu meter.

__ADS_1


"Jauh dong. Masa musuh deketan,  kan ga lucu. " Sahut Raisa menatap santai Nando..


Kesal,  iyah. Geram,  tentu. Itulah yang selalu Nando rasakan saat dia berbicara dengan Raisa.


"Lo balik sama siapa?! " tanya Nando lagi.


"Yang jelas enggak bareng elo dong. Kita kan musuh."


"Musuh apa maksud lo?!  Apa?! " Pekik Nando. Ia sudah terlalu geram dengan ucapan Raisa. Entah kenapa,  di satu sudut hati Nando,  ia tak suka Raisa mengganggu dirinya 'Musuh'.


"Jangan pikir Gue gak tau. Elo anak nya Stiven Taerin kan? Yang perusahaan nya di lumpuhkan oleh Keluarga Wijaya dan Arkasa. Dan jelas niat nya gak bakal damai sama gue?! " Pekik Raisa. Gadis manis itu paling tidak suka dengan wajah palsu.


"Iyah,  gue emang Fernando Taerin. Dan emang bakal balas dendam ke keluarga elo. Puas?!! "


Raisa mengedikkan bahu nya. Ia mempercepat langkah nya meninggal kan Nando di sana.


Nando diam membatu,  ia tidak tau rasa sesak di dada nya datang dari mana? Dan karna apa?


Tring!  Tring!


Ponsel Nando berbunyi,  itu mengacaukan lamunan cowok jangkung itu.


"Nando,  Kamu antar Thifa pulang dulu yah. Supir om gak bisa jemput. " Nando kenal dengan suara di ujung Telpon sana. Yah dia adalah Aritian Kanneira.


"Oh iyah Om. Saya bakal balik bareng Thifa. "


Nando memutus panggilan Telpon nya.


Kenapa?!  Kenapa Gue malah lupain Thifa?! Dan mentingin cewek jutek itu! ? ! Tujuan Utama Gue masuk sekolah ini tuh buat deketin Thifa?!  Buat dapetin balik hatinya?!!


Batin Nando, terkadang logika dan Hati nya tidak sejalur.


***

__ADS_1


Nextttt???


Lanjutttt??


__ADS_2