My Special Boyfriend

My Special Boyfriend
Episode 56


__ADS_3

***


Gue kasih tau Arfen dulu. Yah,  dia harus tau.


Batin Raisa,  mengendarai mobil hitam milik nya. Ia. Mencoba menelpon Arfen. Guna membagi kabar bahagia ini.


What? ! Anak itu lagi Telpon sama siapa sih?!  Kenapa berada di panggilan lain?! Yah udah deh,  gue sendirian aja kesana. Lagian kan,  cuma bebasin Thifa.


Batin Raisa melemparkan Hp nya ke bangku kosong belakang.


***


Thifa?!  Akhirnya gue nemuin elo!  Gue harap informasi Aurel bener!  Thifa!  Gue rindu elo!  Sayang elo! Jangan tinggalin gue! Jangan jadi kenapa - napa sama elo.


Batin Arfen,  mulai melajukan kecepatan mobilnya. Sangat laju,  tentu karna Arfen yang ingin sekali melihat Thifa.


Gua harus bagi alamat ini ke mereka semua.


***


Raisa berlarian kencang,  setelah ia memarkirkan mobil nya.


Go! Go!  Go!


Ayo cepat!!


Mata Raisa tak percaya dengan apa yang di lihat nya saat ini. Kaki nya ia langkah kan perlahan,  sembari terus memastikan.


Itu beneran Thifa?  Thifa yang di ikat di kursi? Keadaan nya kok parah?


Batin Raisa. Ia tak habis pikir dengan penampilan Raisa saat ini. Seluruh rambut nya menutupi wajah nya. Rambut nya acak dan tak terurus.


"Thif? Thifa?! Thifa!  Itu elo kan?!" Tanya Raisa memastikan. Masih jaga jarak dengan orang itu. Mungkin aja itu bukan Thifa.

__ADS_1


Raisa berjalan mendekat,  tak ada jawaban dari Thifa.


Apa dia pingsan?


Raisa terus berjalan mendekati Thifa. Dan. Saat Raisa berada tepat di hadapan gadis itu. Raisa menyibakkan lembut rambut nya.


Ini emang Thifa? Pingsan?


Raisa mencoba membuka kain yang memaksa Thifa untuk terus diam.


"Thif? Thifa? Thifa?? " panggil Raisa,  yang sesekali menepuk wajah Thifa.


Thifa perlahan membuka matanya. Wajah nya lesu. Ia tidak bisa sadar sepenuhnya. Ia tidak begitu jelas, melihat orang di hadapan nya ini. Yang ia tahu,  perempuan di hadapan nya. Terus saja memangggil nya.


"Siapa? " Lirih Thifa pelan. Masih dengan memfokuskan pandangan nya.


"Ini Gue Raisa!  Sadar hei! " Raisa mengernyitkan dahi nya heran.


"Arfen di mana? " tanya Thifa lagi saat tak mendapati pahlawan nya ada di sana.


"Arfen kayak nya enggak kesini. Soal nya gue dapet info lo di sini dari seseorang. Gue udah mau kasih tau Arfen di mana elo. Waktu gue jalan kesini. Tapi,  Dia ada di panggilan lain. Paling juga Nelpon bawahan dia. " Terang Raisa membuka kan ikatan di tangan Thifa.


"Bawahan?  Maksud lo Sa? " kini Thifa lah yang bingung.


"Yah soal nya,  waktu bokap lo bilang lo hilang,  gak balik ke rumah. Langsung tuh Arfen kerahkan bawahan - bawahan pribadi nya nyari elo. Begitu juga bawahan bokap gue,  sama orang - orang nya om Nathan. Semuanya. Pada sibuk nyariin elo. " Terang Raisa lagi yang kini berusaha membuka ikatan di kaki Thifa.


"Maaf...  Maafin gue. Maafin karna gue udah buat Repot kalian semua. Maaf Sa. " Lirih Thifa tertunduk di hadapan Raisa.


"Jangan minta maaaf ke gue. Minta maaf nya ke Arfen. Soal nya dia yang udah kayak orang gila nyariin elo pagi siang malam. Untung lo Sekarang ini ketemu. Kalau aja lo ilang sampai seminggu. Fix,  Arfen bisa gila. " Canda Raisa membuka  jaket nya untuk Di pakaikan pada Thifa yang kacau.


"Thanks yah Sa sekali lagi. " Thifa memakai jaket nya Raisa.


"Udah lah,  Yuk Jalan. Mobil gue di parkiran. " Raisa mengikat rambut nya,  dengan Jedai yang selalu di pakainya.

__ADS_1


"Berhenti! Kalian mau kemana? Mau keluar dari sini? " Tanya suara itu. Thifa mendongak kan pandangan nya. Dan,  ia sangat terkejut.


"Raisa... " lirih Thifa.


Raisa juga terkesiap kaget. Kini mereka di kelilingi oleh beberapa orang berpakaian serba hitam. Bertopi  hitam dan masker.


"Apa mau kalian? " Pekik Thifa.


"Haha. Target sudah masuk ke jebakan. Rencana berhasil. Kalian ayo cepat tangkap mereka berdua. Mereka berdua adalah target tuan kita. " Katanya lagi,  tanpa memperdulikan pekikan Thifa.


Target masuk jebakan? maksud nya gue? Sial! pantas aja di depan gak ada pengawal atau penjaga?! pantas di biarin kosong! kenapa gue baru nyadar nya sekarnag sih! bodoh!


umpat Raisa dalam hati. ia mengutuki dirinya yang ceroboh.


"Mau apa kalian??! Siapa sebenarnya kalian?! Apa motif kalian nyulik kami?! " Pekik Thifa lagi. Raisa sendiri masih fokus dalam pikiran nya. Apakah dia mampu mengalahkan mereka seorang diri?


"Kami tidak tau. Yang kami tau,  kami di tugaskan untuk membawa kalian hidup - hidup. "


Siapa yang niat nyulik gue sama Thifa?! apa ini Aurel?! apa Aurel mau bungkam mulut gue?!


"Apakah ini perintah Aurel?! " Pekik Raisa,  yang hanya bisa menyimpulkan bahwa pelaku nya adalah gadis bodoh itu.


"Jika kau ikut dengan kami. Maka, Kau akan bertemu dengan sang penculik Asli. Jadi, Tangkap mereka!! " Titah seseorang itu. Yang bisa di anggap sebagai para pemimpin nya orang - orang di sana.


Apa ini? Apa Gue masuk dalam jebakan kurang ajar nya Aurel!  Shit!  Harusnya gue jambak dia lebih kuat.


Batin Raisa merutuki keteledoran nya.


***


Nexttt??


Lanjuuttt??

__ADS_1


__ADS_2