
***
SpesialĀ Riyan POV
(Spesial di sini, Riyan pake "Aku" yah)
Aku Riyan Adijaya, Hari ini adalah hari kami bertanding dengan SMA SWASTA HARAPAN. Awalnya aku ingin pergi dengan Arfen, tapi aku undurkan lagi. Itu karena bocah rese yang satu itu. Shit! Sepanjang malam hanya ada bayangan gadis itu, dan namanya yang terngiang di kepala ku. Fokus ku tidak lagi ada pada lomba. Semuanya hanya tentang Vania, Vania, dan Vania.
Bahkan, sangking parahnya sindrom Vania yang kuderita. Aku sering bermimpi tentang Vania. Paling sering, mimpi menikah dengan nya. Aku yakin, ini pertanda bahwa kami memang akan menikah suatu saat nanti.
Pagi ini aku memutuskan untuk mengantar Vania. Vania keyland, Dia sekarang Yatim piatu. Dia hanya tinggal dengan kakek nya.
Aku menuruni mobil ku, saat sudah sampai di halaman rumahnya.
"Om Galak! Hai hai hai! " Sapa Gadis mungil itu padaku. Om Galak?! Cih! Aku agak risih mendengar nya, tapi entah kenapa jika dia yang mengatakannnya aku cukup senang. Dia memiliki panggilan khusus untuk ku.
Ternyata dia memang sudah menunggu ku.
"Mana Kakek lo? " tanya ku, saat tak mendapati adanya kakek nya. Kakek yang biasanya ada di sana bersama dengan Vania menunggu ku.
"Udah pergi kerja om, Ayolah antat Vania ke sekolah. Buruan. Entar Vania telat. " rengeknya. Terlihat sangat memanjakan mata. Aku benar - benar ingin mengambil ponsel ku, lalu merekam wajah imutnya itu. Agar aku bisa melihat nya setiap malam. Sebelum tidur. Hen, di banding dengan hanha foto dan Vidio. Akan lebih baik jika orang nya langsung yang menemani aku tidur kan?
Tanpa izin ku, Bocah itu sudah langsung masuk ke mobil ku. Aku juga mengikuti nya, dan mulai menjalankan mobil ku.
__ADS_1
"Om kenapa sih Dingin banget. Kayak es batu ada di kulkas seminggu. " Ujar nya membuka pembicaraan.
Deg!
Rasanya jantung ku berhenti berdegub. Bagaimana mungkin?! Apa aku memang benar - benar terlihat sedingin itu?! Maksudku, apa bocah rese ini akan menjauhi ku sekarang?! Tidak! Itu enggak boleh terjadi! Vania hanya boleh di dekat ku!
"Terus, kenapa? " Sahut ku singkat. Sial! Aku juga bingung, entah kenapa aku tidak bisa tersenyum hangat di depan bocah ini. Arghh, bahkan di depan Siapapun aku jarang tersenyum.
"Hadeuh, Om ini. Jangan - jangan om Galak, enggak tau cara senyum yah. Hufft! Sini deh biar Vania yang kasih tau. "
Aku mengernyit heran menatap gadis yang sudah menggembungkan pipinya. Sangat menggemaskan.
Tiba - tiba dia mengulurkan tangan nya ke wajah ku, dan mulai menarik kedua sudut bibir ku. Aku bisa merasakannya, tangan nya mulus dan lembut.
"Nah, gini dong om. Smile~" Lanjutnya, sambil tersenyum padaku. Uhhh! Manis sekali! Apakah aku akan terkena diabetes nantinya, jika menikah dengan bocah ini.
"Senyum dong om, "
Aku menghela napas, dan bersusah payah untuk tersenyum di depan nya.
"Eh enggak usah deh Om. Kalo om senyum, semakin nyeremin. Udah kayak Om om jahat penculik anak - anak. Anak SD maksud ku. "
Aku mengumpat dalam hati. Bocah ini! Beraninya dia mempermainkan ku! Dia memaksa ku untuk tersenyum. Setelah aku tersenyum, dia mulai mengejek ku. Humph! Kau akan rasakan akibatnya bermain dengan Riyan Adijaya.
__ADS_1
Aku memberhentikan mobil ku di pinggiran.
"Oh, gue kan emang om yang jahat. Bedanya, gue gak nyulik anak SD. Gue nyulik anak SMP, yang sekarang kelas Sembilan. " Kata ku dengan wajah menyeringai.
Aku tersenyum puas melihat, ekspresi bocah mungil ini yang ketakukan. Hampir sama seperti kelinci yang tersudut.
Bukhhhh!!!
"Huffttt! Om ini! Terserah orang mau bilang Om penjahat sih. Tapi, buat Vania om itu hero nya. "
Sial! Agak gak nyambung, maklum, efek masih bocah. tapi entah kenapa aku nge fly dengan kata - katanya. Bernaninya bocah rese itu menggombali aku! Dan payah nya, kenapa aku termakan dengan kata - katanya!
Aku menghela napas kasar. Melanjutkan perjalanan dengan mobil ku. Tentu Vania tidak akan diam selama perjalanan. Dia selalu saja mengoceh, dari hal - hal yang berguna, sampai yang unfaedah.
Setengah jam berlalu, Kami pun sampai di Gerbang sekolah Vania.
"Makasih om Galak. " Katanya ingin membuka pintu. Entah kenapa dia malah berbalik. Dan
Chupp
Secara tiba - tiba Vania malah mengecup pipi ku! Sial! Jantung ku berdegub sangat kencang. Benar - benar mendebarkan. Hari ini hari apa? Rabu, 13 Oktober, Pukul 6 lewat 46 menit, 23 detik. Aku akan mengingat hari bersejarah ini. Detik - detik ini.
"Hey bo--"
__ADS_1
Aku memghentikan ucapan ku, saat aku melihat pipinya mulai me merah. Apa dia merona? Malu?
***