
***
"Mimpi itu malam? Bukan siang! Aku enggak bakal biarin anda menyakiti Raisa!! Karna Raisa sahabat saya. Akh, anda itu bodoh dan tak tahu malu. Mana mungkin mengerti defenisi dari kata Sahabat!! " Bela Thifa menatap mengancam ke retina Stiven. Emosi nya akan rasa sakit papah nya nanti, meluap saat ini. Yah, Thifa harus membalaskan pengkhianatan ini bukan?
"Diam kau! Kalian jaga mereka dengan baik! Jangan sampai mereka kabur begitu saja! " titah Stiven, ia melenggang pergi begitu saja. Takutnta, jika Stiven lebih lama disana maka dia akan semakin gila.
Perkataan Dua gadis kecil ini tak mampu diimbangi oleh Stiven. Mulut Thifa dan Raisa memang berbisa.
***
"Stiven! Aku butuh bantuan mu! Bantu aku untuk mencari putri ku. Aku yakin Thifa masih hidup. Kerahkan orang - orang mu untuk mencarinya! " Kata seseorang di sebrang Telepon.
Stiven kenal betul siapa pria yang tengah berbicara dengan emosi di ujung sana. Yah dia adalah Ari, salah satu pion dengan cap sahabatnya.
"Apa? Thifa masih hidup? Kau yakin Ari? " Tanya Stiven memastikan?
"Iyah, si bocah Arkasa itu ada buktinya. Mereka di culik oleh orang lain lagi. Stiven! Bantu aku mencarinya! "
"Baiklah, Thifa sudah ku anggap seperti putri ku sendiri. Aku pasti akan membantu mu mencarinya. Aku akan mengerahkan orang - orang ku untuk mencarinya!! "
"Terima Kasih Stiven. Kau memang sahabat ku. "
***
Hari sudah gelap, Arfen dan Riyan memutuskan untuk tetap mencari Thifa dan Raisa. Gelap bukan halangan untuk mereka.
"Fen, ini kita masih terusin nyari Raisa kan? Gue gak perduli gelap. Pokoknya kita harus nyari Raisa sampai dapat. " Ujar Riyan yang tentu sangat di setujui oleh Arfen.
"Elo tenang aja. Gelap nya malam bukan seberapa sama gelap nya hidup gue sekarang. Terang nya Matahari juga belum seberapa dengan terang nya cahaya Thifa di hidup gue. Makanya, gue bakal temukan Thfia. Kayak malam yang akan menemukan matahari nya! " yakin Arfen. Ia tidak bisa menyerah begitu saja untuk mencari calon istrinya.
__ADS_1
Thifa gak ketemu, gue gak akan pernah nikah! ini karma buat dunia! karna Thifa gak ketemu. stok manusia tertampan enggak akan berlanjut kalo gak ada Thifa!
Batin Arfen. Satu - satunya perempuan yang Arfen ingin nikahi adalah Thifa.
***
Nando memutuskan kembali ke Rumah nya. Ia merasa lelah dan tidak tenang. Entah kenapa Nando juga ingin kembali ke rumah.
Setelah usai mandi, ia melihat bintang - bintang yang sangat terang. Se akan mengejek dirinya yang tengah berduka.
Nando kembali mengingat wajah Thifa dan Raisa.
Sebenarnya siapa yang gue cintai dengan tulus di antara kalian? Raisa atau Thifa?
Batin Nando, matanya sendu menatap langit yang gelap.
Matanya terarah ke bawah, di halaman belakang yang menyajikan banyak bunga indah bermekaran.
Batin Raisa, saat melihat bayangan Nando di balkon sana. Hanya bermodal kan lubang kecil Raisa bisa melihat Nando.
"Thifa? Liat tuh ada Nando di balkon sana. " kata Raisa, berusaha menunjuk nya.
"Iyah itu Nando. Berarti kita ini ada di kawasan Rumah Nando. Bagus! Kita bisa minta tolong sama dia aja Sa! " sahut Thifa antusias. Secercah harapan mulai terlihat.
"Kalo Nando ada di pihak kita sih bagus. Kalo dia ada di pihak papah nya gimana? " Kata Raisa. Jangan salahkan Raisa yang menuduh Nando. Raisa putri nya Rei, dia memiliki bakat ekstra kewaspadaan yang tinggi.
"Enggak Sa! Gue yakin Nando gak gitu orang nya! Meskipun papah nya jahat! Nando enggak! Nando bukan keturunan Stiven! Gue yakin Nando gak jahat! " kekeuh Thifa.
"Maksud lo, Nando gak ada hubungannya sama penculikan ini? Tunggu... Gue pernah dengar Nando anggap gue musuh. Mungkin aja kan dia emang kerjasama sama bokap nya. Kita gak akan pernah tau Thif! " yakin Raisa. Mana ada orang yang akan menolong musuh nya, kan?
__ADS_1
"Mungkin dia musuh bagi elo Sa! Tapi, dia itu sahabat buat gue! "
"Lo lupa? Bokap lo juga bilang Stiven sahabat dia. Nyatanya? Stiven anggap bokap elo apa? Cuma pion Thif. Kita enggak tau, apakah Nando beneran anggap lo sahabat. Atau pion yang bakal di manfaafin semata. " peringat Raisa.
Deg.
Ada rasa sesak di hati Thifa. Kenapa dia selalu saja di hadapkan oleh Pengkhianatan?
Apa yang Raisa bilang bener juga. Gue gak tau pasti Nando ada di pihak siapa.
Batin Thfia, ia langsung diam membeku.
***
Nando menghirup napas segar dari tumbuhan halaman belakang. Yah, di sinilah Nando di halaman belakang rumah nya.
Nando mengedarkan pandangan nya.
Kenapa ada penjaga di depan gudang?
Batin nya, saat pandangan matanya terarah pada Gudang yang di jaga oleh dua orang suruhan papah nya.
Ada yang gak beres! Gue mesti lihat ke dalam gudang!
Pikir nya, ia mulai berjalan mengendap, ke arah samping gudang. Yap, Nando mendapatkan celah untuk dia mengintip apa yang ada di dalam gudang, hingga harus di jaga oleh suruhan pribadi papah nya?
Thifa? Raisa??
***
__ADS_1
Nexttt??
Lanjuuttt??