My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
S2 Episode 21


__ADS_3

***


Sudah Sebulan berlalu sejak perkemahan hari itu, Dan selama sebulan ini Thifa dan yang lainnya fokus berlatih Voli, tentu untuk memenangkan pertandingan melawan SMA HARAPAN.


Besok pagi pertandingan itu sudah di mulai, dan di adakan di Sekolah Harapan.


Thifa menghela napas panjang, menatap Ikan yang ada di wadah itu. Kali ini Thifa benar - benar gugup. Dia memang suka bermain voli, tapi dia tidak begitu berbakat. Mau bagaimana lagi, ini sudah tanggung jawab nya.


Tring! Tring!


Bunyi ponsel dari sebelah Thifa, dia mengambil dan membukanya. Sungguh sangat terduga! Itu pesan WA dari Arfen.


Arfen pshyco:


Assalamualaikum Yank? Udah tidur? Belum lah yah? Udah belumin aja.


Thifa:


Ha? Apa?


Arfen pshyco :


Gue enggak ada kerjaan jadinya nge chatt elo deh :D


Thifa :


Oh, jadi cuma karna enggak ada kerjaan makanya chatt gue. Kalo ada, lo gak mau chatt gue kan. Dengan kata lain, gue cuma penghibur di kala lo senggang. :')


Arfen pshyco :


Kok jadi gini sih?


Tapi emang sih iyah, gue hubungi lo karna gue punya waktu luang. Dan waktu luang yang gue habisin sama lo, lebih banyak dan berharga daripada waktu luang buat hidup gue sendiri. Dengan kata lain, Lo itu Everything :')

__ADS_1


Thifa mengernyitkan dahinya heran. Thifa pikir dia berhasil menyudutkan si Raja gombal. Tapi, itu adalah Arfen. Pabriknya gombalan, baik yang receh maupun yang mahal. Di situasi apapun, masih bisa tetap ngegombal. Sebenarnya yang perlu ditanyakan adalah, Anak itu dapat inspirasi gombalan darimana? Enggak ada habisnya? Begitulah pikir Thifa kira - kira.


Thifa:


T E R S E R A H


Arfen pshyco :


Kenapa sih cewek kalo ngambek jawab nya Terserah. Heran gue, sumpah.


Lagi, Thifa lagi lagi diam. Untuk pertanyaan ini, Thifa pun tidak tau jawabannya. Yang Thifa tau, entah kenapa mengatakan terserah saat ngambek itu jauh lebih menyenangkan dibanding menjelaskannya. Dan menurutnya kata Terserah itu lebih efisien di gunakan.


Arfen pshyco :


Hey! Owalah, malah di read aja.


Thifa :


Arfen pshyco :


Eh Sayang, Gue lagi di Balkon nih. Liat bintang, malam ini cantik banget. Coba deh lo keluar liat dari Balkon.


Thifa :


Enggak deh, Soalnya lo agak gak normal. Cantiknya di mata lo, Bisa aneh di mata orang. :v


Thifa tersenyum, Ia mengatakan tidak. Namun langkah kakinya malah mengiringnya mendekati Balkon kamarnya, dan dia menatap langit dengan bintang yang bertaburan di sana. Kali ini Thifa mulai yakin, Arfen agak normal. Kayaknya masih bisa di sembuhin.


Gadis mungil itu tersenyum manis, matanya tak berkedip memandangi bintang bintang indah di angkasa.


"Cantik, Fyuhhhh~ Akhirnya gue bisa lebih tenang. Tapi, bintang - bintang ini cantik banget. Gue fotoin aja? " Gumam Thifa ingin memoto langitnya.


"Kan? Apa gue bilang? Langit nya cantik kan, ada bintangnya soalnya. Lo sih, enggak percaya. Perkataan orang ganteng gitu loh~"

__ADS_1


Tiba - tiba dari belakang Thifa ada sebuah suara. Suara familiar yang menggema di telinganya. Thifa kenal jelas suara itu. Arfenik Arkasa!


Karna terkejut, Thifa hampir menjatuhkan Hp nya, syukur ada Arfen yang sigap menangkap Hp itu. Hingga Hp itu terselamatkan.


"Santai aja kali, Gue malam ini datang cuma berkunjung. Enggak bawak lari lo, tapi ada kemungkinan kedapannya gue bakal nyulik lo. " Kata Arfen enteng seraya memberikan Hp Thifa kembali pada pemiliknya.


"Lo kok bisa di sini sih Fen?! Lo ngapain di sini?!! " pekik Thifa terkejut setengah mati. Oke, itu wajar kan?


"oh itu, gue cuma mau ngucapin selamat malam. " sahut nya enteng tanpa beban.


"Iyah tapi kan bisa lewat telpon. Enggak perlu lah lo datang malam - malam udah kayak kuntilanak! Zaman udah canggih Fen, lo bisa gunain Hp lo! " Heran Thifa tak percaya.


"Tapi dari Hp gak puas, gak bisa liat wajah lo langsung. Gak bisa dengar suara lo dengan jelas. "


"Serah lo serah! Tapi, lo bilang lo lagi di Balkon rumah lo. Sekarang kenapa di rumah gue?!! "


"Gue gak pernah bilang tuh balkon rumah gue. Gue kan cuma bilang di Balkon. Lagian Thif, Gue beneran gak bisa tidur kalo belom liat muka lo yang unyu - unyu. Enggak enak juga Video Call."


"Kenapa Video Call gak enak?! Manfaatin teknologi dengan baik kek?! "


Chupp!


Arfen mengecup lembut kening Thifa.


"Video Call gak bisa gini. Oh yah, lupa gue. Tujuan utama gue kan bilang, Selamat malam sayang. Selamat tidur tenang, mimpiin gue biar indah. Karna semua yang indah itu selalu berhubungan sama Arfen yang ganteng. "


Cowok tengil itu dengan usaha nya, akhirnya menuruni Balkon lantai dua milik kekasih nya.


Thifa menarik panjang napasnya.


Ini enggak wajar buat manusia Normal naik ke Balkon kamar cewek nya cuma demi ngucapin selamat malam. Tapi, dia ini Arfen. Kewarasan nya ada batasnya. Wajar, dengan kegilaan yang mengendap di otaknya, dia melakukan ini.


Batin Thifa mengerti. Seperti nya Thifa sudah benar - benar mentolelir setengah ketidakwarasan cowok tengil nya.

__ADS_1


__ADS_2