
***
Cewek ini batin apaan sih! Sampai gitu banget! Ngiler lagi! Lo kata gue makanan yang lagi di sediain!
Umpat Riyan. Dia merasa Aneh saat melihat gadis salah kamar itu menatapnya dengan tatapan berselera.
"Hei! Gue tau lo ceroboh! Tapi! Bisa enggak jangan natap gue gitu! Iler lo tuh, elap! Kayak bocah aja! " kata Riyan Sarkas.
Jangan salahkan Riyan. Habisnya, Ekspresi Vania benar - benar aneh. Ingin seklao rasanya Arfen menabok muka itu.
"Nih Om, Piring Buah dan Pisaunya. Kalau Om Hilap. Pakai pisau nya buat ngiris tangan boleh. " Celetuk Vania santai. Memang hobinya gangguin orang.
Riyan memilih mengabaikan celotehan gadis ini.
"Kupas Buah nya! " Titah Riyan. Seakan - akan Vania adalah pelayan nya, yang akan menurut jika di suruh apapun.
"Ogah! Aku manusia enggak pelayan! Meski Om Ganteng. Tapi, yah Aku enggak mau jadi pelayan. Tapi, kalau jadi istri. Boleh dipertimbangkan. " Sahut Vania enteng. Seakan perkataan nya itu lumrah - lumrah saja.
"Nikah pala mu! Masih bocah juga! " Riyan menjitak pelan kepala Vania.
"Ehh, Vania udah 13 tahun loh. Dan yang paling penting Vania Cantik. " Sahut Vania, sembari mengupas kulit mangga itu.
"Terus kenapa manggil Gue om? Gue ini cuma beda Empat Tahun dari lo! Panggil gue kakak! Gue gak setua itu! Gue masih 17 tahun! " Ketus Riyan. Ia sendiri bingung. Bagaimana mungkin dia bisa se kesal itu menghadapi bocah ini.
"Lah masih 17 tahun? Vania pikir udah 27. Soalnya muka om kelihatan Sepuluh tahun lebih tua. "
Riyan mengepalkan tangan nya kuat. Jika bukan karena Gadis di hadapannya masih kecil. Riyan mungkin sudah mengkerik tipis tulang gadis ini.
"Panggil Gue kakak! "
__ADS_1
"Enggak! Kakak?! Entar di kira Aku. Umur 23 dong, manggil kakak sama orang umur 27."
"Mending lo keluar deh. Males gue liat lo. "
"Oh? Oke. Dah om Ganteng. Jangan patah hati terus yah. Kedengeran soalnya dari Kamar sebelah. " Gadis itu berlari kecil ke arah pintu.
"Keluar!! " Teriak Riyan dengan nada tinggi. Sebenarnya ini bukan kali pertama Riyan meninggikan suaranya pada orang tua, Cewek fanatiknya, Atau bahkan anak Seusia Vania yang meminta foto. Dan yah, Vania salah satu dari mereka semua. Karna kali ini Riyan meninggikan suaranya di depan Vania.
"Om itu ganteng. Cuman karna Galak, jadi jelek. Pantes Aja kakak itu milih yang lain. Om Galak sih! " Ledek Vania, menarik kulit bawah matanya menjulurkan lidahnya. Berusaha membuat wajah sejelek mungkin.
Brukkk!!!
Riyan tidak peduli jika Vania masih anak - anak. Riyan melemparkan botol mineral yang berisi air tinggal setengah itu ke arah Vania. Namun, sayang. Botol itu malah menatap pintu karna Vania berhasil kabur.
Brukhhh!!
Vania seperti nya menabrak seseorang.
"Lo gak papa? " tanya cowok itu mengulurkan tangan nya. Yah dia adalah Arfenik Arkasa.
Malaikat Ganteng? Anak ini lucu juga. Harusnya Thifa dan yang lainnya contoh anak ini. Dia sadar, siapa orang ganteng yang sesungguhnya.
Batin Arfen membantu bangun nya Vania.
"Makasih yah Kak. Huh, " Vania menghela napasnya lega.
"Iyah sama - sama. Oh yah, elo siapa? Kenapa baru keluar dari ruangan Teman kakak? "
"Jadi tadi, Aku tuh salah ruangan. Mamah papah aku yang baru kecelakaan Dua hari yang lalu ada di ruangan sebelah. Ruang 73. Karna kurang hati - hati. Jadinya, aku salah ruangan. Dan masuk ke sini. "
__ADS_1
"Oh? Semoga orang tua kamu cepat sembuh yah. "
"Makasih kak. Btw, Kakak kok mau sih temenan sama Om galak di dalam. Iyah sih, mukanya gantenf memang. Bagus juga buat bagusin keturunan. Tapi, galaknya itu loh. Buat Naik darah! " Omel Vania. Arfen terkekeh geli. Khususnya saat Vania mengatakan kata Om..
"Om itu baik kok. Cuman, lagi ada masalah aja. "
"Vania!! Sini kamu! " panggil kakeknya, Vania segera menyusul kakeknya. Sembari beberapa kali melambai pada Arfen.
Kakak itu ganteng. Tapi, masih seru ganggu kakak yang di dalam. Haha
-
-
-
Arfen membuka pintu kamar rumah sakit.
"Ngapain sih lo kesini lagi! Kan udah gue usir! Apa minta gue tendang! " Omel Riyan, tanpa melihat ke arah pintu siapa yang datang.
Nah lo curut cilik, mau minta maaf kan ke gue. Okeh. Gue bakal maafin kalo lo tulus minta maafnya.
Batin Riyan, ia menyunggingkan senyum miring, menandakan kemenangan nya.
"Owalah Yan! Sama bocah imut gitu perhitungan. Udah lah, dia kan juga cuma salah kamar. Kenapa lo marah gitu. " Gelak Arfen. Ia tidak tau kalau Riyan bisa memiliki sisi seperti itu.
"Imut dari mana?! Kayak dedemit sih iya! Apalagi mulutnya itu! "
"Yang manggil elo Om? "
__ADS_1
Riyan tidak menjawab. Dia kesal, arhg? Entah lah.
***