
***
Sudah satu minggu sejak terjadinya tragedi penculikan itu. Kini semuanya kembali damai di SMA Merah Putih. Begitu juga Nando yang masih tetap bersekolah di sana. Dan hanya tidak lengkap karna tidak adanya Riyan di sana. Akibat baku tembak itu, Riyan harus di rawat di rumah sakit setidak nya selama sebulan atau lebih.
Dan juga, seperti nya Arfen memang mendapatkan restu Ari. Ari mengijinkan Arfen kembali mengantar jemput Thifa. Bahkan Ari juga setuju, jika Arfen sering main ke rumah.
"Assalamualaikum Om, Tante, Thifa nya udah selesai? " Tanya Arfen yang baru masuk. Mencium lembut punggung tangan calon mamah mertuanya. Di lanjutkan mencium punggung tangan Ari.
Ari kembali membaca koran nya, dengan Layla yang ada di sebelah nya.
"Thifa baru selesai sarapan nak. Ada di kamarnya. Bentar lagi juga turun. " Sahut Layla lembut. Khas seorang ibu, dan mamah mertua yang welcome akan calon menantunya.
"Oh yah, kamu cinta kan sama anak saya? Siap untuk jadi suami dia yang baik? " tanya Ari Sarkas. Entah apa yang merasuki Ari, ia tiba - tiba bertanya soal hubungan suami istri. Mereka bahkan masih SMA.
"Iyah om saya cinta, dan saya janji akan jadi suami yang baik. "
"Terus kenapa masih manggil saya om? Apa kamu tetep akan manggil om dan tante. Sama papah dan mamah mertua mu?" pekik halus Ari.
Arfen tersenyum gagu. Apa dia bermimpi? Ari menyuruh nya memanggil papah.
"Pah, mah! Arfen udah datang? " teriak Thifa menuruni tangganya.
"Iyah nih, calon suami kamu udah nungguin katanya. " sahut Layla.
"Yah udah pah mah, kita pergi dulu yah. Takut ketinggalan. " Thifa mencium punggung tangan mamah dan papahnya.
__ADS_1
"Kita pergi yah --"
Ari langsung melirik Arfen cepat.
"Kita pergi yah Pah, mah, " Arfen mencium tangan papah dan mamah mertua nya.
Seriusan udah dapat restu? Kok kayaknya lebih ngeri udah dapat restu, di banding belum dapat.
-
-
-
"Thif? Yank? Bolos yuk? " Tawar Arfen menghentikan mobil nya.
***
Bel istirahat pertama telah berbunyi, Thifa Cs keluar dari kelas menuju kantin biasa. Namun, langkah mereka terhenti, mata mereka bertiga menatap akurat tiga cowok yang sekarang tengah berlari mengelilingi lapangan. Tanpa ada rasa malu sedikitpun, yang terurai dari wajah mereka.
Thifa bisa melihat, betapa tidak tau malunya Arfen yang berlari memimpin rombongan itu, melambai percaya diri, seakan - akan ia telah memenangkan piala dunia.
Yah memang meski tengah di hukum, tapi, kegantengan Arfen itu membuatnya banyak di lirik siswa lain. Khusus nya yang gendernya cewek. Bahkan ada beberapa cewek yang lebih tak tahu malu, memfoto Arfen yang tengah berlari. Alasanya untuk koleksi foto orang ganteng, biar jadi bahan haluan.
Bukan hanya Arfen, Fandri dan Hasan juga dengan tingkat kepercayaan diri yanga akut menebarkan senyuman manis mereka, pada orang - orang yang melihat mereka.
__ADS_1
Thifa Mengurut dadanya seketika, mencoba bersabar atas tingkah cowok tengil nya.
"Sumpah, Urat saraf malunya udah ganti!! " Umpat gadis mungil ini. Entah lah, dia juga bingung. Bagaimana mungkin dia bisa menyukai cowok seperti ini.
"Mereka ngapain lagi sih? Kok sampai di hukum gitu?" Tanya Melia. Anggi dan Thifa bersamaan mengangkat bahu tak tau dan tak peduli.
"Hai sayang!!! Kemana? Kantin yah? Beliin Air mineral dong! Haus nih!! " Teriak Arfen enteng. Gila! Sekarang Arfen sudah dengan sempurna menjadi pusat perhatian, di ikuti oleh Thifa juga.
"Anak ini mukanya tebel amat sih! Kemana rasa malunya?!! " Geram Thifa. Entah lah, mungkin kah Arfen memang tak punya rasa malu lagi?
Seketika kusak kusuk biskkan netizen terdengar. Ada yang bahagia mereka jadian, ada yang marah dan iri. Yah itu jelas, siapa yang tidak iri pada gadis yang bisa menaklukan hati Arfenik Arkasa. Cowok tajir dengan kegantengan yang melegenda itu. Yang menjadi dambaan nya kaum hawa.
Thifa memutar bola matajya jengau. Menghela napas berat, ia segera pergi dari sana, jika dia lebih lama di sana. Di takutkan Arfen gila akan mencelotehkan hal hal aneh, yang membuat amarah cewek seantero sekolah bangkit.
***
Gue? Kenapa?
Batin Nando, ia masih setia duduk di kursinya, menatap Halaman belakang dari jendela kelas nya. Yah, kelas Sebelas ada di lantai Dua. Pemandangan halaman belakang cukup menenangkan hati dan jiwa yang kacau. Itu karna halaman belakang memang indah.
Nando si cowok jangkung dan dingin, yang dalam sekejap saja sudah bisa terkenal di sekolah Merah Putih, karna emang wajahnya yang ganteng dan sikap nya yang dingin dan sulit berbaur. Cowok jangkung ini hanya fokus pada lamunan nya, mengabaikan segala riuh ricuh di lapangan akibat ulah gila nya Arfen, yang membuat banyak kaum hawa bersorak.
"Nando? ngapain? ngelamun? awas lo kesambet entar! "
***
__ADS_1
Nexttt??